Viral Sepekan di Tulungagung: Indahnya Kupu-kupu, Banjir di Gambiran, dan Teka-Teki Siswi SLTP Dihamili
Reporter
Anang Basso
Editor
Nurlayla Ratri
04 - Oct - 2020, 02:59
Dalam beberapa hari ini, sejumlah wilayah di Tulungagung diserbu ribuan kupu-kupu warna kuning. Jika melintasi sejumlah jalan pedesaan, misalnya di Kecamatan Sumbergempol dan Kalidawir, ribuan kupu-kupu kuning ini seperti daun kering yang tertiup angin.
Saking banyaknya, warga berusaha mengabadikannya dengan mengambil foto kupu-kupu itu. Namun, karena gesit dan terbang dengan kecepatan tinggi tak mudah mengambil foto yang baik dengan kamera handphone.
Baca Juga : Ribuan Kupu-Kupu Kuning Serbu Tulungagung, Pertanda Apa?
Kupu-kupu belerang atau kupu-kupu kuning adalah sebutan bagi sekelompok kupu berukuran kecil dari marga Eurema, anggota suku Pieridae.
Namanya diperoleh karena warnanya yang kuning terang, sedikit banyak menyerupai warna belerang. Sebutan umumnya dalam bahasa inggris adalah Grass Yellow.
Jenis-jenisnya menyebar luas di Asia, Afrika, Australia dan Oseania, hingga ke wilayah dunia baru. Spesies tipe marga ini adalah Eurema Daira.
Sejauh ini tercatat lebih dari 70 spesies yang tergabung dalam Eurema dengan lebih dari 300 nama sinonimnya. Bahkan, spesies seperti kupu-kupu belerang biasa E. hecabe, memiliki lebih dari 80 nama sinonim. Nama marganya sendiri bersinonim dengan lebih dari 15 nama. Salah satunya adalah akibat penyebaran geografisnya yang luas.
Di Tulungagung, musim kupu-kupu kuning sering dikaitkan sebagai awal musim bunga dan buah-buahan.
Sementara itu, hujan yang cukup deras di wilayah Tulungagung mengakibatkan banjir di dusun Gambiran Desa Besole Kecamatan Besuki, Sabtu (03/10/2020). Banjir yang tiap tahun terjadi itu seolah menjadi langganan.
Pengguna jalan harus hati-hati, pasalnya air bah yang datang dari pegunungan sekitar cukup licin.
Kepala Desa Besole mengatakan bahwa air yang meluap di jalanan merupakan aliran dari pegunungan Wonokoyo. Setiap musim hujan datang, sebelum sungai dibersihkan akan terlihat pemandangan yang sama yaitu banjir di jalanan Gambiran.
Kemudian, juga dikabarkan siswi kelas VII setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dikabarkan mengandung (hamil). Usut punya usut, dari pengakuan Bunga, pelaku yang telah melakukan perbuatan itu adalah orang dekat.
Baca Juga : G30S/PKI dan Hari Kesaktian Pancasila di Mata Para Pelaku Sejarah
Kepala desa tempat tinggal Bunga saat dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian itu. Menurut kepala desa, dirinya baru mengetahui ada warganya hamil pada Rabu (30/09/2020) pagi hari.
"Saya dilapori warga, kemudian saya datang dan telah ditunggu beberapa orang kerabatnya di sana. Mereka kemudian menceritakan bahwa anaknya hamil," kata pak Kades.
Karena menurut pengakuan Bunga pelaku yang telah membuatnya bunting adalah kerabat dekat, Kades berusaha mencoba penyelesaian dengan cara musyawarah untuk mendapatkan solusi. Namun, kerabat dan saudara dari ibu Bunga meminta agar masalah ini diselesaikan ke pihak berwajib.
"Saya antarkan untuk membuat laporan, berdasarkan permintaan dari pihak keluarga besar," ungkap pak Kades.
Mengingat Bunga yang masih di bawah umur, selama menjalani pemeriksaan pihak desa mendampingi bersama perwakilan keluarganya.
Sementara itu, saat media ini menghubungi kepala sekolah tempat Bunga menuntut ilmu dan mengirim pesan WhatsApp, belum mendapatkan respons.
Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung Ipda Retno Pujiarsih mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari yang bersangkutan. Namun, hingga saat ini kasus masih dalam tahap penyelidikan.
