JATIMTIMES - Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar menegaskan peran strategis pendidikan tinggi dalam pembangunan sumber daya manusia melalui pengukuhan guru besar dan penyampaian orasi ilmiah yang sarat gagasan kebijakan pendidikan. Prof Dr Suyitno MPd menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak akan pernah sepenuhnya menggantikan peran guru sebagai penjaga nilai, pembentuk karakter, dan pengelola kemanusiaan dalam pendidikan.
Pesan tersebut disampaikan Prof Suyitno dalam orasi ilmiah berjudul Profesionalisme Guru dalam Perspektif Manajemen Pendidikan: Strategi Transformasi dan Humanisasi di Era Disrupsi, yang disampaikan dalam sidang senat terbuka pengukuhan guru besar di Aula Terbuka Unisba Blitar, Sabtu, 24 Januari 2026.
Baca Juga : Tingkatkan Minat Baca, Disarpus Kota Kediri Hadirkan TransLiteria
Pengukuhan Prof. Suyitno sebagai profesor atau guru besar manajemen pendidikan didasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 43458/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen. Dalam keputusan tersebut, jabatan guru besar ditetapkan terhitung mulai 1 Oktober 2025 dan ditandatangani Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto pada 17 Oktober 2025 di Jakarta.

Amanah Keilmuan dan Tanggung Jawab Moral
Dalam orasinya, Prof Suyitno menegaskan bahwa jabatan guru besar bukan sekadar capaian akademik, melainkan amanah keilmuan dan tanggung jawab moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan bangsa.
“Pengukuhan sebagai guru besar bukanlah puncak perjalanan, melainkan titik tolak pengabdian yang lebih luas bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kemanusiaan,” ujar Suyitno di hadapan senat universitas, pimpinan perguruan tinggi, serta pejabat pemerintah daerah.
Ia menekankan bahwa dalam tradisi akademik, guru besar tidak hanya bertugas mengajar dan meneliti, tetapi juga menjaga nurani keilmuan dan menghadirkan kebijaksanaan di tengah perubahan zaman yang cepat.
Guru dan Tantangan Era Disrupsi
Menurut Suyitno, era disrupsi yang ditandai oleh perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan big data telah mengubah lanskap pendidikan global. Namun perubahan tersebut, kata dia, justru menempatkan profesi guru pada posisi yang semakin strategis.
“Pertanyaan mendasarnya bukan apakah guru akan tergantikan oleh teknologi, melainkan bagaimana guru menjadi semakin bermakna di tengah kemajuan teknologi,” tegasnya.
Ia menilai bahwa guru tidak boleh diposisikan sekadar sebagai pelaksana kurikulum atau pengelola administrasi pembelajaran. Dalam perspektif manajemen pendidikan, guru merupakan human capital strategis yang menentukan kualitas peradaban.
“Profesionalisme guru bukan sekadar kelengkapan administratif atau sertifikasi. Profesionalisme adalah integrasi antara kompetensi, karakter, dan kesadaran reflektif,” kata Suyitno.
Enam Dimensi Profesionalisme Guru
Suyitno menjelaskan bahwa selain empat kompetensi guru yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, pendidikan kontemporer menuntut dua dimensi tambahan yang tidak kalah penting.
“Dinamika pendidikan masa kini menuntut kompetensi psikologis dan kompetensi inovasi pembelajaran. Guru tidak hanya mengelola kelas, tetapi juga mengelola jiwa manusia,” ujarnya.
Kompetensi psikologis, menurut Suyitno, menjadi krusial karena guru berhadapan dengan peserta didik yang hidup dalam tekanan sosial, kecemasan digital, dan krisis makna. Sementara itu, inovasi pembelajaran tidak sekadar bermakna penggunaan teknologi, melainkan keberanian berpikir kreatif dan reflektif dalam merancang pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.

Tonggak Akademik Unisba Blitar
Baca Juga : Hadapi Tantangan Era Digital, Gus Qowim Tekankan Pentingnya Pendidikan Al-Qur’an Sejak Dini
Rektor Unisba Blitar, Dr. Soebiantoro, MSI, menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar pertama di Unisba Blitar merupakan tonggak penting dalam perjalanan institusi.
“Untuk pertama kalinya sejak Unisba Blitar berdiri, kita menyelenggarakan pengukuhan Guru Besar. Peristiwa ini menandai kematangan institusi dan kesungguhan Unisba Blitar dalam membangun tradisi akademik yang unggul, berkarakter, dan bermartabat,” kata Soebiantoro.
Ia menambahkan bahwa Guru Besar bukanlah sekadar gelar akademik tertinggi, melainkan amanah keilmuan yang harus diabdikan bagi kemaslahatan masyarakat.
“Ilmu adalah cahaya yang harus dijaga dan dihadirkan dalam penelitian yang jujur serta pengabdian yang memberi manfaat nyata bagi pembangunan daerah, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Sinergi Pendidikan dan Pembangunan Daerah
Pengukuhan Guru Besar dan orasi ilmiah ini juga mencerminkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan pendidikan. Acara tersebut dihadiri Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, perwakilan Pemkot Blitar, perwakilan Pemkab Blitar, serta pimpinan perguruan tinggi di Blitar Raya.
Soebiantoro menilai kolaborasi tersebut sebagai fondasi penting pembangunan sumber daya manusia. “Pendidikan adalah pondasi kemajuan bangsa. Kehadiran Guru Besar di Unisba Blitar merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkuat kualitas SDM Indonesia,” tegasnya.
Sejalan dengan visi Unisba Blitar sebagai entrepreneurial university yang berlandaskan nilai-nilai Islam, Guru Besar diharapkan menjadi penggerak inovasi, penentu arah keilmuan, dan penjaga integrasi nilai keislaman dan kebangsaan.
Pendidikan Tetap Manusiawi
Menutup orasinya, Prof. Suyitno menegaskan bahwa masa depan pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh cara bangsa ini memperlakukan guru hari ini.
“Guru profesional adalah penjaga nilai dan penentu arah peradaban. Teknologi dapat membantu pembelajaran, tetapi kemanusiaan dalam pendidikan hanya bisa dijaga oleh manusia,” ujarnya.
Melalui orasi ilmiah tersebut, Unisba Blitar menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga berpihak pada humanisasi pendidikan dan pembangunan manusia seutuhnya.
