free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ekonomi

Ekspor Jatim Awal 2026 Turun 2,92 Persen, Pelemahan Perhiasan Jadi Penyebab Utama

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

12 - Jul - 2026, 19:07

Loading Placeholder
Aktivitas ekspor di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. (Foto: Pinteres)

JATIMTIMES - Kinerja ekspor Jawa Timur pada lima bulan pertama 2026 masih berada dalam tren pelemahan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat nilai ekspor Januari hingga Mei 2026 mencapai US$10,91 miliar, atau turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$11,24 miliar.

Penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya ekspor nonmigas yang masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Jawa Timur. Selain itu, ekspor migas juga mengalami kontraksi yang jauh lebih dalam akibat menurunnya ekspor minyak mentah dan gas.

Baca Juga : Komisi B DPRD Jatim Soroti Paradoks Ekonomi Melesat tapi Kemiskinan Tertinggi

Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan secara kumulatif ekspor nonmigas masih mendominasi dengan nilai US$10,75 miliar atau sekitar 98 persen dari total ekspor Jawa Timur. Namun, nilainya tetap mengalami penurunan sebesar 2,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

“Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya ekspor nonmigas, sementara ekspor migas mengalami penurunan yang jauh lebih besar,” kata Herum.

Sementara itu, khusus pada Mei 2026, nilai ekspor Jawa Timur tercatat sebesar US$2,38 miliar, turun 18,51 persen dibandingkan Mei 2025. Kondisi serupa juga terjadi pada ekspor nonmigas yang menyusut 18,31 persen menjadi US$2,37 miliar.

Meski secara keseluruhan mengalami penurunan, beberapa komoditas justru menunjukkan pertumbuhan positif. Komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati (HS 15) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan pertumbuhan 28,70 persen menjadi US$1,13 miliar. Sebagian besar produk tersebut diekspor ke Tiongkok dan Malaysia.

Selain itu, komoditas tembaga (HS 74) juga meningkat 20,79 persen menjadi US$1,18 miliar, disusul bahan kimia organik (HS 29) yang tumbuh 12,19 persen menjadi US$492,04 juta.

“Beberapa komoditas utama masih menunjukkan kinerja yang cukup baik, terutama lemak dan minyak hewani atau nabati, tembaga, serta bahan kimia organik yang mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” tambah Herum.

Di sisi lain, komoditas perhiasan dan permata (HS 71) justru mengalami penurunan paling dalam, yakni 40,80 persen menjadi US$1,26 miliar. Padahal, komoditas tersebut selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar ekspor Jawa Timur. Penurunan juga terjadi pada komoditas ikan, krustasea, dan moluska (HS 03) yang turun 5,24 persen menjadi US$479,27 juta.

Herum menambahkan, melemahnya ekspor perhiasan memberikan pengaruh cukup besar terhadap total nilai ekspor Jawa Timur karena kontribusinya yang selama ini cukup dominan.

“Kontraksi pada komoditas perhiasan dan permata menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju ekspor Jawa Timur selama lima bulan pertama tahun ini,” terangnya.

Baca Juga : 5 Cara Membangkitkan Semangat Anak Kembali Sekolah Setelah Libur Panjang, Orang Tua Perlu Lakukan Ini

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar ekspor terbesar bagi Jawa Timur dengan nilai mencapai US$1,81 miliar atau berkontribusi 16,82 persen terhadap total ekspor nonmigas. Disusul Amerika Serikat sebesar US$1,58 miliar.

Menariknya, meski total ekspor mengalami penurunan, nilai ekspor ke sejumlah negara justru meningkat signifikan. Ekspor ke Tiongkok tumbuh 30,20 persen, sementara ekspor ke Hong Kong melonjak hingga 107,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Timur. Peningkatan permintaan dari beberapa negara tujuan menunjukkan masih adanya peluang pasar yang cukup baik bagi produk-produk ekspor Jawa Timur," ujarnya.

Jika dilihat berdasarkan kawasan, ekspor Jawa Timur ke ASEAN mencapai US$2,37 miliar, naik 8,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara ekspor ke Uni Eropa juga meningkat 8,92 persen menjadi US$741,15 juta.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekspor Jawa Timur dengan nilai US$10,29 miliar atau menyumbang 94,32 persen terhadap total ekspor nonmigas. Namun sektor ini masih mengalami penurunan 1,08 persen, dipengaruhi melemahnya ekspor perhiasan, bahan kimia organik, serta produk kayu.

Sementara itu, sektor pertanian mencatat ekspor sebesar US$439,02 juta, turun 23,39 persen, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya turun 21,64 persen menjadi US$18,09 juta.

“Struktur ekspor Jawa Timur masih didominasi sektor industri pengolahan. Ke depan, penguatan daya saing produk ekspor dan diversifikasi pasar menjadi faktor penting untuk menjaga kinerja ekspor tetap tumbuh di tengah dinamika perdagangan global," tutupnya.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---