Haji di Ujung Usia: Kakak Beradik Asal Blitar Berangkat Bersama, Diselimuti Kisah Haru

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

22 - Apr - 2026, 09:07

Dua kakak beradik asal Kota Blitar, Slamet Azali (86) dan Damanhuri (83), bersiap menunaikan ibadah haji 2026. Slamet tercatat sebagai calon jemaah haji tertua di Kota Blitar tahun ini. Perjalanan menuju Tanah Suci keduanya menjadi kisah tentang kesabaran, ikhtiar, dan hangatnya ikatan keluarga. (Foto: Istimewa/Samsul Hadi)


JATIMTIMES - Pagi itu suasana rumah sederhana di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, tampak lebih sibuk dari biasanya. Tas mulai disiapkan. Perlengkapan ibadah ditata rapi. Di sudut ruangan, dua kakak beradik lanjut usia duduk berdampingan, menyimpan harap yang sama: segera menjejakkan kaki di Tanah Suci.

Mereka adalah Slamet Azali, 86 tahun, dan adiknya, Damanhuri, 83 tahun. Pada musim haji 2026 ini, keduanya dijadwalkan berangkat bersama sebagai calon jemaah haji asal Kota Blitar. Di antara ratusan calon jemaah lain, Slamet tercatat sebagai calon jemaah haji tertua di Kota Blitar tahun ini.

Baca Juga : Loket Masuk dari Arah Blitar Digratiskan Pasca Portal Bendungan Lahor Jadi Polemik

Usia yang tak lagi muda tak menyurutkan semangat Mbah Slamet. Penantian panjang selama sembilan tahun justru membuat keberangkatan ini terasa semakin berharga. “Saya daftar sejak 2016, alhamdulillah bisa berangkat tahun ini,” ujar Mbah Slamet saat ditemui wartawan, Rabu (22/4/2026).

Kalimat itu meluncur sederhana, namun sarat makna. Di baliknya tersimpan kisah tentang kesabaran, ikhtiar, dan doa yang dipanjatkan bertahun-tahun.

Dari Sawah Menuju Tanah Suci

Sebelum memasuki masa senja, Mbah Slamet dikenal sebagai petani. Hidupnya dekat dengan sawah, musim tanam, dan kerja keras yang tak mengenal hari libur. Dari hasil bertani itulah ia menabung sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mampu mendaftarkan diri untuk berhaji.

Perjalanan menuju Baitullah bagi Mbah Slamet bukan cerita tentang kemewahan, melainkan buah ketekunan. Uang yang terkumpul berasal dari jerih payah yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun.

Kini, setelah usia menginjak 86 tahun, kesempatan itu datang.

Meski telah sepuh, ia mengaku siap menjalani berbagai aktivitas ibadah haji. Kondisi fisik terus dijaga. Persiapan dilakukan dengan cermat, termasuk hal-hal sederhana yang menurutnya penting.

“Saya bawa jamu yang biasanya cocok di sini, nanti lewat Puskesmas,” katanya sambil tersenyum.

Jamu itu bukan sekadar minuman tradisional. Bagi Mbah Slamet, itu adalah bagian dari ikhtiar agar tubuh tetap bugar saat menjalani rangkaian ibadah yang padat di Tanah Suci.

Berangkat Bersama Sang Adik

Kebahagiaan Mbah Slamet terasa semakin lengkap karena ia tidak berangkat sendiri. Sang adik kandung, Damanhuri, juga mendapat kesempatan berhaji pada tahun yang sama.

Di usia 83 tahun, Damanhuri tampak tenang menyiapkan diri. Ia menjaga kesehatan, menata hati, dan memantapkan niat. Namun di balik kesiapan itu, tersimpan duka yang masih hangat.

Semula, ia berencana menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Keduanya telah menyiapkan keberangkatan sejak lama. Namun takdir berkata lain.

“Rencana berangkat sama istri, namun tiga bulan lalu istri saya meninggal dunia,” ujar Mbah Damanhuri dengan suara lirih.

Baca Juga : Peringati Hari Bumi 2026, DPRD Kabupaten Blitar Ajak Warga Rawat Lingkungan Lewat Aksi Nyata

Kalimat itu membuat suasana sejenak hening. Di tengah kebahagiaan menunggu keberangkatan, ada kehilangan yang belum benar-benar reda.

Berbagai persiapan sebelumnya telah dilakukan berdua. Namun karena waktu keberangkatan sudah sangat dekat, porsi keberangkatan sang istri tidak dapat dialihkan kepada anak.

Kini, kursi pendamping itu kosong. Meski demikian, Damanhuri memilih tetap melangkah.

“Nanti sama kakak, semoga diberi kelancaran di sana,” tuturnya.

Usia Senja Bukan Penghalang

Kisah dua bersaudara asal Blitar ini menjadi pengingat bahwa panggilan haji datang kepada mereka yang terus berikhtiar. Usia senja bukan alasan untuk berhenti berharap. Keterbatasan fisik bukan tembok yang tak bisa dilalui.

Sebaliknya, pengalaman hidup justru menempa keteguhan hati. Mbah Slamet dan Mbah Damanhuri menunjukkan bahwa cita-cita spiritual bisa tetap dijaga hingga usia lanjut.

Keberangkatan keduanya juga menjadi gambaran kuatnya ikatan keluarga. Saat duka datang, saudara menjadi penopang. Saat bahagia tiba, saudara pula yang menemani.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kisah mereka menghadirkan nilai-nilai sederhana: kesabaran, kerja keras, kebersamaan, dan keteguhan iman.

Pada 16 Mei 2026 nanti, dua lansia dari Kota Blitar itu akan memulai perjalanan suci yang telah lama dinanti. Yang satu membawa hasil tabungan dari sawah dan penantian sembilan tahun. Yang satu membawa doa mendiang istri serta langkah yang kini ditemani kakaknya.

Mereka berangkat bukan hanya sebagai calon jemaah haji, tetapi sebagai pengingat bahwa harapan tak pernah mengenal usia.


Topik

Peristiwa, kota blitar, emaah haji kota blitar, kakak adik berangkat haji,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette