Semangat Petani Blitar Percepat Proyek Infrastruktur DBHCHT: Pekerjaan Rampung Sebelum Waktunya
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
A Yahya
24 - Jul - 2025, 01:03
JATIMTIMES – Jalanan sempit yang dahulu becek kini sudah dibeton rapi. Saluran-saluran air kecil yang dulu tersumbat kini mengalir lancar menuju sawah. Di beberapa sudut kecamatan di Kabupaten Blitar, geliat pembangunan infrastruktur pertanian tampak mencolok. Namun, yang lebih mencolok bukan hanya hasil fisiknya, melainkan semangat petani yang bekerja di baliknya.
Proyek fisik Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2025 di Kabupaten Blitar mencatat capaian menggembirakan. Dari total 13 titik kegiatan, yang mencakup pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) dan rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (JIT), beberapa di antaranya sudah mencapai 100 persen, jauh melampaui jadwal yang ditetapkan.
Baca Juga : Antisipasi Penutupan Jalur Gumitir, Satlantas Situbondo Tambal Jalan dan Siapkan Pengalihan Arus
“Banyak kelompok tani menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari target. Bahkan ada yang selesai sebelum bulan Agustus,” ujar Matsafii, Kepala Bidang Prasarana Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Kamis (24/7/2025).
Dalam skema ideal, proyek ini semestinya berjalan hingga bulan Oktober, atau paling lambat akhir tahun 2025. Namun, hasil monitoring dan evaluasi tim DKPP menunjukkan realisasi fisik di lapangan melaju lebih cepat. Beberapa lokasi seperti Kecamatan Panggungrejo dan Selopuro telah menyelesaikan pembangunan JUT dan JIT sepenuhnya.
Menurut Matsafii, percepatan ini tidak lepas dari pola pelaksanaan swakelola, di mana kelompok tani diberi kewenangan penuh untuk mengelola anggaran dan melaksanakan pembangunan. “Begitu pekerjaan dimulai, mereka langsung tancap gas. Ada semangat gotong royong agar pembangunan ini cepat selesai dan langsung bisa digunakan,” ungkapnya.
JUT dan JIT memang bukan proyek monumental dengan anggaran besar. Nilainya berkisar antara Rp150 juta hingga Rp200 juta per titik. Namun bagi petani, infrastruktur ini adalah nadi produksi. Jalan usaha tani, meski hanya mampu dilalui kendaraan roda tiga seperti tossa atau sepeda motor roda tiga, sangat membantu dalam proses pengangkutan pupuk dan hasil panen. Sebelumnya, banyak petani harus bersusah payah melewati jalan tanah yang licin, bahkan tak jarang hanya mengandalkan tenaga manusia atau hewan.
Adapun jaringan irigasi tersier, yang menghubungkan aliran air dari saluran sekunder ke lahan pertanian, menjadi faktor penting dalam peningkatan produktivitas. Terutama di wilayah yang menanam tembakau seperti Selopuro, pasokan air yang cukup bisa menjadi penentu hasil panen. Selain tembakau, petani di Blitar juga menanam padi dan jagung, yang semuanya sangat bergantung pada pengairan.
“Kami membangun JIT karena air adalah faktor krusial. Bukan hanya untuk tembakau, tapi juga untuk komoditas lainnya setelah masa tanam tembakau selesai,” jelas Matsafii.
Dalam implementasinya, DBHCHT mensyaratkan bahwa penerima manfaat adalah kelompok tani yang berada di kawasan budidaya tembakau. Maka dari itu, titik-titik pembangunan tersebar di kecamatan-kecamatan yang memiliki spot tanaman tembakau, seperti Talun, Kademangan, Panggungrejo, dan Selopuro. Wilayah terakhir ini dikenal sebagai pusat tembakau terbesar di Kabupaten Blitar.
Baca Juga : Suami Diduga Bunuh Istri lalu Gantung Diri
Namun, skema swakelola tidak serta merta berjalan mulus. Tidak semua kelompok tani memahami mekanisme pelaksanaan proyek berbasis swakelola. Karena itu, DKPP berencana melakukan sosialisasi intensif kepada kelompok calon penerima manfaat, tidak hanya untuk program DBHCHT tetapi juga untuk program dari sumber dana lainnya seperti aspirasi dewan dan Dana Alokasi Umum (DAU).
“Kami ingin memastikan kelompok benar-benar paham tanggung jawab dan teknis pelaksanaannya. Dinas hanya sebagai fasilitator yang mendampingi, agar prosesnya berjalan akuntabel dan tepat sasaran,” kata Matsafii.
Capaian ini menjadi bukti bahwa dengan pelibatan masyarakat secara langsung, pembangunan bisa berjalan lebih efisien dan berdaya guna. Ketika petani diberi kepercayaan, mereka tak sekadar menunggu perintah, tapi bekerja dengan semangat karena merasa memiliki proyek tersebut.
Lebih dari sekadar menyelesaikan infrastruktur fisik, program ini membawa semangat baru dalam pembangunan pertanian. Gotong royong yang muncul dari bawah menjelma menjadi kekuatan utama. Di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan geografis, para petani membuktikan bahwa mereka tak hanya tangguh di ladang, tapi juga cekatan dalam membangun.
Semangat ini layak dijaga. Sebab di pundak mereka, ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian Kabupaten Blitar bergantung. Dan pada proyek seperti DBHCHT inilah, sinergi antara negara dan rakyat terlihat nyata, tanpa seremoni tetapi dengan hasil yang bisa disentuh.
