Revitalisasi Kampung Gatot Ngebruk: Seriusi Niche Market Destination
28 - Jul - 2025, 07:06
JATIMTIMES – Kampung Gatot yang terletak di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) sempat digadang-gadang menjadi salah satu ikon wisata desa di Bhumi Arema. Sayangnya, pandemi Covid-19 dan terputusnya regenerasi para pelaku Gatot, menjadi bagian yang membuat potensi besar tersebut redup.
Kondisi ini pula yang membuat Pemerintah Kecamatan Sumberpucung menggandeng akademisi UM dan TPP Kemendesa PDT kembali ‘membangunkan’ potensi yang sempat ‘tertidur’ terbilang lama ini.
Baca Juga : Elektabilitas PKB di Jatim Disalip Gerindra, Fauzan Fuadi: Perjalanan Masih Panjang
Melalui Pelatihan Pengembangan Wisata Kampung Gatot sebagai Niche Market Destination Berbasis Pangan Lokal melalui Penerapan SAT (Strategy, Action, Technology) guna Mewujudkan Ketahanan Pangan Desa di Indonesia, potensi lokal Desa Ngebruk berusaha diangkat lagi, Senin (28/7/2025) di pendapa Kecamatan Sumberpucung.
“Kegiatan ini dalam rangka merevitalisasi destinasi Kampung Gatot yang sempat dikenal di Malang Raya. Di mana, banyak yang tanya terkait keberlanjutannya hingga saat ini,” ucap Camat Sumberpucung Sri Pawening dihadapan Pemdes Ngebruk, BPD, pelaku UMKM, praktisi Gatot serta mahasiswa UB yang melaksanakan MMD.
Sri Pawening juga menyampaikan, eksistensi Kampung Gatot yang meredup, perlu adanya intervensi positif dari berbagai pihak. Tak terkecuali dari akademisi kampus, BUMN maupun BUMD maupun penguatan dari internal desa itu sendiri.
“Pertemuan hari ini adalah salah satu intervensi positif itu tadi. Kita berkumpul, merumuskan ulang konsep Kampung Gatot ke depannya bersama-sama. Kami (Pemerintah Kecamatan Sumberpucung) pun akan terus mengawal ke depannya,” ujar mantan Camat Kromengan ini.
Niche Market Destination: Alternatif Revitalisasi Kampung Gatot
Di kesempatan yang sama, Ardianto Hartanto akademisi UM beserta tim memberikan beberapa paparan dalam kegiatan tersebut. Di mana, dari hasil pendampingan timnya dirumuskan beberapa hal krusial yang bisa jadi roadmap Kampung Gatot. Salah satunya menjadi Kampung Gatot sebagai Niche Market Destination (Destinasi Pasar Khusus).
“Keberadaan kami bagaimana Kampung Gatot kembali tumbuh sesuai harapan masyarakat dan tentunya jadi bagian dalam program ketahanan pangan di desa yang dibesut Presiden Prabowo Subianto,” ucapnya.
Maka, lanjutnya, beberapa hal yang nantinya perlu bersama-sama dijalankan adalah penggunaan SAT (Strategy-Action-Technology). “Kita rumuskan ulang strateginya. Di mana, sebagai destinasi tentu perlu daya dukung penarik lainnya selain produknya itu sendiri. Sedangkan untuk penerapan teknologi, kami siap membantu dalam proses digitalisasi pemasarannya, baik melalui web maupun media sosial,” paparnya.
Tak hanya itu UM juga siap mendampingi para pelaku Kampung Gatot bersama Pemerintah Kecamatan dan desa. Tak terkecuali dalam konsep pengorganisasian. “Sumber Daya Manusia menjadi penting juga dalam membentuk destinasi pasar khusus itu,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Nana Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kementerian Desa PDT. Di mana, dalam paparannya Nana lebih memfokuskan pada konsep Niche Market Destination itu sendiri.
Baca Juga : Survei Parpol di Jatim: Elektabilitas Gerindra Melejit, Salip PKB dan PDIP
Menurutnya, kondisi Kampung Gatot saat ini tidak lepas dari konsep yang belum terintegral secara utuh, baik karena adanya faktor pandemi maupun dukungan warga setempat dalam menjalan kawasan wisata desa itu sendiri.
“Konsep menjadi penting dalam membentuk atau revitalisasi destinasi. Kalau merujuk strategi destinasi pasar khusus, maka mulailah kita konsep bagaimana kita menjual yang bukan sekedar produknya saja, tapi pengalaman uniknya juga,” ucapnya.
Secara harfiah Niche Market Destination itu sendiri adalah destinasi pasar khusus yang fokus pada kelompok wisatawan tertentu dengan kebutuhan dan minat yang unik, menawarkan produk dan pengalaman khusus.
“Artinya, dengan konsep ini destinasi menyediakan pengalaman dan layanan yang secara langsung memenuhi kebutuhan dan preferensi ceruk yang dipilihnya. Siapa targetnya? Sekelompok wisatawan, warga, orang tertentu dengan minat dan karakteristik yang sama. Jadi targetnya spesifik,” terang Nana yang juga mencontohkan beberapa niche market destination, yaitu wisata petualangan, agrowisata, ekowisata, retret kesehatan, wisata kuliner dan wisata budaya.
Koordinator Pendamping Desa Kecamatan Sumberpucung ini juga memberikan perbandingan keuntungan yang akan diperoleh oleh pelaku Kampung Gatot. Di mana, ia memperbandingkan hanya menjual produk Gatot saja dengan menjual pengalamannya.
Dengan harga jual gatot yang siap jual, rata-rata pelaku hanya mampu meraup Rp 25 ribu/bungkus. Bilamana dengan menjual konsep pasar khusus, maka bisa saja mencapai Rp 100 ribu bahkan lebih. “Karena yang kita jual bukan sekedar produk, tapi bagaimana kita jual pengalaman membuat produknya ke pengunjung. Kita ajak pengunjung untuk menyelami kehidupan kampung Gatot secara langsung. Ini akan lebih mahal tentunya. Jadi konsep inilah yang ke depan harus kita susun bersama-sama dan melibatkan seluruh stakeholder yang ada,” pungkasnya.
Kegiatan revitalisasi Kampung Gatot ini pun disambut antusias Pemdes Ngebruk dan BPD maupun pengurus BUMDesa. Di mana, pelatihan yang digelar atas inisiasi Pemerintah Kecamatan Sumberpucung dengan UM, sebagai pintu pertama untuk kembali bergerak dan menghasilkan dampak positif berkelanjutan ke depannya. Baik untuk masyarakat maupun berbagai program ketahanan pangan nasional.
