Jawa 1676: Raden Trunojoyo dan Karaeng Galesong Merebut Tuban dan Sidayu
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Yunan Helmy
31 - May - 2025, 03:28
JATIMTIMES - Tahun 1676 menjadi momen krusial dalam sejarah Jawa, ketika ketegangan politik dan konflik bersenjata meletus di tengah kerentanan Kerajaan Mataram serta ambisi kolonial Belanda. Dalam konteks ini, Raden Trunojoyo, seorang bangsawan pemberontak dari Madura, bersama Karaeng Galesong, seorang bangsawan Makassar, melakukan serangkaian serangan strategis yang mengejutkan dengan merebut wilayah penting Tuban dan Sidayu.
Peristiwa ini tidak hanya mengubah peta kekuasaan Jawa, tetapi juga mengungkap kerumitan hubungan antara Mataram, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), dan kekuatan regional lain seperti Makassar.
Baca Juga : Tanggal Tayang One Piece Season 2 di Netflix dan Daftar Karakter Baru
Pertengahan abad ke-17, Mataram berada dalam kondisi genting. Di satu sisi, pemerintah Sunan Amangkurat I berusaha menahan pengaruh Belanda yang semakin menguat. Di sisi lain, wilayah pesisir timur Jawa, termasuk Tuban dan Sidayu, menjadi arena perebutan kekuasaan antara berbagai faksi, baik lokal maupun asing.
Pada awal 1676, kabar kedatangan armada Belanda yang berangkat untuk membasmi kekuatan Makassar diharapkan menjadi angin segar bagi Sunan. Namun, harapan ini segera berubah menjadi kecurigaan dan konflik.
Menurut catatan Daghregister tanggal 10 April 1676, meski kedatangan armada Belanda semula disambut antusias, terdapat sikap mencurigai dari sejumlah pejabat Mataram. Kecurigaan ini diperparah oleh lambannya kerja sama dan penahanan kapal-kapal Belanda di luar pos penjagaan, menandakan ketegangan tersembunyi di balik diplomasi resmi.
Pada 3 Maret 1676, armada Belanda tiba di Teluk Jepara, diikuti kunjungan para pembesar Mataram, termasuk bendaharawan istana dan pengawal raja. Mereka menjanjikan dukungan namun tindakan mereka justru menunjukkan sikap menahan dan meragukan niat Belanda. Sebagai contoh, mesiu yang ditawarkan Belanda ditolak, dan sejumlah kapal kecil yang dijanjikan untuk pendaratan tidak diberikan (Daghregister, 11 April 1676).
Surat dari Simkan pada 13 Maret 1676, yang dibawa oleh utusan Mataram, hanya berisi ucapan terima kasih tanpa tindak lanjut konkret, sehingga armada Belanda berangkat kembali pada 16 Maret dengan dukungan terbatas dan diiringi enam perahu kecil Jawa. Namun, armada Makassar berhasil lolos dari pengejaran, menambah keraguan dan ketidakpercayaan pihak Mataram terhadap bantuan Belanda.
Situasi berubah dramatis pada 2 April 1676 ketika enam anggota pengawal Sunan—Raden Putrajaya, Kartiwangsa, Sutadita, Sutajaya, Anggaduta, dan Sutapraja—mengirim surat ke penguasa daerah Jepara melalui Wangsadipa. Surat tersebut berisi perintah agar Belanda segera meninggalkan Jepara dan membawa barang-barangnya, dengan ancaman pengusiran permanen jika tidak diindahkan (Daghregister, 11 April 1676).
Penjelasan kepala daerah Wangsadipa mencerminkan konflik kepentingan di dalam Mataram sendiri. Ia berusaha menengahi dan mengusulkan agar Belanda tetap tinggal dengan syarat menjaga sikap dan tidak mengganggu pihak Sunan Amangkurat I. Namun, kecurigaan tetap meluas, terutama karena adanya pengaruh kelompok anti-Belanda yang dipimpin oleh bendaharawan istana, Nitisastra dan Wangsaita, serta keterlibatan ulama Giri yang memiliki kedekatan dengan Makassar.
Pada saat yang sama, situasi semakin memanas dengan munculnya pemberontakan yang dipimpin Raden Trunojoyo. Ia merupakan keturunan bangsawan Madura yang memiliki ambisi besar untuk menggulingkan kekuasaan Mataram dan mengambil alih wilayah penting di Jawa Timur. Trunojoyo bersekutu dengan Karaeng Galesong, bangsawan Makassar yang membawa pengikutnya setelah pengusiran Makassar dari Pulau Sulawesi oleh Belanda.
Raden Trunojoyo dan Karaeng Galesong melancarkan serangan hebat ke Tuban dan Sidayu, dua pelabuhan penting di pesisir utara Jawa Timur, yang berhasil mereka kuasai secara strategis. Keberhasilan ini mengganggu posisi Mataram dan juga meruntuhkan kepercayaan VOC terhadap penguasa setempat.
Menurut sumber Babad dan dokumen VOC, penguasaan Tuban dan Sidayu oleh Trunojoyo menandai puncak pemberontakan yang mengancam stabilitas Mataram dan kepentingan Belanda di Jawa.
VOC yang semula berharap dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat pengaruhnya di Jawa Timur kini menghadapi dilema besar. Pada satu sisi, mereka memiliki kontrak kerja sama dengan Sunan Amangkurat I. Namun, kegagalan armada Belanda dan meningkatnya pemberontakan membuat peran VOC menjadi ambigu.
Jan Franszen Holsteyn, komandan ekspedisi Belanda, yang lamban bertindak mendapat kritik dari VOC dan pejabat Batavia. Armada yang terdiri dari delapan kapal dan 300 serdadu ini tidak mampu mencegah Trunojoyo dan Karaeng Galesong mengambil alih Tuban dan Sidayu. Holsteyn bahkan berusaha membangun kerja sama dengan pejabat lokal, namun kecurigaan di kalangan Mataram dan rakyat menimbulkan hambatan signifikan.
Sikap istana Mataram yang terpecah menjadi faktor utama kegagalan politik dalam menghadapi pemberontakan. Kelompok pro-Belanda yang dipimpin oleh bendaharawan Nitisastra dan Wangsaita bertentangan dengan faksi anti-Belanda yang mendukung ulama Giri dan malah condong kepada pemberontak Makassar dan Trunojoyo.
Pangeran Purbaya, paman Sunan Amangkurat I, sangat marah dengan sikap pengkhianatan yang ditunjukkan oleh bendaharawan Nitisastra, bahkan mencaci maki sebagai pengkhianat. Ketegangan ini menunjukkan betapa keretakan internal dalam kekuasaan Mataram semakin tajam, membuka peluang bagi Trunojoyo dan sekutunya untuk memperluas pengaruh.
Peristiwa jatuhnya Tuban dan Sidayu oleh Raden Trunojoyo dan Karaeng Galesong pada tahun 1676 merupakan babak penting dalam sejarah politik Jawa. Kejadian ini bukan hanya gambaran pemberontakan semata, melainkan juga mencerminkan kompleksitas hubungan politik antara Mataram, VOC, dan kekuatan regional Makassar.
Ketegangan internal di Mataram, kecurigaan terhadap Belanda, dan ambisi para tokoh pemberontak menjadi benang merah yang menuntun pada perubahan besar dalam struktur kekuasaan Jawa Timur. Peristiwa ini membuka jalan bagi campur tangan Belanda yang semakin intensif dan mengantar pada fase baru kolonialisme di Nusantara.
Api di Plered: Narasi Historis Pemberontakan Trunojoyo–Galesong (1674–1680)
Di tengah arus besar sejarah Jawa abad ke-17, kisah Raden Trunojoyo dan Karaeng Galesong menyala laksana kobaran api yang meluluhlantakkan pusat kekuasaan, menantang takhta Mataram, dan mengoyak tatanan politik kerajaan terbesar di tanah Jawa. Ini bukan sekadar pemberontakan, melainkan ledakan akumulatif dendam sejarah, cita-cita kemerdekaan, dan perlawanan etno-religius terhadap dominasi kekuasaan lokal dan kolonial.
Raden Trunojoyo bukanlah pemberontak tanpa akar. Ia adalah cucu dari Pangeran Tengah alias Raden Koro (1592–1624), penguasa terakhir Arosbaya, pusat kekuasaan Islam awal di Madura. Jejak silsilahnya menembus ke masa Majapahit, mengalir dari Kiai Demang Plakaran, penyebar Islam dan keturunan Aria Damar, adipati Palembang yang konon merupakan anak Prabu Brawijaya V.Dari garis inilah mengalir warisan darah Majapahit-Islam yang membentuk landasan spiritual dan politik Trunajaya.
Baca Juga : DPKPCK Kabupaten Malang Bangun Jamban dan Pengolahan Limbah Permukiman, Sasar 737 KK pada 2025
Trah Plakaran melanjutkan kepemimpinan ke Kiai Pragalba (Pangeran Arosbaya), lalu ke Raden Pratanu atau Panembahan Lemah Duwur—penguasa religius-politik yang meneguhkan hubungan diplomatik dengan Kesultanan Pajang melalui pernikahan politik dengan putri Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya). Dari pernikahan inilah lahir Pangeran Tengah, ayah Raden Demang Malayakusuma, yang melahirkan Trunojoyo.
Penaklukan Madura oleh ekspedisi Sultan Agung sekitar 1624 menjadi trauma kolektif. Penaklukan ini bukan sekadar ekspansi teritorial Mataram, tapi juga pemaksaan simbolik atas kemerdekaan trah bangsawan Islam lokal. Duka atas runtuhnya Arosbaya diwariskan ke generasi berikutnya—dan menemukan bentuk militannya dalam sosok Trunojoyo.
Ketika Trunojoyo dewasa, Madura telah menjadi subordinat kekuasaan Mataram. Para bangsawan Madura, termasuk Cakraningrat, adalah sekutu paksa, bukan mitra sejati. Trunojoyo tumbuh dalam atmosfer politis yang korosif: pengawasan, intrik istana, dan pengkhianatan elite. Namun ia menyerap pelajaran: tentang pentingnya kekuatan militer, strategi aliansi, dan legitimasi religius.
Pernikahannya dengan putri Raden Kajoran menjadi langkah politis-strategis. Kajoran, ulama karismatik dari klan keturunan Sunan Tembayat (Bayat), adalah oposisi ideologis Amangkurat I. Ia menanamkan visi jihad, kebencian pada kemerosotan moral istana, dan semangat pemurnian Islam. Koalisi darah dan iman ini menjadikan Trunojoyo pemimpin pemberontakan yang tidak hanya militeristik, tapi juga bersandar pada narasi profetik.
Elemen eksplosif dalam pemberontakan ini datang dari luar Jawa: Karaeng Galesong, bangsawan Gowa yang terusir pasca kekalahan Makassar atas VOC dalam Perjanjian Bongaya (1667). Menolak tunduk, ia memimpin eksodus 800 lebih pejuang eksil Makassar, Bugis, dan Mandar ke Jawa. Ketika keponakan Trunojoyo menikah dengan Galesong, terbentuklah koalisi anti-kolonial paling radikal abad ke-17.
Pertemuan Trunojoyo, Kajoran, dan Galesong pada 1675 di Demung, timur Madura, adalah titik tolak revolusi. Dari pesisir inilah pasukan mereka—terdiri dari 800 Makassar, 300 Bugis, 1.000 Melayu, dan didukung 150 perahu—meluncur merebut pelabuhan strategis: Pasuruan, Pajarakan, Gombong, Gerongan, hingga Gresik. Serangan beruntun ini, menurut Daghregister VOC (Januari 1676), mengosongkan Surabaya dan mengguncang ekonomi Mataram.
Trunojoyo bukan sekadar menyerbu kota. Ia memukul sistem. Jalur dagang hancur, struktur birokrasi regional lumpuh, dan ketakutan melanda elite penguasa. Simbol otoritas Mataram terguncang.
Juni 1677 menjadi kulminasi: Plered, pusat kekuasaan Amangkurat I, jatuh. Dalam kekacauan, sang raja melarikan diri ke barat bersama putranya, Adipati Anom. Dalam pelarian ke Batavia untuk meminta bantuan VOC, Amangkurat I wafat di Tegal dan dimakamkan di Tegal Wangi.
Kejatuhan Plered bukan hanya runtuhnya kota, tapi juga kehancuran simbolik. Untuk pertama kalinya sejak Panembahan Senapati mendirikan dinasti, istana pusat jatuh ke tangan musuh. Ketika istana terbakar, legitimasi Mataram ikut hangus. Ini mendorong perubahan besar: VOC, yang selama ini menjaga jarak dalam urusan internal Jawa, kini langsung terlibat.
Aliansi Trunojoyo-Galesong yang semula kokoh mulai retak. Galesong merasa marginalisasi setelah kemenangan. Ia memisahkan diri dan membangun basis baru di Kakaper (1678), tetapi pada Oktober 1679, VOC dan sekutu Bugis menyerbu. Galesong melarikan diri ke Trunajaya, tapi wafat secara misterius pada 21 November 1679—entah karena sakit, racun, atau pembunuhan politik.
Trunojoyo sendiri mundur ke Pegunungan Kediri. Di sana, pada 25 Desember 1679, ia ditangkap oleh pasukan gabungan Mataram-VOC. Eksekusinya dilakukan pada 2 Januari 1680 di Payak, disaksikan langsung oleh Amangkurat II sebagai simbol kembalinya kekuasaan.
VOC mencatat Trunajaya sebagai bandiet—perampok, pengacau, pemberontak. Namun dalam narasi lisan Madura, ia adalah mujahid yang tak tunduk. Di Gowa, Karaeng Galesong adalah pahlawan eksil yang tak rela negerinya dijajah. Di Jawa, Raden Kajoran dikenang sebagai wali yang melawan kemerosotan moral istana.
Pemberontakan ini adalah refleksi dari perebutan narasi: siapa penguasa yang sah? Apakah legitimasi datang dari silsilah, kekuatan senjata, atau restu spiritual? Dalam pemberontakan Trunojoyo-Galesong, ketiganya bersatu melawan tirani.
Pemberontakan Trunojoyo menandai babak baru sejarah Jawa: era di mana VOC menjadi penguasa bayangan, tempat raja-raja menggadaikan legitimasi demi keamanan takhta. Trunajaya kalah secara militer, namun api yang dinyalakannya tak pernah benar-benar padam. Ia menjadi lambang bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penghianatan, kesewenang-wenangan, dan dominasi asing, akan selalu ditantang.
