Batu Asat: Keresahan Kolektif Pemuda di Kota Batu ketika Sumber Mata Air Menyusut Drastis

30 - Apr - 2025, 05:36

Diskusi film dokumenter Batu Asat yang didasari keresahan kolektif komunitas pemuda di Kota Batu terhadap masalah lingkungan, utamanya susutnya sumber air. (Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)


JATIMTIMES - Batu asat, Batu sumuk, Batu dadi beton!, adalah beberapa unek-unek yang tertulis dalam selebaran sebuah diskusi film di Kota Batu, Selasa (29/4/2025) malam kemarin. Keresahan mencuat dari kolektif beberapa komunitas pemuda lantaran masalah lingkungan dari kota wisata, yang mana dianggap mengkhawatirkan.

Diskusi film yang dipantik Purnawan Dwikora Negara, aktivis Klub Indonesia Hijau (KIH) Regional 12 Malang, dan Wishnu Tri, peneliti, melibatkan berbagai komunitas lingkungan hidup di Kota Batu, diantaranya Warga Gunung, Titik Dua Kolektif serta kelompok komunitas lainnya.

Baca Juga : Kenali Penyebab Pusing dan Sakit Kepala pada Anak, PAFI Berikan Solusi Pengobatan

Koordinator Pelaksana, Ciwen Ilusi, dari Komunitas Titik Dua Kolektif mengatakan bahwa warga Kota Batu, termasuk pemuda diajak menyadari masalah lingkungan yang ada. Salah satunya air tanah yang terancam krisis lantaran ancaman beragam elemen industri pariwisata seperti perhotelan dan tempat hiburan, hingga proyek pemerintah yang dinilai tidak pro lingkungan.

Dari data yang dihimpun dari catatan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jatim, Kota Batu sudah mengalami penyusutan drastis sumber mata air. Dalam 15 tahun terakhir, sumber mata air aktif yang semula berkisar 111 titik hanya tersisa separuhnya. Yakni 58 sumber air di tiga kecamatan.

Di Kamatan bumiaji dari 57 titik mata air menjadi 28 titik. Di Kecamatan Batu dari 32 titik menjadi 15 titik. Dan di Kecamatan Junrejo dari 22 titik menjadi 15 titik. Begitu pula dengan hutan di Kota Batu. Dari 11.227 ha hutan di kota batu, 5.900 hektare mengalami kerusakan, mencapai 50 persen luasan hutan yang ada.

"Masalah air dari adanya pembangunan yang rakus lahan dan rakus air. Data BPS tahun 2023 ada 999 hotel di kota batu. Ketika hutan rusak, alih alih menanam pohon justru menanam beton melalui beragam pembangunan hotel dan tempat wisata. Dampaknya tentu kota ini menjadi semakin krisis air, udara semakin panas, juga bencana," terang Ciwen.

Lebih lanjut, Ciwen menyebut, perkembangan industri pariwisata yang dianggap ugal-ugalan membuat wilayah resapan juga semakin berkurang. Para aktivis lingkungan seperti dirinya menganggap, landscape di kota batu berfungsi untuk menyimpan air. Jika hutannya semakin berkurang atau rusak, wilayah resapan ini juga semakin hilang.

"Tidak menutup kemungkinan batu akan krisis air. Apalagi, beberapa sumber mata air dikuasai atau diprivatisasi oleh hotel, tempat wisata dan pertanian berskala besar," tambahnya.

Ciwen berujar, Kota Batu kini berbeda dengan kondisi dahulu, terutama sejak menyandang identitas Kota Wisata Batu. Ancaman demi ancaman kian memburu terutama karena pembangunan sektor-sektor pariwisata seperti hotel, tempat wisata, dan lainnya yang sedikit demi sedikit menjadi faktor alih fungsi lahan dan faktor krisis ekologis di Kota Batu.

Baca Juga : Aliansi Senyap: Persekutuan Rahasia Raden Mas Rahmat dan Raden Kajoran Menuju Amangkurat II

Ia melanjutkan, hal ini juga melalui izin yang diberikan oleh pemerintah Kota Batu yang lalai dan abai untuk mempertimbangkan dampak ekologis yang akan terjadi akibat pembangunan. 

Kesadaran lingkungan kemudian terus dikampanyekan. Salah satunya melalui menonton film dokumenter soal advokasi Sumber Mata Air Umbul Gemulo. Sebab, menurutnya, pelestarian Gemulo jadi salah satu contoh perjuangan untuk terus diingat.

Mengenai sumber mata air, menurut Ciwen, ada keterkaitan agenda pemerintah berencana membangun proyek Geotermal di wilayah Kota Batu. "Jadi, Kota Batu termasuk ke dalam proyek strategi nasional pembangunan Geotermal. Ada di beberapa titik salah satunya di Arjuno-Welirang sebagian wilayah Kota Batu dan sebagiannya Mojokerto. Untuk realisasinya, desas desypada 2030 mendatang," urainya.

Untuk itu, sambung dia, terkait pembangunan Geotermal yang nantinya bisa merusak lingkungan. Maka, dibahas mulai sekarang oleh puluhan kelompok aktivis lingkungan hidup Kota Batu. Di mana Kota Batu ternyata masih banyak rencana-rencana yang tidak diketahui oleh masyarakat.

"Artinya, harapan kami bisa memantik kawan-kawan yang lain. Bahwa ini tidak hanya pada lingkup terkecil tetapi bisa menyebar ke kelompok yang lain. Dan, nanti di Meidy tentunya melibatkan teman-teman yang ada di luar jangkauan kami. Yang jelas, memberikan kesadaran kepada yang lain. Dengan kesimpulan, kami tidak setuju dengan pembangunan Geotermal," tegasnya.


Topik

Lingkungan, kota batu, batu asat, sumber mata air,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette