32 Tahun Tekuni Bonsai, Pria asal Jombang ini Bagikan Rahasia
06 - Sep - 2020, 01:23
JOMBANGTIMES - Suyanto, warga Dusun Jambu, Desa Jabon, Kecamatan/Kabupaten Jombang sudah 32 tahun menekuni tanaman bonsai. Dengan ketekunan dan kecintaannya merawat tanaman kerdil itu, tak ayal tanamannya banyak yang ditawar hingga nilai ratusan juta rupiah.
Di halaman belakang rumah Suyanto, berbagai jenis tanaman bonsai terlihat terawat dengan baik. Bonsai merupakan tanaman kerdil atau yang dikerdilkan dan ditaruh di dalam pot. Bonsai koleksi Suyanto ini tergolong tidak sedikit, jumlahnya hingga ratusan pohon. Mulai dari serut, asam Jawa, kimeng, beringin hingga hokianti, dikerdilkan oleh pria usia 42 tahun itu dengan teknik khusus.
Baca Juga : Kopi Daun Kelor, Sensasi Baru Kopi Asli Produk Lumajang
Dari sekian ratus tanaman bonsai miliknya, ada satu tanaman yang cukup menyita pandangan. Yakni bonsai dari tanaman jenis beringin. Bonsai beringin milik Suyanto tersebut, terlihat sangat artistik. Akar pohon terlihat kokoh dan batang kayu yang telah dipenuhi daun hijau terlihat lebih rindang dan atraktif.
Bonsai yang satu ini ternyata sempat ditawar oleh rekan sesama pencinta bonsai. Tak tanggung-tanggung, bonsai miliknya ditawar Rp 50 juta. Bahkan ada yang sempat ditawar dengan ditukar dengan mobil.
"Ini ada satu sudah pernah ditawar Rp 50 juta paling tinggi, belum saya kasih. Kalau dilepas dengan harga Rp 100 juta. Karena usianya juga mencapai 15 tahun," ujarnya kepada wartawan saat ditemui di kediamannya, Sabtu (5/9).
Tanaman bonsai bernilai ratusan juta itu ternyata butuh sentuhan tangan dingin yang telaten. Pada kesempatan itu, pria yang memiliki usaha katering itu, mencoba membagi tips-tips untuk merawat dan menciptakan karya tanaman bonsai yang bisa bernilai tinggi.
Disampaikan olehnya, untuk menciptakan bonsai terbaik harus pandai-pandai memilih tanamannya. Tanaman yang dipilih haruslah memiliki karakter dasar kuat, subur, dan biasanya berdaun kecil.
"Selain itu, batangnya harus lentur agar mudah dibentuk. Setelah melihat tanaman yang cocok, kemudian potong batangnya. Atau bisa dengan menggali batang dan sebagian akarnya," tandasnya.
Setelah bakalan pohon untuk bonsai didapat, siapkan media tanamnya. Dalam penanaman ini, kesuburan tanah harus diperhatikan agar tanaman tidak stres dan akar mudah berkembang dengan baik.
Pohon yang telah ditanam tidak boleh diletakkan di tempat yang tertembus langsung sinar matahari maupun berpotensi tersiram air hujan. Karena, bisa merusak tanaman yang beranjak tumbuh. "Peletakan tanaman dilakukan sekitar 2-3 minggu untuk benar-benar dipastikan hidup," kata Suyanto.
Baca Juga : Keren, Brand Fashion Ini Buat Busana Peduli Kesehatan Mental Khusus Cowok
Setelah tertanam, ternyata masih membutuhkan waktu 3-8 bulan lagi untuk membentuknya menjadi bonsai. "Untuk pembentukan bonsai, saya hanya mengandalkan potong tunas. Juga menggunakan kawat khusus dengan ukuran agak besar agar tidak menyiksa tanaman. Untuk perawatan bonsai ini sebenarnya tidak terlalu sulit hanya butuh perawatan di pupuk dan media tanah harus sering-sering diganti satu tahun sekali," ucapnya.
Tips yang ia bagikan tersebut ternyata sudah ia pelajari sejak 32 tahun lalu. Suyanto mengaku mulai menggemari tanaman kerdil itu sejak ia duduk di bangku SMP atau pada tahun 1984 silam. Berangkat dari kegemarannya itu, Suyanto terus menekuninya hingga saat ini.
"Saya suka bikin bonsai sejak SMP. Awal mulanya mengikuti teman-temannya yang suka berburu tanaman. Dari situ, mulai mengenal beberapa jenis tanaman yang tepat," ungkapnya.
Saat ini, ia menyebut banyak pemula yang mencoba bermain bonsai. Terlebih lagi di masa pandemi covid-19 ini. Terlihat dari pelanggannya yang datang dari Jawa hingga Bali yang mayoritas masih pemula.
Untuk itu, ia kerap memberikan pesan bahwa merawat bonsai harus dilakukan dengan sabar dan teliti. "Intinya perajin bonsai harus sabar. Sebab, tanaman ini dinilai bukan dari besar atau kecilnya, melainkan bentuknya. Sehingga ada anggapan tanaman semakin tua, semakin mahal," pungkasnya.(*)
