Kemendikdasmen Larang Tes Calistung di SPMB 2026, Apa Itu?

Reporter

Mutmainah J

22 - May - 2026, 11:55

Ilustrasi Calistung. (Foto: iStock)


JATIMTIMES - Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, khususnya untuk jenjang sekolah dasar (SD). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan sekolah tidak boleh lagi mengadakan tes baca, tulis, dan hitung atau calistung sebagai syarat penerimaan murid baru SD.

Kebijakan ini menjadi bagian dari penerapan SPMB ramah anak dan inklusif agar seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dasar tanpa diskriminasi.

Baca Juga : Ramai Poster Dokumenter Pesta Babi Disebut Hoaks, Begini Fakta Sebenarnya

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan kemampuan calistung tidak boleh dijadikan syarat masuk SD.

“Tidak boleh ada tes calistung. Intinya gitu ya,” ujar Gogot usai kegiatan Penandatanganan Komitmen Bersama SPMB Ramah di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, dikutip Jumat (22/5/2026).

Selain itu, Kemendikdasmen juga memberikan pengecualian usia bagi calon murid SD. Anak berusia di bawah 7 tahun tetap dapat masuk SD selama dinilai siap mengikuti proses pembelajaran.

Ketentuan tersebut telah diatur dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru.

Menurut Gogot, calon murid berusia 6 tahun hingga minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli tahun berjalan tetap bisa diterima apabila memiliki kecerdasan atau bakat istimewa serta kesiapan psikis.

Kesiapan tersebut harus dibuktikan melalui surat rekomendasi dari pihak berwenang, seperti psikolog.

“Jadi, harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap,” jelasnya.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan calistung? Berikut penjelasan lengkapnya. 

Apa Itu Calistung?

Mengutip laman binus.ac.id⁠, calistung merupakan singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan dasar yang biasanya mulai dikenalkan kepada anak usia dini.

Pada tahap awal, membaca berarti mengenali dan membunyikan huruf, menulis berarti merangkai huruf menjadi kata atau kalimat sederhana, sedangkan berhitung berkaitan dengan pengenalan angka dan operasi matematika dasar.

Namun, makna calistung sebenarnya lebih luas. Membaca bukan hanya memahami tulisan, tetapi juga memahami informasi dan keadaan di sekitar. Menulis bukan sekadar menyusun huruf, melainkan menyampaikan ide atau gagasan. Sementara berhitung juga berkaitan dengan kemampuan mempertimbangkan manfaat dan risiko dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat Belajar Calistung bagi Anak

Belajar calistung sejak dini dinilai dapat membantu anak lebih siap menghadapi jenjang sekolah dasar. Mengutip seminar.umpo.ac.id, berikut sejumlah manfaat belajar calistung:

• Membantu anak lebih mandiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

• Meningkatkan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan lingkungan baru.

• Membantu kesiapan anak menghadapi proses pembelajaran di SD.

• Membuat anak lebih mudah menyukai kegiatan belajar.

• Meningkatkan fokus dan motivasi belajar.

• Membantu anak menyesuaikan diri dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa.

Kapan Anak Siap Belajar Calistung?

Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Maria Limyati, menyebut kemampuan calistung sebaiknya diberikan saat anak benar-benar siap secara perkembangan.

Beberapa tanda anak mulai siap belajar calistung antara lain:

• Sudah memasuki usia sekolah dasar.

• Berusia sekitar 7 tahun.

• Sudah dikenalkan metode belajar melalui permainan.

Menurut Maria, kemampuan calistung melibatkan aspek kognitif, motorik, dan konsentrasi sehingga perkembangan otak anak perlu dipersiapkan terlebih dahulu.

Pendapat serupa juga disampaikan Ahmad Suryawan. Ia menilai pembelajaran calistung perlu diberikan secara selektif karena tidak semua anak memiliki kesiapan yang sama.

Baca Juga : 84 Ribu Batang Rokok Ilegal Diamankan di Malang, Sopir Sempat Kabur

Dampak Calistung Jika Diberikan Terlalu Dini

Meski memiliki manfaat, pembelajaran calistung yang diberikan terlalu dini juga dapat berdampak kurang baik bagi perkembangan anak.

Mengacu pada tulisan Pratiwi berjudul Pembelajaran Calistung bagi Anak Usia Dini antara Manfaat Akademik dan Risiko Menghambat Kecerdasan Mental Anak, beberapa dampak yang mungkin muncul antara lain:

• Anak merasa tertekan karena dipaksa mempelajari materi yang belum disukai.

• Anak kehilangan minat belajar karena menganggap pelajaran terlalu sulit.

• Muncul rasa bosan, jenuh, hingga malas belajar saat memasuki kelas 3 atau 4 SD.

• Risiko anak mengalami mogok belajar akibat tekanan akademik sejak usia dini.

Karena itu, para ahli menilai pengenalan calistung sebaiknya dilakukan secara bertahap dan menyenangkan sesuai kesiapan masing-masing anak, bukan dijadikan syarat utama masuk sekolah dasar.


Topik

Pendidikan, spmb sd, tes calistung,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette