Yudisium, FEB Unikama Perkuat Komitmen Lahirkan Lulusan yang Relevan dan Berdampak
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
08 - Aug - 2025, 09:07
JATIMTIMES - Tak sekadar merayakan akhir masa studi, Yudisium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) pada Sabtu, 6 Juli 2025, menjadi momentum untuk mempertegas arah pendidikan tinggi: melahirkan intelektual yang siap bekerja, berpikir, dan berkontribusi nyata di tengah masyarakat.
Sebanyak 132 mahasiswa dari tiga program studi resmi dikukuhkan sebagai lulusan dalam kegiatan yudisium semester genap tahun akademik 2024/2025. Namun suasana yang terbangun bukan sekadar seremonial akademik. Tema yang diangkat, “FEB Berbudi dan Berprestasi: Menjadi Pilar Intelektual yang Berdampak”, membawa pesan mendalam tentang tanggung jawab moral lulusan di era yang penuh disrupsi.

Bagi FEB Unikama, gelar sarjana bukan hanya soal pencapaian akademik. Ia adalah titik awal dari sebuah pengabdian dan peran aktif dalam perubahan sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Dekan FEB Unikama, Dr. Endah Andayani, MM., dalam pidato reflektif yang lebih menyerupai dialog batin daripada sekadar sambutan formal.
Baca Juga : Sentuhan Edukatif Mahasiswa KKN Unisba Blitar: Lawan Bullying Lewat Deklarasi Damai di SDN 03 Sentul
“Kampus ini tidak sedang mencetak lulusan untuk menambah panjangnya angka pengangguran terdidik. Kita menyiapkan manusia yang sanggup membaca zaman, memahami kompleksitasnya, dan mengambil bagian untuk mengubahnya,” ungkap Dr. Endah.
Ia juga menekankan bahwa FEB Unikama terus berbenah dalam merancang kurikulum yang tak hanya selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), tetapi juga benar-benar relevan dengan kebutuhan industri, dunia kerja, dan masyarakat luas. Suara para lulusan dan alumni yang telah terjun ke berbagai sektor menjadi rujukan penting dalam proses evaluasi ini.

Dalam yudisium kali ini, FEB Unikama juga menandai pencapaian penting dengan meluluskan lima mahasiswa dari jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini memungkinkan individu yang telah memiliki pengalaman kerja atau pelatihan non-formal untuk diakui dalam sistem pendidikan formal, dan di Unikama, langkah ini bukan sebatas kebijakan administratif, melainkan bentuk nyata inklusi dan pengakuan terhadap keberagaman jalur belajar masyarakat Indonesia.
Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen FEB dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas tanpa mengabaikan kualitas.
Sementara itu, orasi ilmiah dari Dr. Rita Indah Mustikowati, SE., MM., turut menggarisbawahi urgensi adaptasi di tengah zaman digital. Ia menyampaikan bahwa sinergi antara literasi digital dan keuangan digital bukan lagi sekadar keunggulan tambahan, tetapi prasyarat utama bagi lulusan ekonomi di tengah lanskap kerja yang kian terdigitalisasi.
“Kemampuan memahami sistem digital, berpikir kritis terhadap informasi, dan mengelola sumber daya berbasis teknologi harus menjadi bagian dari DNA lulusan kita,” tuturnya.
Baca Juga : Berdayakan Ratusan Masyarakat, Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Jamu Tradisional
Pada akhir acara, tiga nama diumumkan sebagai lulusan terbaik berdasarkan capaian akademik: Adi Cahyo Utomo dari Program Studi Manajemen dengan IPK 3,90; Meisa Faiza Aulia dari Akuntansi dengan IPK 3,86; serta Usmiatul Azizah dari Pendidikan Ekonomi yang mengantongi IPK 3,76. Namun lebih dari angka-angka tersebut, para mahasiswa ini adalah representasi dari semangat tekun, kolaboratif, dan reflektif yang selama ini ditanamkan oleh lingkungan kampus.
Dalam pidatonya, Adi Cahyo Utomo menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh dosen, keluarga, dan tenaga kependidikan. Ia juga mengajak rekan-rekannya untuk tetap terhubung dengan kampus dan menjadi wajah Unikama di tengah masyarakat.
“Mari terus menumbuhkan kebanggaan terhadap almamater. Kita bukan sekadar alumni, tapi duta yang bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk percaya pada kekuatan pendidikan,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya peran alumni dalam menjembatani kampus dan masyarakat luas.
Melalui yudisium ini, FEB Unikama kembali menegaskan bahwa pendidikan tinggi tak boleh berhenti sebagai ruang teori. Kampus adalah tempat mengasah kepekaan, menempa nilai, dan membangun visi. Karena itu, proses pembelajaran di Unikama tak hanya dibangun dari ruang kelas, tapi juga dari interaksi lintas pengalaman, lintas generasi, dan lintas konteks sosial.
Dengan lulusan yang disiapkan untuk tak hanya bisa kerja, tapi juga bisa berpikir dan mempengaruhi arah perubahan, FEB Unikama mengambil posisi jelas di tengah ketidakpastian zaman: menjadi rumah yang tak hanya mencetak gelar, tetapi membentuk karakter.
