Siapa Gus Kikin? Calon Ketum PBNU Peraih Suara Terbanyak
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
31 - Aug - 2026, 05:46
JATIMTIMES - Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi perhatian dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu meraih suara terbanyak dalam penjaringan calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.
Gus Kikin memperoleh 472 suara. Perolehan tersebut mengungguli sejumlah nama lain yang masuk dalam penjaringan calon ketua umum.
Baca Juga : KH Miftachul Akhyar Kembali Jabat Rais Aam PBNU Melalui AHWA
Dukungan terhadap Gus Kikin sebenarnya sudah muncul sebelum Muktamar NU digelar. PWNU Jawa Timur bersama PCNU se-Jawa Timur sebelumnya sepakat menugaskannya untuk maju sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU.
Penugasan itu diputuskan dalam rapat persiapan Muktamar ke-35 NU yang digelar PBNU dan PWNU Jawa Timur di Surabaya, Selasa (21/7/2026).
Meski mendapat dukungan organisasi, Gus Kikin mengatakan dirinya tidak pernah meminta untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU.
"Saya nyatakan saya tidak akan mencalonkan diri. Kalau saya ditugaskan ya mau tidak mau memang harus terima. Oleh karena itu saya sampaikan, saya nyatakan saya bersiap-siap," ujar Gus Kikin pada Juli lalu.
Menurut Gus Kikin, keputusan menerima penugasan tersebut merupakan bagian dari menjalankan amanah organisasi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan para pendiri NU.
"Kita berusaha sebaik mungkin mengikuti tradisi-tradisi dari dulu yang sangat kuat dan itu yang harus kita jaga, kita lanjutkan, kita teruskan. Karena konsep NU itu harus masuk ke dalam organisasi NU dengan penuh kasih sayang," ungkapnya.
Profil Singkat
Gus Kikin lahir dari keluarga pesantren. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum.
Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan cucu Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri NU.
Sementara dari garis ayah, nasab Gus Kikin tersambung dengan KH Anwar bin Alwi, pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang.
Latar belakang tersebut membuat Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tradisi keilmuan NU.
Selain memimpin PWNU Jawa Timur, Gus Kikin juga dipercaya meneruskan kepemimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Ia melanjutkan kepemimpinan pesantren yang sebelumnya diasuh KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.
Persiapan untuk meneruskan kepemimpinan Tebuireng telah dilakukan sejak 2016 melalui musyawarah keluarga besar pesantren.
Di bawah kepemimpinannya, jaringan Pesantren Tebuireng disebut terus berkembang. Saat ini, Tebuireng memiliki 15 cabang yang tersebar di sejumlah daerah, mulai dari Riau, Jakarta, Maluku hingga Kalimantan Timur.
Gus Kikin juga memiliki pengalaman di luar lingkungan pesantren dan organisasi NU.
Ia dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi (migas). Gus Kikin merupakan pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML).
Selain bisnis migas, ia juga memiliki stasiun televisi BBS TV.
Latar belakang tersebut menjadi salah satu sisi yang membedakan Gus Kikin. Ia tidak hanya beraktivitas di lingkungan pesantren dan organisasi keagamaan, tetapi juga memiliki pengalaman mengelola usaha dan media.
Baca Juga : Peringati HUT ke-81 RI, Warga Kaliombo Gelar Kaliombo Guyub Fest
Gus Kikin Raih 472 Suara
Dalam penjaringan calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin berada di urutan teratas dengan 472 suara.
Di bawahnya terdapat KH Zulfa Mustofa dengan 262 suara, KH Abdussalam Sochib atau Gus Salam dengan 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dengan 258 suara, serta KH Nusron Wahid dengan 207 suara.
Namun, komposisi lima besar tersebut kemudian berubah setelah dilakukan pemeriksaan persyaratan calon.
KH Nusron Wahid dinyatakan tidak memenuhi syarat karena masih menjabat sebagai menteri dan belum mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
Posisinya kemudian diisi KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf yang memperoleh 176 suara. Namun, Gus Yusuf juga dinyatakan tidak memenuhi syarat karena masih menjadi pengurus partai politik.
Nama berikutnya adalah Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dengan 174 suara. Ia juga gugur karena masih menjabat sebagai menteri.
Posisi calon kelima akhirnya ditempati Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin yang memperoleh 155 suara.
Dengan demikian, lima nama yang masuk sebagai calon Ketua Umum PBNU adalah Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.
Kelima nama tersebut telah menyatakan kesediaannya untuk maju.
Setelah penjaringan, kelima nama tersebut akan dimintakan persetujuan tertulis dari Rais Aam PBNU terpilih, KH Miftachul Akhyar.
Kelima calon kemudian akan menjadi bahan pembahasan dalam forum yang melibatkan Rais Aam bersama anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sebelumnya, Ketua PWNU Sumbar Prof H Ganefri, Ph.D. yang memimpin Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU, menjelaskan bahwa calon ketua umum harus memenuhi sejumlah persyaratan.
Di antaranya pernah menjadi pengurus harian PBNU, PWNU, PCNU, atau lembaga otonom tingkat pusat. Calon juga tidak boleh sedang menduduki jabatan politik.
Selain itu, calon tidak boleh menjadi pengurus partai politik atau organisasi yang berafiliasi dengan partai politik dalam satu tahun terakhir. Calon juga tidak pernah dikenai tindakan organisatoris serta harus memperoleh persetujuan tertulis dari Rais Aam PBNU.
Rangkaian penentuan Ketua Umum PBNU tersebut ditargetkan selesai sebelum agenda penutupan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung Senin (31/8/2026) pukul 09.00 WIB dan direncanakan dihadiri Presiden RI.
