Ilustrasi
Ilustrasi

Jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur masih terus bertambah, termasuk di Kota Surabaya.

Meski telah ditetapkan sebagai wilayah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masih terus ada kasus baru di kota pahlawan ini.

Dengan tingkat persebaran yang relatif tinggi, sayangnya jumlah warga yang menjalani rapid test atau test cepat pendeteksi Covid-19 bisa dikatakan minim.

Berdasarkan data Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, jumlah warga yang menjalani rapid test mencapai 9.773 orang.

Padahal, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) di Kota Surabaya terdapat 2,9 juta jiwa penduduk per Desember 2018 lalu.

Artinya, jika dihitung persentase warga yang mengikuti rapid test baru 0,00337 persen atau jauh dari 1 persen. 

Walau begitu, Pemkot Surabaya mengklaim terus memastikan dan memantau kondisi perkembangan warganya. 

Terutama, bagi warga yang sudah mengikuti rapid test dan hasilnya dinyatakan reaktif. 

Seperti warga di kawasan Rungkut Lor dan Rungkut Kidul yang sebelumnya sudah melakukan rapid test secara serentak.

Koordinator Bidang Pencegahan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, untuk kawasan Rungkut Lor sudah dilakukan rapid test sebanyak 176 orang. 

Dari jumlah tersebut, 74 di antaranya reaktif dan 102 orang dinyatakan negatif. 

“Jumlah tersebut khusus untuk wilayah Rungkut Lor ya,” kata Febria Rachmanita di Balai Kota Surabaya, Kamis (14/5/2020).

Sedangkan untuk wilayah Rungkut Kidul, kata dia, jumlah rapid testnya sebanyak 149 orang. 

Rinciannya adalah 70 warga berstatus negatif dan 79 lainnya lagi dinyatakan reaktif. 

Sementara itu, di wilayah Kedung Baruk, total sebanyak 149 orang yang dilakukan rapid test. Dari angka itu, 96 hasilnya negatif dan 53 orang reaktif.

“Tidak hanya itu, kita juga melakukan rapid test di Kedung Asem, jumlahnya 173 orang. Reaktif ada 61 dan negatif 112,” ungkap dia.

Perempuan yang akrab disapa Feny ini juga menyatakan, hingga hari ini total rapid test yang telah dilakukan di Kota Surabaya kurang lebih mencapai 9.773 orang. 

Menurutnya, bagi warga yang dinyatakan reaktif pihaknya segera menindaklanjuti dengan swab test.

"Tapi ada yang langsung pada saat itu juga dilakukan swab test. Ada juga yang besoknya di-swab. Tapi sekarang hasilnya belum keluar,” urainya.

Tidak hanya di permukiman warga, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya rupanya juga menggelar rapid test massal di sejumlah pasar di kota pahlawan ini. 

Seperti halnya yang sudah berlangsung beberapa hari lalu di Pasar Genteng, Pasar Simo dan Simo Gunung, serta Pasar Keputran.

“Untuk hasilnya yang Pasar Genteng total rapid-nya ada 50 yang reaktifnya ada 25 orang. Pasar Keputran ada 15 reaktif dari 50 orang,” jelasnya.

Kepala Dinkes Kota Surabaya ini pun menegaskan, pihaknya terus menerus melakukan rapid test dengan tujuan agar dapat memisahkan mana warga yang negatif dan reaktif. 

“Karena setelah reaktif, langsung kita tempatkan di hotel agar terpisahkan dari yang negatif itu sampai hasil swab-nya keluar,” paparnya.

Di samping itu, Feny menyebut, rapid test massal dilakukan agar dapat menekan angka penularan dan kurvanya mampu menurun. 

“Ini terlihat banyak ya, karena kita baru punya rapid test. Test PCRnya juga bertambah di Institute of Tropical Disease (ITD), Rumah Sakit Premiere dan Rumah Sakit Adi Husada,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya juga berharap, masyarakat tetap menjaga diri dengan meningkatkan kedisiplinannya. 

Terutama tetap menerapkan physical distancing, menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. 

“Disiplin pakai masker, menghindari gerombolan, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun, perilaku hidup bersih dan sehat harus dilaksanakan,” pungkas dia.