Pertugas usai melakukan merazia beberapa PMKS di Balai Kota Among Tani.
Pertugas usai melakukan merazia beberapa PMKS di Balai Kota Among Tani.

BATUTIMES - Tercatat sejak awal bulan Januari hingga awal Maret ini, Dinas Sosial Kota Batu telah menjaring 21 orang penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Alih-alih warga Kota Batu sendiri, dari jumlah itu justru didominasi dari luar Kota Batu.

Para PMKS itu datang dari Lumajang, Pasuruan, Jombang, dan Kediri. Sedangkan pada tahun 2019 silam, Dinsos Kota Batu menjaring kurang lebih 200 PMKS.

“Jumlah tersebut dari setiap tahunnya di dominasi dari luar Kota Batu semuanya. Paling yang dari Kota Batu hanya sedikit,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Rehabilitasi Sosial, Penyandang Tuna Sosial dan Advokasi, Dinsos Kota Batu Hartono.

PMKS itu rata-rata terdiri dari anjal, gelandangan, dan pengemis. Kota Batu menjadi incaran mencari uang, lantaran banyak para wisatawannya. 

“Karena itu jangan kaget jikalau saat moment liburan di Kota Batu, jumlah PMKS akan lebih banyak. Karena mereka memanfaatkan moment tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya para PMKS itu datang hanya beberapa hari saja, jika dirasa sudah cukup mendapatkan uang kemudian berpindah ke kota lainnya. “Kalau di Kota Batu dirasa cukup mereka pindah,” jelas Hartono.

Untuk saat ini langkah antisipasi yang bisa dilakukan agar PMKS tidak bertambah banyak dengan menggelar razia. Lalu mereka dikembalikan di daerah asalnya.