free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ruang Sastra

Aliansi Senyap: Persekutuan Rahasia Raden Mas Rahmat dan Raden Kajoran Menuju Amangkurat II

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

30 - Apr - 2025, 16:39

Loading Placeholder
Ilustrasi Raden Mas Rahmat berbincang serius dengan Raden Kajoran di kediaman sang ulama karismatik, tahun 1670. Dalam pertemuan senyap inilah cikal bakal aliansi rahasia menuju lahirnya Amangkurat II mulai dirajut. (Foto: Ilustrasi dibuat oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam pusaran kekuasaan Mataram pasca wafatnya Panembahan Senapati dan Sultan Agung, sistem suksesi kerajaan mengalami penyimpangan demi penyimpangan. Jika sebelumnya pewarisan tahta bersandar pada hukum adat dan pertimbangan kearifan leluhur, maka sejak masa Amangkurat I (1646–1677), pola ini tergantikan oleh nepotisme absolut dan politik kekerasan. 

Melansir berbagai sumber, tahun 1670 mencatat satu momen penting dalam sejarah dinasti. Tepatnya peristiwa ketika Raden Mas Rahmat, putra mahkota yang kelak bergelar Amangkurat II, mulai menyusun manuver politik untuk merebut tahta dari tangan ayahnya sendiri. Salah satu langkah strategisnya adalah mendekati tokoh spiritual-politik paling disegani di pedalaman Jawa: Panembahan Rama ing Kajoran.

Baca Juga : Petisi Online Menggema, Tekanan Publik Meningkat: Desakan Tangkap TP2ID Menguat di Kasus Dam Kali Bentak

Sejarah tak hanya ditulis oleh mereka yang duduk di singgasana, tetapi juga oleh mereka yang diasingkan, dicurigai, atau memilih jalur spiritual sebagai sarana perjuangan. Dalam konteks ini, pendekatan historiografis terhadap hubungan Raden Mas Rahmat dengan Raden Kajoran menjadi sangat relevan. Ia bukan sekadar kisah konspirasi pewaris tahta, melainkan juga kisah tentang pertemuan dua garis keturunan: satu dari dinasti raja, satunya dari tradisi wali.

Luka yang Mendorong Konspirasi

Tahun 1659 adalah tahun berdarah. Pangeran Pekik, mertua Amangkurat I dan tokoh aristokrat utama dari Surabaya, dibantai bersama seluruh keluarganya. Babad menyebut pembantaian ini sebagai bagian dari kebijakan "penjernihan" istana oleh raja demi menyingkirkan para pesaing dan pihak yang dicurigai sebagai pengganggu stabilitas dinasti. Namun yang terlupakan adalah dampak psikologis dari tragedi tersebut terhadap Raden Mas Rahmat.

Sebagai cucu langsung Pangeran Pekik dari garis ibu, Rahmat tidak hanya kehilangan sosok pelindung dan mentor, tetapi juga kehilangan jangkar moral dan jaringan aristokratnya di pesisir timur. Meski secara formal diampuni dan dikembalikan ke keraton, luka dalam batin Rahmat tidak pernah sembuh. Di dalam dirinya bertarung dua kekuatan: penghormatan kepada ayah sebagai raja dan dendam tersembunyi karena kehilangan separuh darahnya.

Menurut naskah Babad Pakepung (jilid XI, hlm. 28-31), pada tahun 1670 Rahmat memutuskan untuk mencari “warana” — tabir perlindungan atau tokoh bayangan — yang bisa menjadi sarana untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Dalam dilema itu, ia teringat kepada figur kakek dari garis leluhur spiritual: Panembahan Rama ing Kajoran, tokoh kharismatik dari keturunan Sunan Bayat.

Misi Rahasia ke Kajoran

Rahmat tidak turun tangan langsung. Ia mengutus tiga lurah ke Kajoran, yakni Pranantaka, Sendi (atau Sumending), dan Ki Ondakara. Ketiga nama ini, meski berbeda dalam berbagai versi babad, bukanlah tokoh fiktif. Mereka muncul dalam berbagai dokumen kolonial, antara lain Daghregister VOC yang mencatat nama Lura Sindy (Zindy) sebagai utusan Raden Mas Rahmat ke Batavia pada 25 September 1671 dan 15 April 1672. Bahkan Lurah Sindy ini di kemudian hari menjadi Adipati Urawan dan memimpin Surabaya, menandatangani kontrak dengan VOC pada Oktober 1677. Ini membuktikan bahwa operasi diplomatik Rahmat tidak berhenti di Kajoran, tapi berjejaring hingga ke Batavia.

Kajoran, yang secara geografis terletak di antara pegunungan dan pusat-pusat kekuasaan pedalaman, menjadi pilihan strategis. Ia bukan sekadar tempat, melainkan simbol alternatif kekuasaan dan spiritualitas. Raden Kajoran tidak memegang jabatan formal, tetapi reputasinya melebihi banyak bupati dan patih di Mataram. 

Raden Kajoran: Dari Pertapa ke Pemimpin Simbolik

Sumber utama mengenai figur Raden Kajoran berasal dari riset-riset lokal seperti karya Raden Ngabei Tjondrapradana dari Solo, “Tjandrakanta”, hingga karya orientalis Belanda seperti Meinsma dan J.K.J. de Jonge. Namun, penggambaran paling dramatis datang dari penyair W.J. Hofdijk dalam In ’t Hart van Java (1881), yang melukiskan Kajoran sebagai “raksasa di tengah manusia-manusia kerdil”, yang berusaha mengubah jalannya sejarah Jawa.

Untuk memahami posisi strategis Raden Kajoran, penting menelusuri silsilahnya. Berdasarkan tulisan tangan kuno, silsilah keluarga Kajoran menautkan tokoh ini dengan tokoh besar Islam Jawa: Kiai Ageng Pandanaran alias Sunan Tembayat. Panembahan Kajoran adalah keturunan dari Sad Kalkum ing Wotgalih, kemudian Said Kalkum yang kawin dengan dua putri Pandanaran. Maka dari jalur ibu, Kajoran merupakan cicit dari Sunan Tembayat.

Hubungan ini penting, karena Tembayat merupakan pusat tarekat dan dakwah yang tidak sepenuhnya tunduk kepada Dinasti Mataram. Bahkan, Ki Ageng Giring dari jalur Tembayat disebut sebagai rival spiritual Ki Ageng Pamanahan, pendiri Mataram. Kebanggaan terhadap asal-usul Tembayat inilah yang kemudian menjadi identitas ideologis Kajoran dan pengikutnya.

Menariknya, keluarga Kajoran juga memiliki pertalian pernikahan dengan Dinasti Mataram, meski hanya dalam beberapa generasi. Putri Panembahan Kajoran menikah dengan Panembahan Senapati, pendiri dinasti, dan melahirkan Pangeran Adipati Riyamenggala dan Jayaraga. Selain itu, Raden Ayu Wangsacipta, putri Senapati, menikah dengan Raden Kajoran generasi berikutnya.

Ikatan ini menunjukkan bahwa walau berasal dari lingkaran luar istana, Kajoran bukanlah orang asing bagi elite Mataram. Ia berdiri di antara dua dunia: spiritual keagamaan Tembayat dan politik dinasti Kesultanan.

Raden Kajoran tidak hanya sakti dalam pandangan rakyat, tetapi juga menjadi simbol resistensi terhadap absolutisme Amangkurat I. Para pemberontak pasca-1680, seperti Wanakusuma dan Adipati Nerangkusuma, juga berasal dari garis Tembayat. Mereka semua menjadikan Kajoran sebagai figur panutan.

Tembayat dan Tradisi Resistensi

Kajoran dan Tembayat adalah dua kutub spiritual yang selalu berseberangan dengan Keraton. Walaupun Sultan Agung pernah mengunjungi Tembayat pada 1633, hubungan antara pusat kekuasaan dan tradisi Tembayat selalu tegang. Keturunan Tembayat jarang diberi tempat dalam birokrasi Mataram, justru mereka tampil sebagai oposisi kultural.

Raden Kajoran bahkan pernah menulis surat kepada Adipati Martapura (Kepala Daerah Jepara) yang menyebut permohonan spiritual untuk mendapat bantuan dari “buyut-buyut kita di Kajoran, Tembayat, dan Semarang”. Ini mencerminkan identitas alternatif yang bukan hanya religius, tetapi juga genealogis dan politis.

Politik Bayangan: Raden Mas Rahmat dan Gerakan Senyap

Baca Juga : Wali Kota Blitar Mas Ibin Pimpin Panen Padi Sehat di Pakunden: Komitmen Wujudkan Kemandirian Pangan

Aliansi antara Pangeran Rahmat dan Kajoran bukan aliansi formal. Ini adalah politik bayangan yang tidak tercatat dalam dokumen istana, tetapi hidup dalam tradisi tutur dan dokumen Belanda. Kajoran, dengan reputasi spiritualnya, mampu menghimpun pasukan rakyat, santri, dan jaringan ulama yang tidak terjangkau Keraton. Ia memberi legitimasi spiritual bagi Rahmat, dan sebagai balasannya, Rahmat memberi dukungan politik.

Langkah ini mencerminkan taktik “diplomasi berlapis” yang dilakukan Rahmat. Dari satu sisi, ia tetap tampil sebagai putra mahkota yang setia. Tapi dari sisi lain, ia membangun poros alternatif: Kajoran sebagai penyangga spiritual, Batavia sebagai mitra pragmatis, dan elit pesisir timur sebagai jaringan aristokrat pendukung.

Konsekuensi Historis dan Lahirnya Pemberontakan

Hubungan ini menjadi cikal bakal pemberontakan besar yang meledak tujuh tahun kemudian: Perang Trunajaya (1677–1680). Meski yang tampil sebagai tokoh utama dalam perang itu adalah Raden Trunajaya, sebenarnya skema besarnya sudah dirancang sejak tahun 1670. Trunajaya hanyalah panglima, sementara Raden Kajoran adalah penasehat spiritual dan ayah mertua dari Trunajaya.

Pada akhirnya, Raden Mas Rahmat memanfaatkan gelombang ini untuk merebut tahta. Setelah keraton Plered jatuh pada 1677, ia melarikan diri ke pesisir dan bernegosiasi dengan VOC. Pada 1678, ia diangkat oleh Kompeni sebagai raja baru dengan gelar Amangkurat II. Namun harga yang dibayarnya mahal: Kajoran gugur dalam peperangan, Trunajaya dihukum mati, dan Mataram menjadi boneka VOC.

Historiografi kolonial cenderung memarginalkan tokoh seperti Kajoran, yang sulit dikendalikan dan tak bisa diklasifikasikan sebagai sekutu atau musuh semata. Dalam sejarah Jawa, ia pun terjebak antara stigma pemberontak dan santri karismatik. Namun dalam konteks sejarah sosial-politik Jawa abad ke-17, Kajoran adalah simbol perlawanan kultural terhadap sentralisasi kekuasaan Mataram dan kolonialisme VOC.

Warisan Kajoran hidup dalam tokoh-tokoh perlawanan pasca-1677. Nama seperti Wanakusuma, yang berjuang hingga 1680-an, adalah penerus semangat Tembayat. Bahkan Adipati Nerangkusuma yang anti-Belanda memiliki darah Kajoran.

Kajoran adalah bukti bahwa sejarah Jawa bukan hanya soal istana, tetapi juga soal jaringan santri, pertapa, dan bangsawan daerah yang menolak tunduk pada narasi tunggal kekuasaan. Ia menjadi sosok yang menjembatani spiritualitas, politik, dan genealogi dalam satu figur.

Warisan Politik Bayangan

Aliansi antara Raden Mas Rahmat dan Raden Kajoran bukan sekadar peristiwa politik insidental. Ia adalah titik balik yang menandai munculnya praktik “politik bayangan” di tanah Jawa—suatu strategi kekuasaan yang beroperasi melalui jaringan spiritual, genealogi bangsawan, dan solidaritas etno-regional untuk menandingi dominasi kekuasaan pusat.

Dalam perspektif historiografi kritis, kisah ini membuktikan bahwa lanskap politik Jawa abad ke-17 tidak semata dibentuk oleh kekuatan militer terbuka, melainkan juga oleh memori kolektif atas ketidakadilan, kesetiaan genealogis, dan kecakapan menjalin aliansi dalam sunyi. Raden Mas Rahmat tidak dapat diposisikan hanya sebagai pahlawan atau pengkhianat; ia adalah representasi dari generasi bangsawan transisi—yang bergulat antara tuntutan darah, godaan takhta, dan komitmen terhadap warisan spiritual.

Melalui pembacaan lintas sumber—dari babad dan silsilah lokal hingga arsip-arsip Belanda—Raden Kajoran tampil sebagai figur sentral dalam pergolakan Mataram. Ia bukan semata pertapa, tetapi negarawan alternatif; bukan hanya pemberontak, melainkan penjaga legitimasi spiritual trah Tembayat. Dalam denyut sejarah, namanya menggema dari lereng Kajoran ke halaman-halaman dagboek VOC, dari laku asketik ke siasat politik yang menandai babak baru dalam dinamika kekuasaan Jawa.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri

--- Iklan Sponsor ---