Dr KH Dahlan Tamrin MAg dalam Dzikir Akbar UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Dr KH Dahlan Tamrin MAg dalam Dzikir Akbar UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Tepat di Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober 2019 ini, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) melakukan berbagai peringatan. Selain menginstruksikan kepada seluruh civitas akademika untuk memakai pakaian khas ala santri, UIN Malang mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan upacara bendera.

Sore harinya, diadakan zikir akbar dalam rangka Dies Natalis ke-58 UIN Malang "Penguatan Budaya Akademik Universitas Selaras dengan Nilai-Nilai Al-Qur'an" bersama Dr KH Dahlan Tamrin MAg di Gedung Ir Soekarno.

Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg berharap, zikir akbar tersebut menandakan rasa syukur atas eksistensi UIN Malang hingga sekarang. "Ini menandakan bahwa kita bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah memberikan kepada kita semua institusi ini. Mulai 28 Oktober 1961 sampai menjadi UIN ini adalah suatu anugerah Allah SWT yang diberikan kepada kita. Dan kita semua wajib untuk memelihara dan mengembangkannya," tuturnya.

Oleh karena itu, zikir tersebut adalah salah satu bentuk ungkapan syukur civitas UIN Malang. Haris berharap, zikir ini bisa diadakan rutin tiap bulan.

Dalam acara tersebut, Dr KH Dahlan Tamrin MAg menyampaikan mengenai konsep Al Ihsan. Dijelaskan Dahlan, Al Ihsan ialah ketika kita beribadah seakan-akan melihat Allah. "Konsep ini di dalam kehidupan kita sudah mulai hilang," ucap mantan ketua PCNU Kota Malang tersebut.

Manusia, kata Dahlan, diciptakan sebagai makhluk yang terbaik, maka apa yang ditunaikan haruslah yang terbaik. Bukan hanya yang baik. "Yang baik itu hanya berkaitan kepada wilayah kemanusiaan. Yang terbaik itu bersinggungan dengan wilayah Ketuhanan," jelasnya.

Apabila kita sudah masuk penuh pada wilayah Ketuhanan, maka, Dahlan menyampaikan, kita sudah menjadi Wali Allah. "Jadi kalau kita berbuat baik maka sebenarnya kita hanya berada pada wilayah kemanusiaan," imbuhnya.

Saat ini, banyak orang yang hanya melakukan yang baik saja tapi tidak melakukan yang terbaik. "Kita rugi kalau hanya yang baik saja," ucapnya.

Sementara yang berhubungan dengan Allah, dalam dunia fiqih, misalnya, ketika dalam kita salat nyambung dengan Allah dan ketika kita beramal selain ibadah, kita membaca basmalah. "Termasuk orang yang rugi kalau kita dimensinya hanya dimensi kemanusiaan," tandasnya sekali lagi.

Dunia sekarang ini, kata Dahlan, serba materialisme. Semua diukur dengan persoalan duniawi, tidak sambung dengan Allah. "Di sini kita akan mengalami kerugian," pungkasnya.

 


End of content

No more pages to load