BEI Kembali Buka Perdagangan Bursa Setelah IHSG Anjlok, Ini Penjelasannya
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
18 - Mar - 2025, 02:09
JATIMTIMES - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi melanjutkan kembali perdagangan saham setelah sebelumnya sempat dihentikan sementara akibat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok drastis pada Selasa (18/3) pagi.
IHSG tercatat mengalami penurunan 6,52 persen hingga menyentuh level 6.049, sehingga memicu mekanisme penghentian otomatis atau trading halt.
Baca Juga : 59 Titik Ladang Ganja di Bromo Terungkap, Netizen Kaitkan dengan Tarif Drone yang Mahal
Langkah penghentian sementara dilakukan tepat pukul 11:19 WIB setelah indeks turun lebih dari 6 persen, melewati ambang batas yang telah ditetapkan regulator.
BEI menegaskan bahwa keputusan ini diambil sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 yang mengatur mekanisme penanganan perdagangan dalam kondisi darurat. Dalam aturan tersebut, disebutkan bahwa trading halt akan diterapkan jika IHSG turun 5 persen atau lebih dalam satu sesi perdagangan.
Setelah situasi dianggap lebih stabil, BEI mengumumkan bahwa perdagangan akan kembali dibuka pada pukul 11:49:31 WIB melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) tanpa ada perubahan jadwal lebih lanjut.
Dibandingkan dengan indeks saham utama di Asia, IHSG mengalami tekanan paling besar. Pada pukul 11:49 WIB, indeks turun 6,58 persen atau kehilangan 420,97 poin ke level 6.046. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan indeks lainnya di kawasan Asia yang justru mencatatkan penguatan.
Sebagai contoh, indeks Nikkei 225 di Jepang mengalami kenaikan 1,44 persen, sementara bursa Malaysia (KLSE) dan Singapura (STI) juga bergerak positif dengan masing-masing naik 1,04 persen dan 1 persen.
Kondisi ini menunjukkan anomali yang cukup mencolok di pasar keuangan Indonesia.
Menurut Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, kejatuhan IHSG ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
"Jika melihat bursa Asia seperti Nikkei yang naik 1,4 persen, Shanghai yang hanya menguat 0,09 persen, STI 1 persen, dan FKLCI 1 persen, maka koreksi IHSG mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap ekonomi Indonesia dan pasar keuangan," ujar Oktavianus, dikutip CNNIndonesia, Selasa (18/3/2025).
Beberapa faktor disebut-sebut menjadi pemicu pelemahan IHSG yang signifikan. Oktavianus mengungkapkan bahwa meningkatnya credit default swap (CDS) Indonesia ke 76 basis poin per 27 Februari 2025 turut memperburuk sentimen di pasar saham.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi sebesar 0,6 persen sejak awal tahun, sementara selisih imbal hasil (spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan US Treasury 10 tahun melebar hingga 255 basis poin.
"Selain itu, pemangkasan rating saham Indonesia oleh Morgan Stanley dan Goldman Sachs yang mengkhawatirkan pelebaran defisit anggaran turut berkontribusi terhadap pelemahan IHSG," tambah Oktavianus.
Tak hanya itu, investor asing terus menarik dana mereka dari pasar modal Indonesia. Hingga 17 Maret 2025, arus modal keluar (capital outflow) tercatat mencapai Rp26,9 triliun, menunjukkan tingginya tekanan jual dari investor global.
Baca Juga : Warga Situbondo Akui Manfaat Program Berantas: Berobat Gratis Tanpa Batas Anti Ribet
"Jika IHSG terus melemah hingga minus 5% atau lebih, kemungkinan regulator akan melakukan trading halt untuk menstabilkan pasar," jelasnya.
Sementara itu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyoroti faktor eksternal yang turut berkontribusi terhadap tekanan di pasar saham Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan perdagangan Amerika Serikat setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden terbaru.
"Trump kembali mengangkat isu perang dagang, terutama dengan negara-negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Ini bisa berdampak negatif terhadap ekonomi global dan pasar keuangan," ujarnya.
Selain itu, arus modal asing yang terus keluar dari pasar Indonesia juga menjadi perhatian. Ketidakpastian ekonomi domestik, terutama terkait defisit anggaran yang baru diumumkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, semakin memperburuk sentimen pasar.
"Investor mulai menarik dananya karena ketidakpastian ekonomi domestik, terutama terkait defisit anggaran yang baru saja diumumkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani," ungkapnya.
Jika tidak ada langkah penanganan yang efektif, Ibrahim memperkirakan defisit anggaran bisa semakin melebar hingga akhir tahun.
Fluktuasi nilai tukar rupiah juga menjadi faktor tambahan yang membebani pasar. Dengan meningkatnya ketegangan global dan risiko perang dagang, Ibrahim memperkirakan rupiah bisa melemah hingga Rp16.900 per dolar AS sebelum akhir tahun. "Kondisi ini pasti akan mempengaruhi IHSG," tambahnya.
Selain faktor ekonomi, kondisi geopolitik global juga turut memperburuk situasi pasar modal. Ibrahim menyoroti konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, terutama setelah serangan Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 120 orang.
"Serangan Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 120 orang telah memicu eskalasi perang terbuka dengan Hamas. Konflik ini menyebabkan dolar AS kembali menguat, sementara pasar menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko," pungkas Ibrahim.
