JATIMTIMES - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa tengah ramai menjadi perbincangan publik. Suhu udara yang memecahkan rekor di berbagai wilayah membuat banyak orang bertanya-tanya, apa penyebab cuaca panas kali ini begitu ganas?
Di media sosial, ramai unggahan kondisi panas ekstrem di beberapa negara Eropa, seperti Jerman hingga Italia. Sebagaimana dilansir dari akun Instagram @koiyocabe, beberapa orang tampak berebut untuk membeli AC, bahkan memasak daging slice di bawah matahari.
Baca Juga : BBM 1 Juli 2026 Naik atau Turun? Ini Bocorannya
Sejumlah ilmuwan menepis anggapan bahwa fenomena tersebut dipicu El Nino. Berdasarkan kajian terbaru, penyebab utamanya justru mengarah pada krisis iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca dari penggunaan batu bara, minyak, dan gas fosil selama puluhan tahun.
Temuan itu diungkap konsorsium World Weather Attribution (WWA) setelah menganalisis gelombang panas yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026. Penelitian dilakukan menggunakan data pengamatan suhu, prakiraan cuaca, hingga simulasi iklim untuk mengetahui faktor yang memperparah cuaca ekstrem tersebut.
Hasil analisis menunjukkan hampir separuh dari sekitar 850 kota besar di Eropa kini berada pada tingkat heat stress atau stres panas tertinggi yang pernah tercatat. Kondisi tersebut diperburuk oleh kelembapan udara yang tinggi sehingga mekanisme alami tubuh melalui penguapan keringat menjadi jauh kurang efektif.
Akibatnya, risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga serangan panas (heat stroke) meningkat tajam. Di sejumlah negara Eropa Barat, kondisi itu ikut memicu lonjakan kasus kedaruratan medis, bahkan dilaporkan menyebabkan korban meninggal dunia.
Inggris juga mencatat rekor baru. Suhu di Somerset mencapai 36,7 derajat Celsius pada akhir Juni 2026, menjadi salah satu temperatur tertinggi yang pernah terjadi pada bulan Juni di negara tersebut.
WWA menemukan bahwa gelombang panas yang terjadi saat ini jauh lebih parah dibandingkan peristiwa serupa pada masa lalu.
Apabila kondisi seperti sekarang terjadi pada 2003, suhu diperkirakan sekitar 2 derajat Celsius lebih rendah. Bahkan jika dibandingkan dengan gelombang panas besar pada 1976, selisihnya mencapai sekitar 3,5 derajat Celsius.
Tak hanya siang hari yang semakin menyengat, malam hari pun ikut mengalami peningkatan suhu. Para peneliti menyebut malam dengan temperatur sangat panas kini memiliki peluang terjadi sekitar 100 kali lebih besar dibandingkan dua dekade lalu.
Peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, Theodore Keeping, mengatakan perubahan tersebut menunjukkan dampak nyata pemanasan global.
"Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa," kata Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, yang juga bagian dari tim WWA, dikutip dari The Guardian, Selasa (30/6/2026).
Keeping menjelaskan kenaikan suhu rata-rata Bumi dalam beberapa dekade terakhir membuat peluang munculnya gelombang panas meningkat drastis.
"Kami menemukan bahwa dalam 50 tahun terakhir, ketika Bumi memanas sebesar 1,1 derajat Celsius, peluang terjadinya gelombang panas seperti ini melonjak drastis. Fenomena ini mustahil terjadi di bulan Juni tanpa perubahan iklim," lanjut dia.
Dalam kajiannya, WWA juga membantah anggapan bahwa cuaca ekstrem kali ini dipengaruhi El Nino.
Baca Juga : Viral, Seorang Pria Ditemukan Tewas Misterius di Rumah Sendirian
Para peneliti menjelaskan, wilayah Eropa memang sedang berada di bawah pengaruh heat dome atau kubah panas, yakni sistem tekanan udara tinggi yang memerangkap udara panas sekaligus membawa massa udara hangat dari Gurun Sahara.
Fenomena atmosfer tersebut sebenarnya bukan hal baru dan lazim terjadi ketika musim panas. Namun, suhu yang dihasilkan kini menjadi jauh lebih tinggi karena latar belakang iklim global sudah mengalami pemanasan akibat akumulasi emisi karbon.
Untuk mengukur dampak panas terhadap tubuh manusia, para ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Berbeda dari pengukuran suhu biasa, metode ini juga memperhitungkan kelembapan, radiasi matahari, dan kecepatan angin sehingga mampu menggambarkan tingkat bahaya panas yang sebenarnya dirasakan manusia.
Hasil penelitian WWA turut mendapat respons dari Kepala Iklim PBB, Simon Stiell. Menurutnya, semakin seringnya cuaca ekstrem menjadi bukti bahwa dunia harus segera mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Namun, solusinya sebenarnya sudah jelas: kita harus mempercepat transisi ke energi bersih, yang kini jauh lebih murah daripada bahan bakar fosil, serta melindungi hutan dan membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim," kata Stiell.
Sementara itu, pakar dari Red Cross Red Crescent Climate Centre, Carolina Pereira Marghidan, mengatakan banyak negara Eropa sebenarnya telah memperkuat sistem peringatan dini setelah gelombang panas mematikan pada 2003. Meski demikian, peningkatan intensitas suhu membuat langkah tersebut mulai tidak lagi memadai.
Menurutnya, panas ekstrem kini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mulai mengganggu layanan kesehatan, transportasi, pasokan energi, hingga aktivitas ekonomi.
"Kita membutuhkan investasi yang lebih besar untuk membangun rumah, kota, dan infrastruktur yang tahan panas agar masyarakat tetap aman," papar Marghidan.
Sejumlah lembaga iklim internasional juga mengingatkan bahwa tanpa penurunan emisi gas rumah kaca secara signifikan, gelombang panas dengan intensitas serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang.