JATIMTIMES – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan di Jakarta Selasa pagi, rupiah tercatat melemah 30 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp16.985 per dolar AS. Padahal, sebelumnya rupiah masih berada di level Rp16.955 per dolar AS.
Sejak awal pekan, pergerakan rupiah memang terus menunjukkan tren pelemahan. Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah sudah lebih dulu tertekan 17 poin atau 0,10 persen ke level Rp16.904 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.
Baca Juga : Live Penarikan Gebyar Undian Dua Puluh Dua Lima: Apresiasi Graha Bangunan untuk Pelanggan Setia
Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan. Rupiah tercatat melemah lebih dalam sebesar 68 poin atau 0,40 persen pada Senin sore, sehingga ditutup di level Rp16.955 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke posisi Rp16.935 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.880 per dolar AS.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta publik tidak panik dan menilai pelemahan tersebut bersifat sementara. "Rupiah kan akan tergantung pada fundamental ekonominya," kata Purbaya, Selasa (20/1/2026).
Purbaya menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat. Ia optimistis, seiring membaiknya kinerja ekonomi nasional, persepsi investor juga akan berangsur pulih. Hal itu diyakini akan mendorong masuknya kembali aliran modal asing ke tanah air.
Salah satu indikator yang menurutnya mencerminkan kepercayaan investor adalah kinerja pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sudah menembus level tertinggi sepanjang masa atau all time high.
"Kalau indeks naik ke situ pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? Nggak mungkin termasuk sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu," jelas Purbaya.
Ia menambahkan, penguatan rupiah tinggal menunggu waktu. Ketika suplai dolar ke dalam negeri meningkat seiring masuknya modal asing dan aktivitas ekonomi yang lebih bergairah, nilai tukar rupiah diyakini akan kembali menguat.
"Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga. Karena suplai dolar akan bertambah," ujarnya.
Dari sisi makro, Purbaya menyampaikan keyakinannya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2025, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sesuai target pemerintah, yakni 5,2 persen. Sementara untuk tahun ini, ia optimistis pertumbuhan bisa dipacu hingga 6 persen.
Optimisme tersebut didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pelonggaran likuiditas, perbaikan iklim investasi, hingga koordinasi erat dengan otoritas moneter.
Baca Juga : Kemenag Kota Malang Peringati Isra Mikraj, Momentum Penguatan Integritas dan Etos Kerja ASN
"Tahun ini 6% bisa. Karena ekonomi itu responnya cenderung agak lambat terhadap stimulus pulih berapa bulan. Kalau saya inject sekarang, ke sistem mungkin 4 bulan baru kelihatan," terangnya.
Purbaya juga menepis spekulasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan faktor non-ekonomi, termasuk isu terkait pengajuan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto ke DPR.
Menurutnya, kekhawatiran soal independensi Bank Indonesia tidak berdasar dan tidak akan memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. "Orang spekulasi dia independensinya hilang. Saya pikir nggak akan begitu," tegasnya.
Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat. Purbaya yakin, ketika pasar kembali menyadari kekuatan fundamental tersebut, rupiah akan bergerak ke arah yang lebih stabil dan menguat.
"Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah karena pondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat. Semakin cepat, semakin cepat," pungkas Purbaya.
Hingga berita ini diturunkan, nilai tukar rupiah masih menjadi trending dalam penelusuran Google. Banyak warganet yang mencaritahu soal hal ini.