7 Mitos Kendaraan Listrik yang Menjadi Bahasan Umum

14 - Jul - 2023, 05:30

Salah satu jenis mobil listrik. (Foto: Antara)


JATIMTIMES - Teknologi baru umumnya rentan menuai kritik. Begitu juga dengan mobil listrik yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Beberapa orang beranggapan bahwa penggunaan mobil listrik hanya ada di masa depan. Padahal, sering kali anggapan tersebut merupakan kesalahpahaman yang disebabkan oleh mitos yang melekat dalam benak kaum awam terhadulu.

Baca Juga : Hadir di Rakernas XVI Apeksi Makassar, Anies Singgung Soal Rumput JIS

Berikut ini 7 mitos yang kerap diperbincangkan publik, dikutip dari Instagram @bapak2id. 

1. Kendaraan listrik gampang korsleting kalau terkena air

Jika baterai dan komponen listriknya kemasukan air memang bisa korsleting. Tapi orang-orang yang buat mobil listrik juga sudah mikirin hal-hal demikian. Jadi bagian dalam kendaraan listrik sudah dibikin waterproof. Kalaupun ada air yang masuk, kendaraan listrik juga punya sensor untuk memutus aliran listriknya secara otomatis. 

2. Jika baterai rusak, harganya mahal banget 

Banyak yang berpikir jika baterai rusak harganya mahal dan tidak worth it. Padahal kendaraan listrik baterainya beda dengan mainan. Baterai kendaraan listrik itu jenisnya lithium yang umurnya cukup panjang. Biasanya garansi juga diberikan sampai 8 tahun untuk mobil dan 3 tahun untuk motor. Meskipun rusak, tidak semua baterainya yang diganti, cukup modul yang rusaknya aja. 

3. Kendaraan listrik perawatannya lebih susah dari kendaraan bensin

Justru kendaraan listrik lebih mudah perawatannya. Sebab komponen utamanya lebih sederhana, hanya drive unit dan baterai. Otomatis perawatannya jadi lebih gampang juga. Yang harus dicek saat menggunakan mobil atau motor listrik adalah baterai, dinamo, kelistrikan, sama sistem pengereman. Jadi tidak pakai oli mesin, tak perlu khawatir lupa ganti oli. 

4. Kendaraan listrik tidak bisa dipakai jalan jauh

Tergantung jenis kendaraan listriknya. Tetapi umumnya mobil listrik sekarang bisa sampai 400-an kilometer. Sedangkan, motor punya daya tempuh 50-100 kilometer jika baterainya penuh. 

Selain itu, mobil juga bisa fast charging di SPKLU. Tak sampai satu jam bisa penuh lagi. Sedangkan motor, pilih yang baterainya bisa dicopot saja jika hendak bepergian jauh. Jadi bisa tukar baterai saat baterainya habis, persis seperti beli galon air. 

5. Ngecas kendaraan listrik di rumah bikin tagihan listrik jadi mahal

Baca Juga : Pemaparan Gagasan Ganjar di Rakernas APEKSI ke XVI Makassar, Bahas Soal Cawapres hingga IKN

Persepsi yang salah saat berpikiran ngecas kendaraan listrik di rumah bikin tagihan bengka. Ya memang tagihan listrik naik, tapi coba dibandingkan dengan beli bensin. Justru jauh lebih murah kalau ngecas kendaraan listrik di rumah. 

Untuk ngecas motor listrik sampai penuh, biasanya hanya memakai 2 KWh. Jika dirupiahkan sekitar 2-3 ribu rupiah. Itu pun motornya sudah bisa dipakai minimal 50 kilometer. 

6. Jaringan listrik tidak akan mampu bertahan bila semua orang beralih ke mobil listrik

Jaringan energi listrik diragukan mampu memenuhi permintaan listrik yang dibutuhkan untuk mobil listrik. Karena masing-masing mobil listrik memiliki kapasitas daya yang besar untuk jarak tempuh yang lebih jauh.

Padahal faktanya, komitmen pemerintah terhadap perbaikan lingkungan akan dilakukan sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang memadai. Teknologi smart-charging juga dapat mengurangi kebutuhan infrastruktur yang baru.

7. Mobil listrik harganya mahal 

Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah mobil listrik memiliki banderol yang mahal. Faktanya, mobil listrik memang lebih mahal untuk dibeli. Namun biaya operasional dan perawatannya jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan mobil bensin dan diesel.

Pemilik mobil listrik tidak perlu membayar pajak dan bea balik nama kendaraan berkat dukungan pemerintah terhadap penghematan konsumsi energi BBM dan peningkatan kualitas lingkungan.


Topik

Otomotif, Mobil Listrik, mobil,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette