Suasana keriuhan Pasar Kebalen Kota Malang di tengah pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. (Foto: istimewa)
Suasana keriuhan Pasar Kebalen Kota Malang di tengah pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. (Foto: istimewa)

Kebijakan pemerintah dalam menerapkan physical distancing atau pembatasan jarak dalam beraktivitas untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 rupanya belum sepenuhnya dipatuhi masyarakat.

Di Kota Malang, hal itu malah seakan tak diindahkan. Seperti aktivitas di pasar rakyat yang hingga kini masih terpantau ramai. Bahkan, kondisinya terbilang tak jauh berbeda dengan sebelum kemunculan Covid-19.

Beberapa waktu lalu misalnya, suasana Pasar Kebalen Kota Malang yang selalu melayani pembeli sejak dini hari terpantau sangat riuh. Antara pedagang dan pembeli memenuhi kawasan jalan tanpa memperhatikan pembatasan jarak.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji merasa jengah. Bukan hanya sekali dua kali saja imbauan untuk selalu menerapkan protokol pencegahan Covid-19 bagi aktivitas di Pasar Rakyat dilakukan. 

"Pusing saya. Ini mestinya kesadaran baik kepada para pembeli ataupun pedagang. Orang kalau bisa jangan beli, ya mestinya pasar nggak akan buka," terangnya, saat dimintai keterangan di Balai Kota Malang, Senin (27/4).

Dijelaskannya, hingga saat ini pasar rakyat tidak masuk dalam pemberlakuan kebijakan pembatasan jam operasional. Sebab, tempat ini menjadi penyedia semua kebutuhan pokok masyarakat.

Hal itu juga didasari dari peraturan yang ditetapkan provinsi Jawa Timur untuk tidak memberikan larangan aktivitas di pasar rakyat. Namun, tetap harus memperhatikan jarak dan protokol pencegahan Covid-19.

"Sama halnya dengan pasar takjil, kita sudah minta untuk itu (larangan membuka) tapi dari provinsi kan tidak ada larangan. Jadi bahasanya yang penting take away. Lha rata-rata itu yang beli takjil memang take away. Sehingga kalau bisa jaraknya itu (physical distancing) diperhatikan," imbuhnya.

Lebih lanjut ia menyatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang sudah berusaha dengan maksimal dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan Covid-19. Hanya saja, memang tidak berjalan maksimal.

Menurutnya, situasi akan lain, jika nantinya Malang Raya bisa menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Karena ada regulasi dan aturannya. "Kita itu sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin (terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga jarak). Ya, nanti kalau PSBB itu baru ceritanya lain," tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Wahyu Setianto mengatakan jika upaya menerapkan physical distancing di area pasar sudah rutin dilakukan. Hanya saja memang masyarakat yang dinilai masih bandel untuk melakukan itu.

"Sudah, kami rutin setiap hari melalui kepala pasar itu istilahnya woro-woro kepada masyarakat. Kalau orang jawa bilang ya bawel, sampai masyarakat sendiri yang merasa lelah diingatkan. Tapi kan itu harus, karena masih banyak yang melanggar," ungkapnya.

Tak hanya memberikan sosialisasi physical distancing saja, di setiap area pasar juga sudah difasilitasi pencegahan Covid-19, salah satunya penyediaan alat cuci tangan untuk bisa digunakan baik oleh pedagang ataupun pembeli.