Bedah Kurikulum PG-PAUD Unikama: Dari Malang Sentuh Isu Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
09 - Aug - 2025, 07:27
JATIMTIMES - Di tengah dinamika pendidikan Indonesia, pembaruan kurikulum menjadi agenda penting yang tak lagi bisa ditunda. Perubahan perilaku anak di era digital, tuntutan kompetensi guru yang kian kompleks, serta kebijakan pendidikan yang terus bergeser, membuat kampus-kampus pendidikan guru harus berpacu menyesuaikan diri.
Inilah latar yang melandasi langkah Program Studi Pendidikan Guru PAUD (PG-PAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Kanjuruhan (Unikama) Malang menggelar forum benchmarking kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) pada Jumat (8/8/2025), di Ruang Abdoel Radjab Unikama.
Baca Juga : Dari Dapur Rumah ke Pasar Dunia: Perjalanan 15 Tahun UMKM Jamu Hidayatus Shofiah
Berbeda dari seminar formal yang cenderung satu arah, forum ini memadukan dosen, mahasiswa, alumni, praktisi, dan pemangku kepentingan dari lembaga PAUD dalam sebuah diskusi terbuka. Mereka tidak hanya bertukar gagasan, tetapi juga menguji kelayakan kurikulum dengan mempertanyakan apakah materi yang diajarkan benar-benar membekali calon guru untuk menghadapi kondisi riil di kelas.
Prof. Dr. Sofia Hartati, M.Si., Ketua Asosiasi PG-PAUD Indonesia sekaligus Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan pesan tegas bahwa penyusunan kurikulum tak boleh lepas dari masukan pengguna lulusan.
“Keterlibatan stakeholder, termasuk mahasiswa dan alumni sebagai end-user kurikulum, sangat penting untuk memastikan keselarasan antara teori di kampus dengan kebutuhan riil di lapangan,” ujarnya.

Suasana diskusi memanas ketika perwakilan mahasiswa mengangkat isu keterampilan public speaking. Bagi mereka, kemampuan bicara di depan umum bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi kebutuhan pokok. Guru PAUD dituntut bisa menjalin komunikasi efektif bukan hanya dengan anak, tetapi juga dengan orang tua, pihak sekolah, bahkan masyarakat luas. Alumni menambahkan perspektif berbeda.
Mereka menilai bahwa adaptasi teknologi dan kreativitas menjadi kunci keberhasilan guru di lapangan. Banyak lembaga PAUD kini memanfaatkan media pembelajaran digital, dan guru yang tidak mampu memanfaatkannya akan kesulitan menyesuaikan diri. Kreativitas pun menjadi pembeda, karena anak-anak cepat bosan dengan metode pengajaran yang monoton.
Workshop penyusunan rencana pembelajaran berbasis OBE menjadi titik fokus kegiatan ini. Dalam kelompok-kelompok kecil, peserta merumuskan capaian pembelajaran yang spesifik dan terukur. Diskusi mengalir membahas topik-topik seperti literasi awal, play-based learning, pembiasaan membaca sejak dini, hingga pengelolaan kelas yang mampu menyeimbangkan aspek kognitif, motorik, dan sosial-emosional anak. Beberapa perwakilan lembaga PAUD menyampaikan catatan bahwa guru baru sering kali kesulitan membagi waktu antara kegiatan belajar terstruktur dengan aktivitas bermain kreatif.
Dekan FIP Unikama, Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd., menegaskan bahwa forum seperti ini adalah wujud nyata konsep link and match yang kerap digaungkan pemerintah. Ketua Prodi PG-PAUD, Dr. Siti Muntomimah, M.Pd., menambahkan bahwa masukan dari mahasiswa dan alumni adalah bahan evaluasi yang tak ternilai.
“Mereka adalah cermin dari apa yang kami hasilkan. Kalau ada yang perlu diperbaiki, lebih baik kami dengar langsung dari mereka,” ujarnya.
Baca Juga : Tulungagung Raih Predikat Kabupaten Layak Anak ke-11, Targetkan Predikat Paripurna Tahun Depan
Rekomendasi kurikulum yang dihasilkan dalam forum ini tidak hanya membahas materi ajar, tetapi juga menyentuh strategi pelatihan dosen agar proses pengajaran di kampus benar-benar mencerminkan prinsip OBE. Sebagai langkah lanjutan, akan dibentuk tim pemantau implementasi kurikulum yang terdiri dari dosen, mahasiswa, alumni, dan praktisi pendidikan. Tim ini akan bertugas mengawal penerapan kurikulum baru, melakukan evaluasi rutin, serta memberi masukan untuk perbaikan berkelanjutan.
Langkah Unikama ini selaras dengan tren nasional yang mendorong penerapan OBE di berbagai perguruan tinggi. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) beberapa tahun terakhir mengarahkan pendidikan tinggi, termasuk LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), untuk memastikan lulusan memiliki capaian pembelajaran yang terukur dan sesuai kebutuhan industri maupun masyarakat. Dalam konteks PG-PAUD, tantangannya lebih unik karena industri yang dimaksud adalah dunia anak usia dini yang membutuhkan keseimbangan antara aspek akademik, keterampilan sosial, dan nilai-nilai pembentukan karakter.
Meski demikian, penerapan OBE di pendidikan guru PAUD tidak tanpa hambatan. Beberapa perguruan tinggi masih berjuang menyesuaikan metode pengajaran, sementara sebagian guru senior di lapangan belum terbiasa dengan pendekatan pembelajaran yang sangat terstruktur namun fleksibel ini. Forum di Unikama menunjukkan bahwa hambatan tersebut bisa diatasi melalui kolaborasi nyata antara pihak kampus dan lapangan, sehingga teori yang diajarkan mahasiswa akan lebih kontekstual saat mereka menjadi guru.
"Masukan dari mahasiswa dan alumni sangat berharga bagi kami. Mereka adalah bukti nyata output kurikulum kami sekaligus mitra strategis dalam perbaikan berkelanjutan." tambah Dr. Siti Muntomimah, M.Pd., Ketua Program Studi PG-PAUD Unikama.
Dengan menggabungkan perspektif akademisi, mahasiswa, alumni, dan praktisi, Unikama berharap kurikulum baru ini tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk mengajar, tetapi juga membekali mereka untuk berinovasi, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan memahami karakter anak di era modern. Dari Malang, gerakan ini memberi contoh bahwa pembaruan kurikulum, jika dilakukan secara terbuka dan melibatkan semua pihak, bisa menjadi langkah strategis untuk memperkuat pendidikan anak usia dini di Indonesia.
