Detox Mi, Cara Makan Mi Instan agar Tubuh Tetap Sehat ala dr Zaidul Akbar
Reporter
Desi Kris
Editor
Yunan Helmy
14 - Feb - 2022, 03:16
JATIMTIMES - Mi instan adalah salah satu makanan favorit setiap orang. Memiliki rasa yang lezat membuat setiap orang yang memakannya ketagihan.
Namun, banyak penelitian yang mengatakan bahwa sering makan mi instan bisa membuat tubuh tidak sehat. Kendati demikian, dokter sekaligus penggagas Jurus Sehat Rasulullah dr Zaidul Akbar membeberkan cara menjaga tubuh tetap sehat meski makan mi instan.
Baca Juga : 5 Jenis Camilan yang Baik Dikonsumsi saat Diet, Salah Satunya Popcorn
Menurut dr Zaidul Akbar, cara ini disebut dengan detox mi instan. Detox mie instan menjadi salah satu cara yang sangat efektif agar tubuh tetap sehat dan penyakit tidak mudah menyerang. Oleh sebab itu, simak dan catat cara melakukan detox mi instan ala dr Zaidul Akbar berikut ini.
Dilansir dari Instagram @kampusmadu, detox mi instan ini adalah sebuah resep minuman sehat dengan bahan dasar jahe. Bahan yang perlu disiapkan adalah jahe 1 ruas, chia seeds 1 sdm, madu 2 sdm, dan air panas sebanyak 350 ml.
"Seduh jahe dan chia seeds menggunakan air panas. Tunggu sampai chia seeds mengembang dan air menjadi hangat. Lalu, bisa ditambahkan madu, kemudian aduk rata, dan siap untuk diminum," kata Zaidul Akbar.
Detox ini disebutkan Zaidul Akbar merupakan cara yang paling penting untuk dilakukan agar tubuh bisa mengeluarkan racun-racun yang muncul dari kandungan mi instan. "Paling penting, lakukan detox mi instan minimal seminggu sekali atau 2 kali ya," ujar Zaidul Akbar.
Kendati demikian, Zaidul Akbar menganjurkan untuk membatasi jumlah konsumsi mi instan. "Tetap yang utama ya jangan keseringan makan mi instan. Yang berlebihan itu enggak baik. Banyak banget bahaya tersembunyi yang muncul kalau keseringan makan ini," jelas Zaidul Akbar.
Baca Juga : Bukan Cokelat, Mantan Jurnalis Ini Suguhkan Ketan Bentuk Hati di Hari Valentine
Berbagai macam penyakit akan muncul jika kita memaksakan diri terus-menerus mengonsumsi mi instan. Seperti bisa mengganggu sistem pencernaan, meningkatkan risiko kanker, meningkatkan risiko keguguran, dan memicu tekanan darah tinggi.
Selain itu, bisa memicu penyakit batu ginjal, kencing manis, risiko obesitas meningkat, kerusakan fungsi hati, merusak jaringan otak, hingga menghambat penyerapan nutrisi.
