JATIMTIMES - Rasa takut terhadap azab Allah bisa begitu kuat hingga membuat seseorang mengambil keputusan di luar kebiasaan. Sebuah riwayat dalam Shahih Muslim menceritakan seorang lelaki dari masa lalu yang hidup tanpa dikenal dengan amal kebaikan. Namun, ketakutannya kepada siksa Allah justru menjadi jalan menuju pengampunan.
Rasulullah SAW satu ketika bersabda, “Ada seseorang (dari zaman silam) yang tidak pernah melakukan suatu kebajikan pun (semasa hidup) berpesan kepada keluarganya. Apabila dia sudah meninggal dunia, maka bakarlah (jasad) dia. Lalu, taburkanlah separuh darinya (abu jasad) di atas tanah, sedangkan sebagiannya (lagi) di atas lautan,” kata Rasulullah SAW membuka kisahnya.
Baca Juga : Pangeran Benawa: Pewaris Pajang di Pusaran Kudus, Demak, dan Mataram
Menjelang ajal, lelaki itu berpesan kepada keluarganya agar jasadnya dibakar setelah wafat. Abunya diminta untuk disebarkan separuh di darat dan separuh lagi di lautan.
Wasiat itu lahir dari rasa gentar yang mencekam hatinya. Ia khawatir bila Allah menguasainya kembali, maka ia akan disiksa dengan cara yang tak pernah ditimpakan kepada siapa pun.
“Karena demi Allah, jika Allah menangkapnya, pasti (Allah) akan menyiksanya dengan siksa yang tidak Dia timpakan kepada siapa pun (selain diri ini),” kata laki-laki tersebut.
Keluarganya pun melaksanakan pesan tersebut. Namun, dengan kehendak-Nya, Allah memerintahkan daratan dan lautan mengumpulkan kembali abu jasad lelaki itu. Ia lalu dipanggil menghadap Tuhannya.
Ketika ditanya alasan dari perbuatannya, lelaki itu menjawab: “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Jawaban sederhana, namun tulus itu menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosanya.
Kisah ini menunjukkan bahwa meski ia keliru mengira jasadnya tak akan dikumpulkan kembali, ketakutannya yang jujur justru membuka pintu rahmat Allah SWT.
Baca Juga : Amalan yang Bisa Dikerjakan pada Bulan Rabiul Awal agar Hidup Penuh Berkah
Ulama Umar Sulaiman al-Asyqar dalam Shahihul Qashash an-Nabawy menafsirkan kisah ini sebagai pelajaran besar. Takut kepada Allah adalah maqam kesalehan yang tinggi, yang lahir dari kesadaran mendalam bahwa Sang Pencipta berkuasa penuh atas nasib hamba-Nya.
Dari kisah ini, umat diingatkan untuk tidak mudah menghakimi. Bisa saja seseorang yang tampak penuh dosa justru mendapat ampunan karena hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah. Sebab, iman sejati terletak di dalam hati, bukan pada penampilan luar.