JATIMTIMES - Nama Nicolas Maduro kembali mengguncang panggung politik dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapannya. Klaim tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak dan menempatkan Venezuela kembali di pusat ketegangan geopolitik global, khususnya terkait sikap Rusia dan China yang selama ini dikenal sebagai sekutu utama Maduro.
Isu ini mencuat di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Venezuela, yang dibungkus dengan operasi militer di kawasan Karibia dan sekitarnya dengan dalih memerangi jaringan narkotika internasional.
Baca Juga : Raja Gunung dan Tanah Leluhur Lumajang: Panembahan Purbaya di Pegunungan Tengger
Nicolas Maduro, Pewaris Politik Hugo Chávez
Nicolas Maduro Moros lahir di Caracas pada 23 November 1962. Ia bukan berasal dari kalangan elite politik atau militer. Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, Maduro dikenal sebagai sopir bus dan aktif sebagai serikat pekerja transportasi. Dari aktivitas inilah ia mulai tertarik pada gerakan kiri dan politik sosialis.
Karier politiknya mulai menanjak saat ia bergabung dengan gerakan yang dipimpin Hugo Chávez, tokoh revolusi Bolivarian yang kemudian menjadi Presiden Venezuela. Maduro dikenal sebagai loyalis Chávez dan dipercaya menduduki berbagai posisi penting, termasuk Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden.
Setelah Chávez wafat pada 2013, Maduro terpilih sebagai presiden dan menjadi penerus utama ideologi Sosialisme Abad ke-21 yang digaungkan pendahulunya.
Masa pemerintahan Maduro diwarnai krisis multidimensi. Venezuela mengalami hiperinflasi, kelangkaan bahan pokok, krisis kesehatan, hingga gelombang migrasi besar-besaran warganya ke luar negeri. Di sisi lain, Maduro tetap mempertahankan kekuasaan melalui pemilu yang kerap dipertanyakan legitimasinya oleh negara-negara Barat.
Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya menuduh Maduro menjalankan pemerintahan otoriter dan terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia. Washington bahkan menawarkan hadiah besar bagi informasi yang dapat mengarah pada penangkapannya, dengan tuduhan keterlibatan dalam jaringan narkoba internasional—tuduhan yang selalu dibantah Caracas.
Sejak awal kepemimpinannya, Maduro sangat mengandalkan Rusia dan China sebagai penopang utama pemerintahannya. Kedua negara tersebut memberikan dukungan dalam bentuk investasi energi, pinjaman, kerja sama militer, hingga perlindungan diplomatik di forum internasional.
Hubungan erat ini sebenarnya sudah terjalin sejak era Hugo Chávez. Rusia dan China melihat Venezuela sebagai mitra strategis di Amerika Latin sekaligus penyeimbang pengaruh Amerika Serikat di kawasan tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dukungan Moskow dan Beijing terlihat semakin berhati-hati.
Permintaan Bantuan Militer yang Tak Terpenuhi
Laporan media internasional menyebutkan bahwa pada akhir Oktober 2025, Maduro sempat meminta bantuan militer langsung kepada Rusia dan China. Permintaan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, menanggapi permintaan itu secara diplomatis. Ia menegaskan dukungan Rusia terhadap Venezuela, namun pada saat yang sama mendesak Washington agar menghindari eskalasi konflik.
“Kami mendukung Venezuela sebagaimana Venezuela mendukung kami,” ujar Ryabkov, sembari menyerukan penahanan diri semua pihak.
Baca Juga : Yai Mim Tantang Ketua MUI Kota Malang Gus Is soal Tuduhan Penistaan Al-Qur’an
Setelah insiden penyitaan kapal tanker minyak Venezuela oleh AS, Presiden Rusia Vladimir Putin juga dikabarkan melakukan komunikasi langsung dengan Maduro. Meski demikian, hingga kini belum ada bantuan militer atau materiil yang diberikan Moskow secara terbuka.
China mengambil pendekatan serupa. Beijing secara terbuka mengecam apa yang disebutnya sebagai “campur tangan eksternal” Amerika Serikat terhadap Venezuela. Namun, seperti Rusia, China tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun tangan secara militer.
Sikap ini mencerminkan perubahan strategi Beijing yang kini lebih berhati-hati dalam konflik terbuka, meski tetap menjaga hubungan politik dengan Caracas.
Rusia Kecam Tindakan AS
Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam keras tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan menyebutnya sebagai agresi bersenjata yang tidak dapat dibenarkan. Moskow menilai dalih yang digunakan AS tidak bisa diterima dan justru memperburuk stabilitas kawasan.
Rusia juga menegaskan pentingnya dialog dan menolak segala bentuk intervensi militer. “Kawasan Amerika Latin seharusnya tetap menjadi zona perdamaian. Venezuela berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan destruktif dari luar,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Klaim penangkapan Nicolas Maduro oleh Donald Trump menambah panjang daftar kontroversi yang menyelimuti pemimpin Venezuela tersebut. Meski dukungan Rusia dan China masih ada secara politik, minimnya langkah konkret menimbulkan tanda tanya besar mengenai masa depan Maduro di tengah tekanan internasional yang kian menguat.
Situasi ini menunjukkan bahwa Maduro kini berada di persimpangan sulit: mempertahankan kekuasaan di dalam negeri, sambil menghadapi realitas bahwa dukungan sekutu utamanya tidak lagi sekuat dahulu.