Tips Bertahan untuk Kelas Menengah, Saat Harga Bahan Pokok Terus Melambung 

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

30 - Jun - 2025, 07:25

Potret para pekerja di Indonesia, ilustrasi kelas menengah. (Foto: Shutterstock)


JATIMTIMES - Harga kebutuhan pokok yang terus naik membuat banyak warga kelas menengah di Indonesia mulai putar otak agar kondisi keuangan tetap stabil. Meski kerap dianggap sebagai kelompok mapan, nyatanya kelas menengah juga bisa terancam "turun kelas" jika tidak cermat mengatur pengeluaran.

Fenomena ini semakin terasa sejak pandemi, masa pemulihan hingga saat ini berada di fase efisiensi anggaran yang membuat ekonomi belum sepenuhnya pulih. Kebutuhan hidup meningkat, sementara pendapatan tak banyak berubah. 

Baca Juga : Sinergi Unikama dan Gugus 14 PAUD Dorong Kreativitas Anak Lewat Media Pembelajaran Inovatif

Berikut ini JatimTIMES rangkum definisi kelas menengah hingga strategi bertahan di tengah tekanan ekonomi dari berbagai pakar dan sumber. 

Apa Itu Kelas Menengah?

Istilah "kelas menengah" sering diidentikkan dengan masyarakat berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan tetap, dan berada di kondisi keuangan yang cukup nyaman. Kelas menengah juga tidak dianggap sebagai miskin, tetapi juga belum masuk kategori kaya. 

Namun, secara akademis dan statistik, ada beberapa definisi berbeda terkait siapa yang masuk kategori ini. Berikut ini penjelasannya menurut berbagai sumber: 
• Kamus Cambridge: Kelas menengah merupakan kelompok sosial yang terdiri dari profesi seperti dokter, pengacara, dan guru. Mereka biasanya berpendidikan tinggi dan penghasilan stabil.
• Birdsall, Graham, dan Pettinato: Mereka yang memiliki pendapatan 75-125% dari median pendapatan per kapita.
• Banerjee dan Duflo: Individu yang membelanjakan US$ 2-4 atau US$ 6-10 per kapita per hari.
• Bhalla: Mereka yang memiliki pendapatan tahunan lebih dari US$ 3.900 berdasarkan paritas daya beli (PPP).

Gambaran Kelas Menengah di Indonesia

Berdasarkan data dari Bank Dunia yang dikutip ekonom Chatib Basri, jumlah kelas menengah di Indonesia terus menurun sejak 2019. Pada 2018, kelas menengah mencakup 23% dari populasi. Namun, angkanya turun menjadi 21% di 2019 dan terus menyusut hingga tinggal 17% pada 2023.

Penurunan ini disertai peningkatan kelompok aspiring middle class (AMC), kelompok yang berada di ambang batas kelas menengah. Jumlah AMC naik dari 47% menjadi 49%, sedangkan kelompok rentan meningkat menjadi 23%.

Chatib menyebut, garis kemiskinan tahun 2024 ditetapkan di angka Rp 550 ribu per bulan. Berdasarkan itu, klasifikasi kelas pendapatan di Indonesia menjadi:
• Kelas menengah: Pengeluaran bulanan antara Rp 1,9 juta - Rp 9,3 juta.
• Kelas menengah bawah (AMC): Rp 825 ribu - Rp 1,9 juta.
• Kelompok rentan miskin: Rp 550 ribu - Rp 825 ribu.

Mengutip laporan BPS dalam DATAin Edisi 2023.03-1, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kelompok berpendapatan menengah bawah. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021:
• Menengah bawah: 69,05%
• Menengah atas: 22,14%
• Pendapatan tinggi: 1,81%
• Pendapatan rendah: 7%

Angka tersebut dihitung menggunakan pendekatan pengeluaran per kapita, dikonversi berdasarkan Gross National Income (GNI) per kapita yang dirilis Bank Dunia.

8 Masalah Kelas Menengah yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Meskipun tergolong dalam kelompok dengan penghasilan cukup stabil, kelas menengah tetap menghadapi berbagai tantangan keuangan dan psikologis yang tidak bisa dianggap remeh. Tuntutan gaya hidup, kenaikan biaya hidup, hingga tekanan sosial kerap menjebak kelompok ini dalam situasi yang penuh beban.

Mengutip Roadlesstraveledfinance.com, berikut ini delapan persoalan paling umum yang dihadapi kalangan kelas menengah, beserta solusi yang bisa diterapkan untuk menghadapinya.

1. Terjebak dalam Utang
Utang menjadi tantangan utama bagi banyak orang di kelas menengah. Mulai dari cicilan rumah (hipotek), pinjaman mobil, hingga utang kartu kredit dan pinjaman pendidikan, semua bisa menumpuk jika tidak dikelola dengan baik. Tuntutan untuk hidup nyaman sesuai standar kelas menengah justru bisa menjerumuskan ke jurang finansial jika tidak waspada.

Solusinya, buat daftar utang dan atur prioritas pembayaran. Hindari mengambil utang baru sebelum yang lama lunas. Gunakan pendekatan snowball atau avalanche untuk membayar utang lebih efisien.

2. Penghasilan Tidak Bertambah
Kenaikan gaji yang lambat atau bahkan stagnan menjadi hambatan besar untuk memperbaiki kondisi finansial. Padahal, biaya hidup terus meningkat.

Untuk menghadapi hal ini, ciptakan pendapatan pasif, seperti menyewakan aset atau memulai usaha kecil. Pekerjaan freelance juga bisa menambah pemasukan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

3. Minim Tabungan Pensiun
Banyak dari kalangan menengah yang belum menyiapkan dana pensiun secara serius. Gaji habis untuk kebutuhan harian, sehingga membuat rencana masa depan kerap terabaikan.

Solusinya dengan mulai menabung pensiun sedini mungkin, walaupun jumlahnya kecil. Gunakan fasilitas program pensiun seperti 401(k) atau investasi jangka panjang lainnya.

4. Tidak Bahagia dengan Pekerjaan
Meski pekerjaan bergaji tetap, banyak yang merasa tidak puas karena tekanan kerja, hubungan yang buruk dengan atasan, atau lingkungan kerja yang tidak mendukung.

Solusinya adalah pertimbangkan untuk meningkatkan keterampilan agar bisa pindah ke pekerjaan lain yang lebih memuaskan. Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kerja juga penting untuk kebahagiaan jangka panjang.

Baca Juga : Lomba Kicau Piala Kadisporapar Kota Malang 2025 Jadi Ajang Kenalkan Wisata

5. Harga-Harga Terus Naik
Kenaikan harga bahan pokok, pendidikan, dan layanan kesehatan membuat kelas menengah merasa tertekan. Tak jarang, hal ini menjadi beban pikiran hingga mengganggu kualitas tidur.

Solusinya adalah rancang ulang anggaran bulanan dengan fokus pada pengeluaran wajib. Gunakan promo, diskon, atau sistem belanja grosir untuk menekan biaya.

6. Pesimis soal Masa Depan
Dengan berbagai beban yang harus dihadapi, mulai dari utang hingga biaya hidup yang makin tinggi, banyak orang di kelas menengah merasa cemas dan pesimis menghadapi masa depan.

Solusinya adalah fokus pada tujuan jangka pendek yang realistis, seperti melunasi utang kecil terlebih dahulu. Keberhasilan kecil bisa menumbuhkan kembali rasa optimisme.

7. Tak Cukup Dana untuk Biaya Kuliah Anak
Biaya pendidikan tinggi menjadi kekhawatiran besar, terutama bagi orang tua kelas menengah. Di sisi lain, ada banyak kebutuhan penting lain yang harus dipenuhi.

Solusinya adalah mulai menabung sejak dini lewat program dana pendidikan atau tabungan khusus. Pertimbangkan juga opsi beasiswa, sekolah negeri, atau jalur pendidikan vokasi.

8. Tidak Punya Waktu Luang
Rutinitas kerja yang padat dan beban hidup membuat banyak keluarga kelas menengah kehilangan waktu berkualitas bersama keluarga.

Solusinya dengan menjadwalkan waktu khusus untuk kegiatan keluarga atau me time. Gunakan waktu libur untuk recharge agar tak mudah stres.

3 Kunci Bertahan untuk Kelas Menengah ala Miliarder Mark Cuban
Bertahan sebagai bagian dari kelas menengah di tengah tekanan ekonomi bukan perkara mudah. Namun, Mark Cuban, pengusaha sukses sekaligus investor ternama dalam acara Shark Tank, punya panduan yang bisa jadi pegangan. Dengan kekayaan mencapai US$ 5,7 miliar (setara Rp 96 triliun menurut Forbes), Cuban tentu tahu betul bagaimana cara mencapai dan mempertahankan posisi finansial yang kuat.

Dikutip dari Go Banking Rates, Cuban membagikan tiga prinsip utama yang bisa membantu siapa pun tetap bertahan, bahkan berkembang, di tengah tantangan ekonomi, terutama bagi mereka yang berada di kelompok kelas menengah.
1. Kerja Keras adalah Fondasi
Dalam sebuah wawancara dengan People, Mark Cuban menekankan bahwa kerja keras adalah pondasi utama kesuksesan. Menurutnya, keinginan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan tindakan nyata.

"Setiap orang ingin sukses. Tapi bagian terpenting adalah kerja yang dilakukan untuk mempersiapkan diri agar sukses," ujar Cuban.

Ia percaya bahwa kerja keraslah yang membawa seseorang mendekati tujuannya, bukan sekadar harapan atau mimpi.

2. Jangan Berhenti Belajar
Cuban juga menyoroti pentingnya belajar terus-menerus. Dalam wawancara bersama Men’s Health, ia menjelaskan bahwa kemampuan untuk terus belajar adalah kunci untuk bertahan dalam dunia yang berubah cepat.

"Saya menyadari bahwa belajar adalah keterampilan. Dan dengan terus belajar sampai hari ini, saya bisa tetap kompetitif, mengikuti perubahan, dan mengungguli kebanyakan orang," ungkap Cuban.

Ia menilai banyak orang kurang meluangkan waktu untuk memperbarui pengetahuan, padahal itu justru bisa menjadi keunggulan utama dalam berbagai aspek kehidupa, termasuk soal keuangan.

3. Pengetahuan adalah Aset Seumur Hidup
Dalam unggahannya di Bluesky, Cuban membahas pentingnya membekali diri dengan keterampilan yang relevan. Ia menekankan bahwa pengetahuan yang dimiliki tidak akan hilang, bahkan bisa dimanfaatkan seumur hidup.

"Setelah Anda memperoleh pengetahuan, itu tak akan pernah hilang dan bisa digunakan sepanjang hidup, bahkan diwariskan," katanya.

Menurutnya, pembelajaran berkelanjutan, baik lewat kursus daring, pelatihan, atau praktik langsung, merupakan investasi terbaik. Dia menekankan bahwa pengetahuan bukan hanya alat untuk bertahan, tetapi juga senjata untuk memenangkan persaingan.

Demikianlah rangkuman informasi lengkap, mulai dari definisi kelas menengah hingga strategi bertahan di tengah tekanan ekonomi dari pakar. Meski tak semua orang bisa menyamai kekayaan Mark Cuban, prinsip-prinsip yang ia pegang tetap relevan untuk siapa pun, terutama bagi kelas menengah yang ingin tetap kuat menghadapi tekanan ekonomi. Semoga informasi ini membantu. 


Topik

Serba Serbi, kelas menengah, indonesia, kebutuhan pokok,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette