Konsumsi Pangan Non-Beras di Kota Malang Meningkat, Angkanya di Atas Target Nasional

Reporter

Hendra Saputra

Editor

Yunan Helmy

31 - Jul - 2025, 12:45

Pelatihan pangan olahan yang digelar Dispangtan Kota Malang. (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)


JATIMTIMES - Pola konsumsi masyarakat Kota Malang mulai mengalami perubahan. Berdasarkan data Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, jumlah konsumsi pangan non-beras di wilayah ini terus meningkat. Tahun 2025, angkanya sudah mencapai 4,2 persen, melebihi target nasional sebesar 4 persen.

Angka ini menunjukkan tren positif dari tahun sebelumnya. Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang Elfiatur Roikhah mengungkapkan, peningkatan tersebut terjadi berkat berbagai program penguatan ketahanan pangan lokal.

Baca Juga : Sadis! Israel Tembak Warga Gaza yang Sedang Antre Bantuan, 30 Orang Tewas

“Kita targetkan 4 persen, tapi realisasinya sudah 4,2 persen. Ini menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun 2023. Masyarakat mulai membuka diri terhadap pangan alternatif selain beras dan terigu,” ungkap wanita yang akrab disapa Elfi tersebut, Kamis (31/7/2025).

Program ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang percepatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. 

Salah satu langkah konkret adalah program "One Day No Rice". Dengan program itu, kelompok masyarakat diajak untuk tidak mengonsumsi nasi setiap hari Jumat. Program ini awalnya dijalankan bersama komunitas urban farming yang telah menerima bantuan bibit ubi jalar dari Bank Indonesia dan FEB Universitas Brawijaya pada akhir 2024.

“Kami dampingi mereka menanam ubi jalar, terutama dalam karung karena keterbatasan lahan di perkotaan. Sekarang sudah ada yang mulai panen, dan kami latih cara mengolahnya agar bisa dikonsumsi atau dijual,” jelas Elfi. 

Pelatihan pengolahan pangan non-beras ini menyasar berbagai kelompok masyarakat di Kecamatan Klojen, Lowokwaru, dan Blimbing, hasil usulan musrenbang.

Elfi menambahkan bahwa resistensi masyarakat terhadap bahan pangan alternatif umumnya disebabkan karena minimnya variasi olahan. Dengan pelatihan seperti ini, Elfi berharap masyarakat bisa lebih kreatif. 

Baca Juga : Harga Sembako Jatim Hari Ini 31 Juli 2025: Bawang Merah Tembus Rp 50 Ribu

“Orang berpikir ubi hanya bisa dikukus. Tapi lewat pelatihan ini, kami ajarkan cara mengolahnya menjadi camilan, kue, atau makanan yang lebih menarik. Tujuannya agar anak-anak terbiasa sejak dini,” imbuhnya.

Dispangtan juga mendorong penyebaran program ini ke kelompok pemuda, perempuan, lansia, hingga organisasi seperti Aisyiyah, Muslimat, Fatayat, dan PKK agar program lebih luas dan berkelanjutan.

Meskipun Kota Malang merupakan kota metropolis dengan keterbatasan lahan, pemanfaatan media tanam alternatif seperti karung menjadi solusi inovatif. Dengan edukasi dan pendampingan berkelanjutan, diharapkan masyarakat memiliki pilihan konsumsi yang lebih sehat dan mandiri secara pangan.

“Kami juga akan bersurat ke instansi-instansi agar mulai mengurangi konsumsi beras dan terigu, terutama dalam kegiatan rapat atau jamuan resmi,” tutup Elfi. 


Topik

Pemerintahan, Konsumsi pangan non-beras, Kota Malang, pangan alternatif, kurangi konsumsi beras,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette