Nafkah dan Pilihan Cinta: Kisah Rasulullah SAW Saat Istrinya Meminta Tambahan Uang Belanja

Editor

Dede Nana

19 - Jul - 2025, 09:26

Ilustrasi (pixabay)


JATIMTIMES - Suatu hari dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW, terjadi peristiwa yang menggambarkan kompleksitas relasi suami-istri, tanggung jawab nafkah, dan keteguhan hati dalam memilih kehidupan akhirat. Peristiwa ini terekam dalam berbagai riwayat hadits, ketika para istri Rasulullah SAW meminta tambahan nafkah dan perhiasan, karena merasa apa yang diberikan selama ini masih belum mencukupi kebutuhan.

Permintaan tersebut sempat mengguncang suasana batin Rasulullah SAW. Wajah beliau tampak muram, bahkan memilih menjauh dan meninggalkan para istrinya selama hampir sebulan, suatu bentuk kontemplasi mendalam atas dinamika yang terjadi di dalam rumah tangga kenabian.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 19 Juli 2025: Aries Berlimpah Rezeki, Pisces Dipenuhi Ketenangan Finansial

Dalam menghadapi tuntutan ini, Rasulullah SAW tidak serta-merta marah atau bersikap keras. Beliau justru menawarkan dua pilihan yang mencerminkan kebesaran jiwa dan kedalaman iman: hidup sederhana bersama beliau dalam cinta dan keimanan, atau memilih kemewahan duniawi namun berpisah darinya secara baik-baik.

Pilihan ini bukan tanpa dasar. Firman Allah kemudian turun melalui Surat Al-Ahzab ayat 28–29, yang menjadi pedoman bagi Rasulullah SAW dalam mengambil sikap. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik” (QS. Al-Ahzab: 28)

Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan besar bagi mereka yang lebih memilih keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kehidupan akhirat. Kegundahan Rasulullah SAW tak luput dari perhatian dua sahabat terdekat sekaligus mertua beliau: Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketika mereka mengetahui sumber kegelisahan Rasulullah berasal dari para istrinya, mereka pun merasa geram terhadap anak-anak mereka sendiri, Aisyah dan Hafshah.

Dengan nada tegas, Abu Bakar bahkan berkata, “Seandainya aku mendapati putriku menuntut lebih kepadamu, wahai Rasulullah, aku pasti akan mencekik lehernya.” Ucapan serupa juga dilontarkan Umar bin Khattab.

Mereka kemudian mendatangi putrinya masing-masing dan dengan keras menegur, “Kamu menuntut sesuatu yang tak sepatutnya kepada Rasulullah SAW!” Aisyah dan Hafshah pun langsung menyadari kekeliruannya. Mereka bersumpah tak akan meminta sesuatu yang tidak dimiliki Rasulullah.

Turunnya wahyu tersebut disampaikan langsung oleh Rasulullah kepada Aisyah. Dalam situasi yang penuh ketegangan, Rasulullah SAW dengan lembut berpesan agar Aisyah tak tergesa-gesa dalam menjawab.

Namun Aisyah dengan yakin menanggapi, “Apakah dalam memilih engkau, aku harus meminta pendapat kepada kedua orang tuaku?” Ia pun langsung menyatakan pilihannya, “Aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”

Baca Juga : Daftar Mantan Pacar Erika Carlina, Siapa Ayah Anak yang Dikandungnya?

Jawaban itu menjadi gambaran kuat bagaimana cinta sejati kepada Rasulullah SAW bukan hanya soal dunia, tetapi tentang komitmen terhadap nilai-nilai ilahiah.

Dalam Islam, pemberian nafkah adalah kewajiban suami, sebagaimana ditegaskan dalam Surat An-Nisa ayat 34. Ayat ini menjadi fondasi bahwa laki-laki adalah pemimpin dan penanggung jawab atas keluarganya, baik secara spiritual maupun materiil.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Namun, peristiwa ini juga menunjukkan bahwa dalam memberi nafkah, dimensi spiritual dan kesederhanaan hidup tak kalah penting dari jumlah materi itu sendiri.

Menutup kisah ini, Jabir bin Abdullah meriwayatkan sabda Rasulullah SAW yang sangat menyentuh: “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengutusku sebagai seorang yang menyusahkan ataupun menjerumuskan orang lain pada kesusahan. Allah mengutusku sebagai pemberi pelajaran dan kemudahan.”


Topik

Agama, nafkahsuami, istriRasulullah, keluarganabi, islamkeluarga, rumahtanggaislam, rasulullahSAW, AisyahRA, HafshahRA, AbuBakarRA, UmarbinKhattab, nafkahdalamislam, su,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette