Dorong Kemandirian Pangan Warga, Dosen Unisma Beri Tips Pemupukan Cabai agar Panen Optimal

12 - Aug - 2025, 03:24

Dua dosen Unisma memandu pelatihan yang dihadiri Kelompok Tani Kenanga Merjosari serta Pokja 3 PKK RW 11 di kawasan Merjosari. Hal ini menjadi satu upaya dalam mendorong kemandirian pangan warga (ist)


JATIMTIMES - Di tengah naik-turunnya harga cabai di pasaran, dua dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang (Unisma) memilih turun langsung ke warga untuk berbagi teknik budidaya cabai yang efisien di lahan pekarangan. 

Dr. Dwi Susilowati dari Program Studi Agribisnis dan Abdul Basit, S.P., M.P. dari Program Studi Agroteknologi memandu pelatihan yang dihadiri Kelompok Tani Kenanga Merjosari serta Pokja 3 PKK RW 11 dikawasan Merjosari belum lama ini.

Baca Juga : Sinergi Mahasiswa Unisba Blitar dan Koperasi Merah Putih Gerakkan UMKM Gedog

“Kami ingin warga bisa menanam cabai sendiri, tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tapi juga sebagai peluang usaha kecil. Caranya dengan memanfaatkan teknologi pemupukan dan pengairan yang tepat agar hasilnya maksimal,” ujar Dr. Dwi Susilowati.

Alih-alih hanya memberi ceramah, para peserta diajak mempraktikkan pencampuran media tanam yang sesuai karakter cabai. Dr. Dwi menjelaskan bahwa cabai membutuhkan tanah lempung berpasir atau lempung berdebu yang gembur dan kaya bahan organik, dengan pH ideal 6–7. “Kalau tanah terlalu asam atau basa, harus dikoreksi dulu dengan kapur atau sulfur. Itu kuncinya sebelum menanam,” ujarnya.

1

Abdul Basit menambahkan, perlakuan budidaya di lahan pekarangan, khususnya dengan polybag, berbeda dengan lahan terbuka. “Mulai dari persiapan media, pemupukan, sampai panen, tekniknya harus disesuaikan. Kalau salah perlakuan, hasilnya tidak optimal,” katanya.

Untuk tips pemupukan, para pemateri menjelaskan bahwa tahapan yang tepat dimulai dari awal pertumbuhan, yakni menggunakan kombinasi pupuk nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) dengan media campuran tanah, kompos, serta pupuk kandang dalam komposisi seimbang. 

Memasuki fase pertumbuhan vegetatif, pemupukan dilakukan dengan N, P, dan K berbanding 20-10-10, ditambah unsur mikro seperti magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan sulfur (S), serta penyemprotan pupuk daun untuk mempercepat perkembangan tanaman. 

Saat pembentukan bunga, fokus diberikan pada pemberian fosfor (P) dan kalium (K) yang diperkaya dengan SP-36. Adapun pada tahap pematangan buah, digunakan kalium nitrat (KNO₃) dan kalsium (Ca) guna meningkatkan kualitas hasil panen dan memperpanjang daya simpannya.

Baca Juga : Kepala Dispendik Kabupaten Malang Apresiasi Kiprah LP Ma'arif: Selalu Update Ikuti Perkembangan

Lebih lanjut Abdul Basit menjelaskan,  bahwa pupuk organik seperti kompos dan pupuk kandang tetap diperlukan untuk memperbaiki struktur tanah, sementara unsur mikro seperti boron (B) dan zinc (Zn) dapat mendorong pertumbuhan optimal.

Dalam sesi diskusi, warga juga diajak memahami pengairan yang tepat. “Kalau di polybag, pengairan tidak bisa asal siram. Harus lihat kondisi tanah, cuaca, dan umur tanaman. Terlalu banyak air justru bikin akar busuk,” katanya.

Bagi sebagian warga, pelatihan ini membuka wawasan baru. “Selama ini saya kira menanam cabai cukup pakai tanah dan pupuk seadanya. Ternyata banyak tahap yang bisa membuat tanaman lebih produktif,” ungkap salah satu peserta, Siti Aminah, anggota PKK RW 11.

Melalui pendekatan praktis dan berbasis pengalaman lapangan, program ini diharapkan mampu mendorong kemandirian pangan di tingkat rumah tangga, sekaligus memberi peluang tambahan penghasilan bagi warga.


Topik

Pendidikan, Unisma, pelatihan pertanian, pemupukan, Dosen Unisma,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette