Grebek Kupat Tumpeng Syawalan Kota Batu Bakal Jadi Event Tahunan Wisata Budaya

Reporter

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

18 - Apr - 2024, 02:01

Tumpeng kupat raksasa di Alun-Alun Kota Batu diarak pawai lalu jadi rebutan warga dalam Grebek Kupat Syawalan untuk memperingati Lebaran Ketupat 2024. (Foto: Prasetyo Lanang/ JatimTIMES)


JATIMTIMES - Upaya melestarikan tradisi kebudayaan jawa diwujudkan Pemkot Batu melalui Grebek Kupat Tumpeng Syawalan Kota Wisata Batu (KWB), Rabu (17/4/2024). Gelaran wisata Kebudayaan ini dilakukan untuk memperingati hari raya kupat pada H+7 lebaran menurut tradisi jawa. Agenda yang diselenggarakan Dinas Pariwisata  Kota Batu ini bakal jadi event tahunan.

Dalam grebek kupat tersebut, pemandangan unik dan baru ditemui yakni pawai Tumpeng Kupat Raksasa dan iring-iringannya. Tumpeng Ketupat Raksasa diketahui terdiri dari total ada sekitar 1.445 ketupat disusun menjadi satu.

Baca Juga : Grebek Kupat, Tumpeng Ketupat Raksasa Ludes Jadi Rebutan Warga di Alun-alun Kota Batu

Sebelumnya, tumpeng raksasa tersebut dikarak keliling terlebih dahulu dari garis start di Rumah Dinas Wali Kota Batu. Hingga sampai pada sesi grebeg kupat. Selain ketupat, peserta juga mengarak tumpeng hasil bumi lainnya seperti tomat, wortel, apel hingga sayur-mayur lainnya.

Sebelum digrebeg warga, tumpeng ini juga melalui proses didoakan oleh para tokoh spiritual. Kegiatan itu dihadiri oleh pejabat teras di Pemkot Batu dan Sekda Kota Batu Zadiem Efisiensi. Dimulai sore hari, kegiatan berlangsung lancar dan meriah.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Arief As Shidiq menyampaikan event tradisi ini baru dilakukan untuk pertama kalinya. Ini sebagai komitmen pihak Pemkot Batu dalam menjaga tradisi leluhur Hari Syawal atau lebih dikenal dengan Lebaran Ketupat secara rutin. 

"Kegiatan ini kali pertama di Kota Wisma Batu. Pemerintah Kota Batu berkomitmen untuk uri-uri budaya. Salah satunya kupatan, tradisi dari Wali yang mana menjadikan momen syukur, lebaran juga ajang memaafkan saling memberi," jelas Arief kepada JatimTIMES, Rabu (17/4/2024).

Untuk diketahui, ketupat dalam tradisi budaya Jawa memiliki makna filosofis untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan. Ketupat berasal dari istilah bahasa Jawa, yaitu 'ngaku lepat' (mengakui kesalahan dan laku papat, empat tindakan).

Baca Juga : Dispendukcapil Kabupaten Blitar Galakkan Sosialisasi dan Aktivasi IKD di Acara Kirab Budaya 2.000 Ketupat Cokelat

Tradisi ini diawali salah satu Wali Songo, Sunan Kalijaga yang mengawinkan budaya Jawa dan prinsip-prinsip Islam. ''Ini sebagai tradisi Jawa yang telah dilakukan leluhur kita menjaga tali persaudaraan antar sesama,'' terang Arief.

Dikatakan Arief, kedepannya, tradisi ini akan dijadikan event tahunan dengan melibatkan partisipasi masyarakat lebih luas lagi. Dengan begitu, di sisi lain akan menjadi daya tarik pariwisata tersendiri di kota apel tersebut.

"Saya berharap di tahun-tahun depan event ini bisa digelar tahunan dengan lebih baik dan tertata lagi,'' harapnya. Meski terkendala waktu yang cukup singkat untuk persiapan dan kendala cuaca, kegiatan dapat terlaksana dengan lancar. Ia mengharapkan masyarakat Kota Batu dapat mendukung penuh upaya pelestarian budaya dan berpartisipasi aktif.


Topik

Wisata, grebek kupat, dinas pariwisata kota batu, grebek kupat tumpengan swalayan kota wisata batu, wisata kota batu,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette