Penanaman Jagung di Kota Batu jadi Pilot Project Ketahanan Pangan Gugus Tugas Polri
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
A Yahya
20 - Nov - 2024, 03:30
JATIMTIMES - Lahan bengkok dan lahan perhutani seluas total 10 hektare diaktifkan menjadi lahan produktif oleh jajaran Polres dan Pemkot Batu, Rabu (20/11/2024). Lahan tersebut ditanami jagung untuk pilot project dari Gugus Tugas Polri untuk Ketahanan Pangan Kota Batu yang telah diluncurkan serentak nasional.
Penanaman bibit jagung tersebut dilakukan di area lahan tidur Wilayah Jalibar Desa Oro-Oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu. Dibantu kelompok tani desa setempat, penanaman itu serentak dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo secara virtual.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Batu AKBP Andi Yudha Pranata menekankan pentingnya kontribusi aktif dalam memperkuat ketahanan pangan di Kota Batu.
"TNI, Polri, Kementrian, pemerintah daerah sudah ada sumber daya baik materil dan anggaran. Ini jadi satu titik awal program ketahanan pangan yang mana bisa lebih ditingkatkan ke pemberdayaan masyarakat," ujar Andi.
Ia menambahkan, Di Kota Batu sendiri sudah dilakukan pemanfaatan lahan tidur di sejumlah titik. Secara bertahap bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Polres Batu memulai dengan mengembangkan 10 heltare lahan, dilanjutkan 20 hektare dan berikutnya, hingga berpotensi terus bertambah.
"Target kedepan kemandirian untuk masalah pangan di Batu jauh lebih maksimal lagi. Walaupun selama ini Batu dikenal dengan tanaman hortikultura. Namun, harapan kita ada zona tertentu bisa menghasilkan yang lain, yang mungkin dulu lahan tidak produktif bisa diaktifkan sisi pangan, sehingga tidak ada yang kosong," ucapnya.
Selain untuk dukungan ketahanan pangan, nantinya pertanian pangan di Kota Batu tak akan lepas juga disinergikan dengan agar memperkuat untuk sisi kepariwisataan. Sekaligus memberi dukungan ketersediaan bahan mentah untuk program pemerintah makan bergizi gratis.
Andi merincikan, pilot project lahan tanaman jagung di Desa Oro-oro Ombo Kota Batu totalnya sekitar 10 Hektare. 5 Hektare lahan merupakan wilayah tanah bengkok yang dimanfaatkan masyarakat, dan beberapa bidang lainnya berada di wilayah Kelompok Tani Hutan (KTH) Perun Perhutani Malang di titik lain seluas 5 hektare.
Baca Juga : Pemprov Jatim Raih Sertifikasi 13 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kemenbud RI
Lahan yang ada dikelola dengan kolaborasi kelompok tani masyarakat setempat, jajaran dinas terkait, kepolisian dan TNI. Ia menekankan komunikasi dan komitmen berkelanjutan untuk pemanfaatan lahan supaya lebih produktif.
Andi menambahkan, selama ini ada kendala berupa kekurangan air. Hal ini disebabkan peralihan musim kemarau. Hal ini jadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi dalam proses pengelolaan lahan pertanian di Kota Batu yang mayoritas tadah hujan.
"Masih bergantung pada ketersediaan air karena mayoritas tadah hujan. Ini kita anggap sebagai tantangan. Sebab, jika dibiarkan tidak akan jadi lahan berkembang. Sedangkan dengan dukungan pertanian ada potensi pengembangan wisata yang mungkin bisa bergerak dengan kolaborasi yang baik. Pembagian masing-masing tugas yang terlibat," imbuhnya.
