free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Ketika Sholawat Terhenti, Hal Inilah yang Akan Terjadi 

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

18 - Jan - 2026, 11:43

Loading Placeholder
Ilustrasi rasulullah yang tidak mengenali umatnya (ist)

JATIMTIMES - Ada satu kisah sunyi namun mengguncang hati, yang mengingatkan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar klaim di lisan, melainkan amalan yang dirawat setiap hari. Hikmah ini dinukil dari Kitab Mukasyafatul Qulub Al-Muqarribu ila Hadhrati ‘Allamil Ghuyub fi Ilmit Tashawwuf karya Imam Al-Ghazali, sebuah karya tasawuf klasik yang kerap mengajak pembacanya bercermin ke dalam diri.

Dikisahkan, seorang hamba saleh yang selama hidupnya membiasakan diri membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Amalan itu ia jaga dengan istiqamah, hari demi hari. Buahnya bukan hal biasa: ia kerap dipertemukan dengan Rasulullah SAW dalam mimpinya. Setiap perjumpaan selalu terasa hangat, penuh kelembutan, dan menenangkan jiwa. Hingga suatu malam, suasana itu berubah total.

Baca Juga : Ribuan Siswa di Kota Batu Dipastikan Tak Bisa Daftar SNBP, Ini Sebabnya

Dalam tidurnya, ia kembali bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Namun kali ini, tidak ada senyum, tidak ada sapaan, bahkan tak ada pandangan. Rasulullah SAW tampak dingin dan seolah tak mengenalnya. Hatinya gemetar. Dengan perasaan yang berat, ia memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Engkau murka kepadaku?”

Rasulullah SAW menjawab dengan tenang bahwa tidak ada kemurkaan. Namun ketika ia bertanya mengapa dirinya tak disapa seperti biasanya, jawaban itu justru menghunjam lebih dalam. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa beliau tidak mengenalnya. Sang hamba terperanjat. Ia mengingatkan bahwa dirinya adalah bagian dari umat Nabi, sementara para ulama menyebut Rasulullah SAW mengenal umatnya bahkan melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya.

Penjelasan Rasulullah SAW kemudian membuka tabir yang selama ini luput disadari. Beliau menegaskan bahwa para ulama tidak keliru. Hanya saja, pengenalan Rasulullah SAW kepada umatnya sangat bergantung pada sejauh mana umat tersebut mengingat beliau melalui selawat. Ketika selawat ditinggalkan, ikatan itu pun melemah.

Ia terbangun dari tidurnya dengan dada sesak dan hati yang basah oleh penyesalan. Ia pun menyadari, berbulan-bulan terakhir dirinya lalai membaca selawat. Tanpa menunda, ia menata ulang komitmennya. Ia bertekad melazimkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 100 kali setiap hari, dan tekad itu benar-benar ia jalani.

Waktu berjalan. Hingga pada suatu malam, ia kembali dipertemukan dengan Rasulullah SAW dalam mimpinya. Kali ini suasana kembali hangat. Rasulullah SAW menyapanya dengan penuh kasih dan menyampaikan, “Sekarang aku mengenalimu, dan aku memberikan syafaatku untukmu.” Sebuah kalimat singkat, namun menjadi puncak kebahagiaan bagi seorang pecinta Nabi.

Baca Juga : Asfiksia Diduga Jadi Penyebab Kematian Cucu Henry Pribadi, Ini Penjelasan Lengkapnya

Kisah ini menegaskan satu hal penting: selawat bukan amalan kecil yang bisa dipinggirkan. Ia adalah tanda cinta, bukti rindu, sekaligus jembatan spiritual antara umat dan Rasulullah SAW. Bahkan, dalam sebuah hadis masyhur, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Selawat dan doa umatku diperlihatkan kepadaku setiap hari Jumat. Orang yang paling banyak berselawat kepadaku adalah yang paling dekat kedudukannya denganku.” (HR. Al-Baihaqi No. 5995)

Di tengah hidup yang serba cepat dan bising, kisah ini seperti alarm lembut: jangan biarkan nama Rasulullah SAW hanya hadir di momen-momen tertentu. Selawat adalah cara sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Ia menghidupkan cinta, menguatkan ikatan ruhani, dan siapa tahu, menjadi sebab kita dikenal dan disapa oleh Rasulullah SAW, meski hanya lewat mimpi.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---