Ingin Mereplika Kesuksesan, DPRD Sidoarjo Berguru ke Kampung Budaya Polowijen
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Yunan Helmy
30 - Nov - 2025, 05:53
JATIMTIMES - Kampung Budaya Polowijen (KBP) lagi-lagi membuktikan diri sebagai laboratorium budaya yang tak pernah sepi. Bukan hanya wisatawan dan mahasiswa, tetapi kini para legislator dari Kabupaten Sidoarjo pun menjadikannya tujuan belajar.
Sebanyak 24 anggota Komisi C dan D DPRD Sidoarjo melakukan studi banding ke KBP, mencoba memahami bagaimana sebuah kampung bisa berkembang menjadi magnet wisata edukasi budaya.
Baca Juga : Hikmah Bafaqih Ungkap Poin-Poin Penting Raperda Pelindungan Perempuan dan Anak
Ketertarikan itu bukan tanpa alasan. Malang, meski tidak memiliki wisata alam sebesar daerah lain, telah lama meneguhkan diri sebagai kota kreatif yang bertumpu pada sejarah, budaya, dan kekuatan warga kampung tematik. Mulai dari jejak Kerajaan Kanjuruhan sampai masa kolonial, hingga kini ditetapkan UNESCO sebagai Kota Kreatif Dunia bidang Media Arts, Malang punya “modal rasa” dan identitas yang sulit ditiru daerah lain.
H Usman, salah satu anggota DPRD Sidoarjo yang ikut hadir, tak menutupi kekagumannya. “Kami punya banyak sentra industri kerajinan. Tapi di Malang, sentra-sentra itu bisa dikemas jadi tempat edukasi. Kami ingin belajar, bagaimana konsep yang diterapkan di Kampung Budaya Polowijen bisa direplikasi di Sidoarjo,” ujarnya.
Menurut dia, Sidoarjo punya keunggulan geografis dekat Surabaya dan Bandara Juanda, sehingga potensinya besar jika dikemas dengan pendekatan serupa.
Rombongan DPRD disambut langsung oleh Ki Demang, sapaan akrab Isa Wahyudi, penggagas sekaligus ketua Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang. Mereka dijamu dengan jajanan tradisional dan disuguhkan seni jaranan serta Tari Topeng Malang, dua ikon budaya yang menjadi napas KBP.
Ki Demang menyebut, kekuatan kampung tematik di Malang bertumpu pada bonus demografi dan peran mahasiswa. “Hampir semua objek wisata edukasi di Malang tak pernah sepi dari kegiatan lapangan mahasiswa. Ini membuat aktivitas budaya terus hidup, berkembang, dan terdokumentasi. Model seperti ini sangat mungkin direplikasi di Sidoarjo atau kota lain," jelasnya.
Pada hari yang sama, tak kurang dari 40 mahasiswa dari berbagai kampus—UB, UM, UMM, ITN hingga Unitri, datang bergelombang ke KBP. Mereka mempelajari langsung aktivitas budaya melalui paket Sinau Budaya, mulai mengenal sejarah Malang, belajar gerak tari, membatik, mewarnai topeng, membuat wayang suket hingga praktik memasak di pawon tradisional.
Baca Juga : Komisi E DPRD Jatim Ungkap Urgensi Raperda Pelindungan Perempuan dan Anak
“Di tempat lain biasanya foto-foto saja. Tapi di sini semua aktivitas bisa dicoba langsung. Videonya nanti kami olah untuk promosi wisata budaya Malang,” ujar Kirana Anjani, mahasiswa DKV UM.
Interaksi semacam ini membuat KBP bukan sekadar tempat pelestarian tradisi, melainkan ruang belajar yang tumbuh bersama masyarakat dan pengunjungnya. Aktivitasnya hidup, edukatif, dan terbuka untuk semua kalangan.
Dengan dinamika seperti itu, tak berlebihan jika Kampung Budaya Polowijen kini menjadi referensi banyak daerah yang ingin membangun wisata berbasis budaya.
KBP tak hanya menjaga warisan, tetapi menjadikannya pengalaman yang bisa disentuh, dipelajari, dan dibawa pulang, sebuah model wisata edukasi yang semakin relevan bagi kota-kota di Indonesia.
