Tak Hanya Karyawan, UMKM pun Juga Kena Dampak Penutupan Toko Modern di Tulungagung.
Reporter
Muhamad Muhsin Sururi
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
16 - Jan - 2021, 11:43
TULUNGAGUNGTIMES. Pil pahit juga diterima oleh para pelaku UMKM di Tulungagung yang berjualan di depan toko modern berjejaring. Pasalnya sejak penyegelan oleh petugas keamanan atau ditutupnya toko modern berjejaring 11 Januari 2021 lalu, para pelaku UMKM tidak bisa berjualan lagi.
"Sudah hampir seminggu, saya tidak berjualan, padahal di tempat itu omset hariannya lumayan," kata Rijal, penjual martabak di depan Indomart Panjerejo Rejotangan, Sabtu (16/01/2021).
Baca Juga : PTIJK 2021, OJK Jelaskan Tantangan dan Arah Kebijakan Sektor Jasa Keuangan 2021
Dalam satu hari, lanjutnya, rata-rata omset yang didapat mencapai 1 juta rupiah, karena lapak yang ditempatinya cukup ramai dan sudah banyak pelanggan.
Rijal mengaku, sudah hampir 7 tahun berjualan di tempat itu, menjadi dilema ketika ia harus pindah tempat jualan dengan pertimbangan langganannya sudah banyak. Sampai saat ini pun, kata Rijal, rombong martabaknya masih terparkir di halaman toko modern berjeraring di kawasan Desa Panjerejo Rejotangan itu.
"Ini cukup berat bagi saya, pandemi covid-19 belum selesai, ditambah beban penutupan lapak jualan," ucapnya.
Pria 25 tahun itu berharap ada solusi yang bijaksana dari pemerintah, agar segera bisa berjualan kembali, karena jualan martabak adalah satu-satunya sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hal yang sama dikatakan oleh Puji, penjual kue Pukis di depan Indomart Karangrejo. Menurutnya, sejak ditutupnya toko itu modern itu, ia sudah tidak berjualan lagi.
Diungkapkan olehnya, sudah hampir 3,5 tahun berjualan ditempat itu, dan omset harian yang diperolehnya juga lumayan besar rata-rata mencapai 500-600 ribu rupiah.
"Saya menunggu kepastian tempat itu dibuka kembali atau tidak, untuk sementara rombong juga belum dipindah," Katanya.
Baca Juga : Genjot Inovasi, Marketplace BUMDesa Tulungagung Dilaunching
Sama dengan Rijal, Wanita paruh baya ini juga berharap ada solusi terbaik baik dari Pemerintah maupun manajement toko modern, paling tidak kepastian waktu kapan diperbolehkan berjualan kembali.
Sementara itu, Yani, salah satu pemasok produk UMKM di toko modern berjaring mengaku mengalami penurunan omset hingga 40% dari ditutupnya 16 toko itu.
"16 toko yang ditutup salah satunya di Kecamatan Gondang, produk kita laris di sana," katanya.
Untuk produk yang dimasukkan, lanjutnya, merupakan produk dari UMKM yang ada di Tulungagung seperti kripik usus bebek, kripik pisang, aneka abon, untuk yuyu, dan kopi.
Sebagai koordinator UMKM, ia berharap pemerintah segera merespon masalah tersebut, paling tidak membantu menfasilitasi pemasaran dari produk-produk usaha mikro kecil di Tulungagung.
