Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah se-Asia

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

03 - Jun - 2026, 11:59

Ilustrasi pecahan uang rupiah dan dollar. (Foto: Shutterstock)


JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah tercatat mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Indonesia itu bergerak di kisaran Rp17.926 hingga Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati Rp18.000 per dolar AS sekaligus menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah rupiah.

Di tengah pelemahan yang terjadi di berbagai negara Asia, posisi rupiah tercatat menjadi mata uang yang paling tertekan dibandingkan mata uang regional lainnya.

Baca Juga : Turis Malaysia Ramai Belanja ke Indonesia Saat Rupiah Melemah

Penguatan dolar AS secara global serta meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan internasional menjadi faktor yang membebani hampir seluruh mata uang Asia.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, tekanan yang dialami rupiah terlihat lebih besar. Dolar Singapura bergerak di kisaran 1,39-1,40 SGD per dolar AS. Ringgit Malaysia berada di level 4,48-4,52 MYR per dolar AS.

Sementara baht Thailand diperdagangkan pada rentang 34,5-34,7 THB per dolar AS atau setara sekitar Rp545-Rp551 per baht.

Di kawasan Asia Timur, yuan China berada di level 7,15-7,18 CNY per dolar AS atau sekitar Rp2.628-Rp2.654 per yuan. Dolar Hong Kong bergerak stabil di kisaran 7,81-7,83 HKD per dolar AS. Adapun yen Jepang berada pada rentang 158,1-159,5 JPY per dolar AS atau sekitar Rp111-Rp112 per yen.

Sementara itu, won Korea Selatan tercatat bergerak di level 1.370-1.380 KRW per dolar AS atau sekitar Rp11,7-Rp11,8 per won. Sedangkan peso Filipina berada di kisaran 58,1-58,3 PHP per dolar AS atau setara Rp288-Rp291 per peso.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah kali ini tidak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap pasar energi global.

Menurutnya, lonjakan harga minyak membuat dolar AS semakin kuat dan mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.

"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72," kata Ibrahim, dikutip Antara, Rabu (3/6/2026).

Situasi global juga diperburuk oleh belum tercapainya kesepakatan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, hubungan Iran dan Israel yang masih memanas membuat pasar khawatir terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Kondisi tersebut membuat harga minyak bertahan di level tinggi dan memberi dorongan tambahan bagi penguatan dolar AS.

Selain faktor energi, pasar juga menyoroti arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Harga minyak yang tinggi dinilai berpotensi menjaga inflasi AS tetap berada di atas target bank sentral.

Baca Juga : Okupansi Hotel Kota Malang saat Idul Adha Hanya 60 Persen, Long Weekend Akhir Mei Tembus 90 Persen

Ibrahim mengatakan pernyataan sejumlah pejabat The Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka pada tahun ini.

"Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah. Artinya apa? Bahwa ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026," ujarnya.

Prospek suku bunga tinggi membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global, sehingga aliran modal cenderung mengarah ke Amerika Serikat.

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar AS untuk pembelian energi impor juga ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Selain itu, permintaan valuta asing untuk pembayaran dividen perusahaan dan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo turut meningkatkan kebutuhan dolar di pasar.

Ibrahim juga melihat adanya kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan dana ke instrumen berbasis mata uang asing ketika rupiah terus melemah. Fenomena tersebut secara tidak langsung ikut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Ibrahim menilai pemerintah perlu memastikan pasokan barang tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak melemah. Program bantuan sosial yang tepat sasaran juga dianggap penting untuk menjaga konsumsi rumah tangga.

Di sisi lain, penguatan fondasi ekonomi dinilai harus dilakukan melalui percepatan industrialisasi, pengembangan ekonomi biru, hingga peningkatan produktivitas sektor pertanian.

"Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat," tuturnya.

Ia juga menilai transformasi digital dan penyederhanaan aturan investasi perlu terus dipercepat agar investasi asing semakin banyak masuk ke Indonesia. Menurutnya, penguatan sektor riil dan perbaikan iklim investasi menjadi faktor penting untuk menopang stabilitas rupiah dalam jangka panjang.


Topik

Ekonomi, rupiah, rupiah anjlok, nilai tukar rupiah, ibrahim assuaibi,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette