Sepi Penumpang, Bandara Dhoho Kediri Bersiap Layani Penerbangan Umroh

01 - Aug - 2025, 08:45

Audiensi antara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub bersama Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak. (Foto: Kemenhub)


JATIMTIMES - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) turun tangan merespons kondisi Bandar Udara (Bandara) Dhoho Kediri yang tengah di ujung tanduk. Sejak diresmikan, bandara tersebut masih sepi penumpang, bahkan dalam beberapa waktu terakhir tidak ada layanan penerbangan komersial yang beroperasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa telah membahas operasional Bandara Dhoho Kediri bersama Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak. Pembahasan ini salah satunya berfokus pada rencana dibukanya penerbangan umroh di Bandara Dhoho.

Baca Juga : Perbaikan Jalur Butuh 8-10 Jam Imbas KA Argo Bromo Anggrek Anjlok, KAI Minta Maaf

Selain itu, pembahasan juga meliputi penguatan konektivitas penerbangan di wilayah Jatim. Dalam hal ini, selain untuk penerbangan umroh, Bandara Dhoho butuh optimalisasi operasional sebagai pendukung bandara lain di Jatim. 

Sebagai regulator, Ditjen Perhubungan Udara menyambut baik inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memaksimalkan potensi Bandar Udara Dhoho. Langkah ini dinilai strategis dalam mendistribusikan beban operasional penerbangan yang saat ini masih terpusat di Bandar Udara Juanda Surabaya.

“Bandar Udara Juanda saat ini melayani sekitar 14 juta penumpang per tahun dari kapasitas maksimal 21 juta penumpang. Setelah dilakukan evaluasi, peningkatan kapasitas Juanda hanya memungkinkan sampai 27 juta penumpang. Artinya, kita harus bersiap sejak sekarang mencari dan membangun simpul-simpul penerbangan baru untuk mengantisipasi pertumbuhan ke depan,” ujar Lukman, Jumat (1/8/2025).

Ia menambahkan bahwa Bandara Dhoho didesain untuk melayani pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777-300ER dan Airbus A380, serta memiliki fasilitas dan spesifikasi teknis yang modern dan memenuhi standar internasional. Hal ini membuka peluang besar bagi Dhoho untuk menjadi bandara alternatif keberangkatan jamaah umroh dan pusat konektivitas dalam negeri wilayah selatan Jawa Timur.

“Dari sisi infrastruktur, Bandar Udara Dhoho sangat memadai. Namun sebelum beroperasi penuh untuk penerbangan umroh, tentu perlu dipastikan seluruh aspek keselamatan (safety), keamanan (security), pelayanan (services), dan kepatuhan terhadap regulasi (compliance  terpenuhi. Itu menjadi tanggung jawab kami sebagai regulator,” tegas Lukman.

Baca Juga : Terminal Hamid Rusdi Malang Sepi, Puguh DPRD Jatim Tagih Ketegasan Pemprov

Dalam waktu dekat, Ditjen Perhubungan Udara bersama Pemprov Jatim dan operator bandara akan melakukan pengujian dan evaluasi bertahap terhadap kesiapan operasional Bandara Dhoho. Rencana kedepan Bandara Dhoho akan melayani penerbangan umroh yang direncanakan 3–4 kali per bulan oleh karena itu diperlukan kesiapan operasional dan fasilitas yang maksimal.

Lukman juga menekankan bahwa pengembangan konektivitas udara di Jawa Timur tidak hanya bergantung pada Bandar Udara Juanda dan Dhoho. Bandara-bandara lain seperti Abdul Rachman Saleh (Malang), Blimbingsari (Banyuwangi), dan Trunojoyo (Sumenep) juga perlu dioptimalkan sebagai bagian dari sistem penerbangan yang saling terintegrasi.

“Peningkatan kapasitas dan fungsi bandara di Jawa Timur harus dilihat dalam konteks sistem transportasi udara nasional. Kami akan terus melakukan pengawasan agar seluruh pengembangan dan operasional bandara tetap mengedepankan 3S dan 1C, demi menjamin keselamatan, keamanan, kenyamanan penumpang, dan kepatuhan terhadap standar yang berlaku,” jelasnya.


Topik

Transportasi, Bandara Dhoho, Kabupaten Kedir, pemkab kediri, bandara dhoho sepi,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette