AZWI Minta Pemda Susun Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana dari Sampah Organik
Reporter
M. Bahrul Marzuki
Editor
A Yahya
25 - May - 2026, 06:48
JATIMTIMES — Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mendorong pemerintah daerah mempercepat penyusunan strategi pengurangan emisi metana dari pengelolaan sampah melalui kegiatan Zero Waste Academy (ZWA): Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Pengelolaan Sampah yang berlangsung di Jambangan, Kota Surabaya.
Kegiatan ini diinisiasi oleh anggota AZWI yaitu YPBB, Gita Pertiwi, PPLH Bali, Ecoton, Dietplastik Indonesia, dan Nol Sampah serta diikuti perwakilan pemerintah daerah, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil dari berbagai kota/kabupaten di Indonesia untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah organik yang rendah emisi dan berkelanjutan.
Melalui sesi sambutan, Direktur PPLH Bali sekaligus Koordinator Steering Committee AZWI, Catur Yudha Hariani, menyampaikan bahwa krisis sampah organik telah menjadi bagian dari ancaman iklim yang harus ditangani secara serius dan kolektif. Indonesia saat ini menghadapi persoalan besar akibat praktik open dumping di ratusan TPA yang harus segera ditransformasikan menuju sistem pengelolaan yang lebih aman dan rendah emisi.
“ZWA bukan cuma pelatihan teknis, melainkan upaya untuk mengubah mindset dan membangun narasi baru: dari krisis TPA menuju ketahanan pangan. Saat ini kita sadar bahwa sistem kumpul-angkut-buang telah menjadi sumber emisi metana di Indonesia,” ujarnya.
Research Manager Dietplastik Indonesia, Zakiyus Shadicky, menyampaikan bahwa isu sampah dan iklim selama ini masih sering dipisahkan dalam kebijakan daerah. Untuk itu, peserta dibekali pemahaman mengenai keterkaitan antara sampah organik, emisi metana, ketahanan pangan, serta pentingnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Hal ini dinilai penting untuk mendorong kebijakan yang lebih terintegrasi dalam upaya penanganan sampah dan krisis iklim. “Masalah sampah dan iklim sebenarnya sangat terkait. Metana dari sampah memiliki potensi pemanasan yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida, hingga 86 kali lebih besar dari karbondioksida dalam jangka waktu 20 tahun, tetapi banyak pemerintah daerah masih fokus pada aspek teknis pengelolaan sampah dan belum masuk ke isu iklim,” jelas Zakiyus.
Sementara itu, Direktur Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, menyoroti bahwa persoalan sampah organik juga berkaitan erat dengan sistem pangan dan meningkatnya susut serta sisa pangan di perkotaan.Potensi SSP Indonesia cukup tinggi, yaitu sekitar 154-185 kg/orang/tahun (riset Bappenas 2021) Menurutnya, pengurangan sampah organik perlu dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mencegah krisis lingkungan yang lebih luas.
