Mengapa Banyak Negara di Eropa Belum Siap Hadapi Gelombang Panas Ekstrem?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
30 - Jun - 2026, 05:39
JATIMTIMES - Gelombang panas ekstrem tengah melanda Eropa pada awal musim panas 2026. Suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius di sejumlah negara memicu peringatan kesehatan, kebakaran hutan, hingga meningkatnya angka kematian akibat cuaca panas. Meski fenomena ini terus berulang dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara di Eropa dinilai masih belum siap menghadapinya.
Menurut Koresponden Lingkungan Eropa Ajit Niranjan dalam laporannya yang dimuat The Guardian, dikutip Selasa (30/6/2026), gelombang panas pertama tahun ini kembali menunjukkan lemahnya kesiapan pemerintah di berbagai negara Eropa dalam melindungi masyarakat dari suhu ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Baca Juga : Eropa Dilanda Gelombang Panas Terparah dalam Sejarah, Ini Penyebabnya
Musim panas meteorologis bahkan baru dimulai, tetapi suhu tinggi sudah datang sejak akhir musim semi. Inggris dan Irlandia mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Mei, sementara negara-negara lain di Eropa kini bersiap menghadapi musim panas yang diperkirakan lebih panas dari biasanya.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga telah memperingatkan kemungkinan kembalinya fenomena El Niño, yang berpotensi meningkatkan suhu global dalam beberapa bulan ke depan.
Niranjan mengungkapkan, panas ekstrem kini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Eropa.
Berdasarkan pemodelan awal seorang ahli epidemiologi lingkungan, sedikitnya 250 kematian tambahan diperkirakan terjadi di Inggris hanya dalam satu akhir pekan sebelum suhu mencapai puncaknya. Angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena masyarakat belum sempat beradaptasi dengan cuaca panas yang datang lebih awal.
Ia juga menyoroti bahwa setiap tahun puluhan ribu orang di Eropa meninggal lebih cepat akibat cuaca panas. Bahkan, jumlahnya melampaui korban dari berbagai ancaman lain seperti kejahatan maupun aksi teror.
Menurutnya, perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih lama, sekaligus lebih mematikan.
Meski ancaman semakin nyata, kesiapan pemerintah masih dinilai minim. Niranjan mengutip hasil survei pada 2024 yang menunjukkan hanya 21 dari 38 negara Eropa memiliki rencana aksi kesehatan khusus menghadapi gelombang panas.
Padahal, berbagai langkah sederhana seperti memperbanyak ruang hijau, memperluas area teduh, hingga membuka tempat pendinginan bagi masyarakat dinilai mampu menyelamatkan banyak nyawa dengan biaya yang relatif kecil.
Salah satu contoh yang dinilai berhasil adalah Barcelona, Spanyol. Kota tersebut telah mengembangkan lebih dari 400 climate shelters atau tempat perlindungan iklim sejak 2020. Fasilitas itu memanfaatkan sekolah, perpustakaan, museum, hingga gedung publik sebagai tempat warga berteduh dan mendinginkan tubuh ketika suhu mencapai level berbahaya.
Peneliti Basque Centre for Climate Change, Ana Terra Amorim-Maia, mengatakan investasi yang dibutuhkan sebenarnya tidak besar.
Baca Juga : SPPI Tak Lagi Latsarmil, Kemhan Alihkan ke Bela Negara dan Pelatihan Manajerial
"Anda mungkin perlu mengubah jam buka, menambah staf, melatih mereka lebih lanjut, [menambahkan] beberapa rambu dan materi komunikasi. Tetapi ini adalah adaptasi minimal dan mudah-mudahan, dapat menyelamatkan nyawa." kata Amorim-Maia.
Kini konsep serupa mulai diterapkan di berbagai kota lain, mulai Paris hingga Wina.
Menurut Niranjan, tantangan terbesar justru berada di Eropa Utara. Berbeda dengan negara-negara Mediterania yang sejak lama terbiasa menghadapi cuaca panas melalui desain bangunan, jalan yang teduh, hingga penggunaan penutup jendela, negara seperti Inggris, Swiss, dan Norwegia diperkirakan akan mengalami peningkatan suhu paling signifikan akibat perubahan iklim.
Di Inggris misalnya, banyak rumah dibangun untuk mempertahankan panas saat musim dingin sehingga berubah menjadi sangat panas ketika musim panas tiba.
Karena itu, penasihat iklim pemerintah Inggris merekomendasikan pemasangan pendingin udara di seluruh panti jompo dan rumah sakit dalam 10 tahun mendatang, serta di seluruh sekolah dalam 25 tahun ke depan.
Niranjan juga menekankan bahwa gelombang panas merupakan salah satu bencana yang dampaknya masih bisa dikurangi melalui tindakan sederhana.
Selain memperbanyak minum air putih, menutup tirai rumah, dan menghindari aktivitas saat suhu sedang tinggi, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi orang lanjut usia yang tinggal sendirian.
Menurut para dokter dan ilmuwan yang ia wawancarai, sekadar menghubungi kerabat lansia atau mengetuk pintu rumah tetangga untuk memastikan mereka baik-baik saja dapat menjadi tindakan sederhana yang menyelamatkan nyawa di tengah cuaca panas ekstrem.
