JATIMTIMES - Allah SWT menciptakan dunia sebagai ruang ikhtiar, tempat manusia bergerak, berusaha, dan menjemput rezekinya. Sementara akhirat menjadi panggung pembalasan, tempat setiap jerih payah dihitung tanpa keliru. Islam sejak awal menempatkan keseimbangan antara ibadah dan usaha sebagai satu tarikan napas.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, ulama besar bergelar Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, meriwayatkan sebuah kisah reflektif tentang Nabi Isa Alaihissalam dan seorang ahli ibadah yang memilih menjauh dari kerja duniawi.
Baca Juga : Akhir Pekan Auto Baper! 3 Drama Korea Romantis-Komedi Terbaru Januari 2026 yang Wajib Ditonton
Suatu hari, Nabi Isa Alaihissalam berjumpa dengan seorang laki-laki asing. Sosok itu tampak tekun beribadah, namun asing dari denyut kehidupan sehari-hari. Nabi Isa pun bertanya dengan sederhana namun menusuk, “Apa pekerjaanmu?”
Laki-laki itu menjawab, “Aku hanya beribadah kepada Allah SWT saja.” Pertanyaan Nabi Isa belum berhenti. Dengan nada yang sama tenangnya, beliau kembali bertanya, “Siapa yang menanggung kebutuhan hidupmu sehari-hari?”. “Saudaraku,” jawab laki-laki itu singkat.
Mendengar jawaban tersebut, Nabi Isa Alaihissalam memberikan teguran yang tajam sekaligus mendidik. Beliau bersabda, “Saudaramu itu lebih banyak ibadahnya dalam menilai Allah SWT daripada apa yang sudah kamu lakukan.”
Kisah ini menjadi pengingat bahwa ibadah tidak berhenti pada sajadah. Usaha mencari nafkah halal, apalagi untuk menanggung orang lain, juga bernilai ibadah yang tinggi di sisi Allah SWT.
Pesan serupa ditegaskan Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya, “Janganlah karena terlambatnya waktu perolehan dan hasil yang sedikit dalam mencari rezeki itu menjadikan kalian tidak sabar hingga terdorong untuk melakukan usaha yang mudah dengan cara-cara haram yang terlarang. Sebab, ketentuan Allah SWT justru akan membawa pelakunya kepada dosa dan kehinaan atas diri sendiri. Di samping itu, tidak tersedia keberkahan dari sisi Allah SWT atas hasil yang didapat dengan cara-cara melanggar aturan yang telah ditetapkan-Nya.” (Diriwayatkan Imam Abu Ibnu Abu Al Dunya dan Imam Al Hakim dari hadits Ibnu Mas'ud RA).
Baca Juga : KKN Tematik UMM 2026, Kampung Budaya Polowijen Jadi Pusat Revitalisasi Budaya Digital
Rasulullah SAW bahkan memberikan perumpamaan yang sangat membumi. “Sesungguhnya seseorang yang mencari penghidupan dengan mengumpulkan kayu bakar, lalu menahannya di punggungnya untuk kemudian di jual di pasar, jauh lebih baik daripada mengemis kepada orang lain, baik diberi maupun tidak.” (Diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Nasihat senada juga datang dari Luqman Al Hakim. Ia berpesan kepada anak-anaknya, “Wahai anakku, hendaklah kamu merasa kaya dengan usaha yang halal atas kemiskinan yang tengah menderamu. Sejatinya kemiskinan akan menimpa tiga perkara, yaitu karena tipisnya keimanan atau lemahnya pengetahuan agama, disebabkan lemah akalnya, dan menjadi hilang bayangan diri karenanya.”
Sementara itu, Sayidina Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menutup pesan tentang kerja dan doa dengan kalimat yang lugas dan membangunkan kesadaran, “Janganlah kalian duduk berpangku tangan dari mencari rezeki yang halal, dan hanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki.’ Ketahuilah bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas maupun perak.”