JATIMTIMES - Pemerintah Kota Blitar menancapkan langkah awal transformasi layanan kesehatan. Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, menempatkan pembenahan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mardi Waluyo sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan. Baginya, pelayanan kesehatan yang cepat, ramah, dan profesional adalah hak dasar warga yang tak boleh ditawar.
Pria yang akrab disapa Mas Ibin itu menegaskan bahwa wajah baru RSUD akan dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak. Ia menyebut, pengecatan ulang gedung utama bukan sekadar memperindah tampilan, melainkan simbol pembenahan menyeluruh. “Sedang kita ajukan penilaian angka kredit sekaligus merubah wajah depan RSUD dengan pengecatan,” ujarnya.
Baca Juga : Polisi Tangkap Kekasih Gelap Perempuan yang Tewas di Kos Kota Blitar, Dua Jam Setelah Kejadian
Langkah itu, kata Mas Ibin, adalah pintu masuk menuju reformasi pelayanan yang lebih substantif. Ia menekankan bahwa RSUD harus memperbaiki sisi teknis pelayanan yang bersentuhan langsung dengan pasien. Salah satu sorotan utama ialah kecepatan dan ketepatan pelayanan obat. “Kami akan memoles RSUD ya, mungkin dengan mengecat dan memulai evaluasi ketepatan serta kecepatan pemberian obat,” ungkapnya.
Di hadapan publik, Wali Kota menekankan bahwa orientasi perubahan bukan pada gedung, melainkan pada pasien dan keluarganya. Ia ingin setiap orang yang datang ke RSUD merasa dilayani dengan ramah dan profesional. “Kami ingin pelayanan berjalan dengan cepat dan ramah. Pasien dan keluarga pasien menjadi prioritas,” katanya menegaskan.
Dengan kalimat itu, Mas Ibin seolah memberi arah baru bagi tata kelola rumah sakit di bawah pemerintah kota. Ia menyadari bahwa kualitas layanan kesehatan tak bisa dilepaskan dari kualitas interaksi antara tenaga medis, manajemen, dan pasien. Oleh karena itu, Pemkot Blitar mendorong RSUD untuk menjaga standar pelayanan publik yang lebih baik.
Bukan hanya layanan medis yang diperhatikan, pemerintah kota juga membenahi manajemen rumah sakit. Mas Ibin menilai bahwa tata kelola yang transparan dan akuntabel akan memperkuat kinerja RSUD. Perbaikan pada aspek keuangan dan administrasi disebut penting agar rumah sakit dapat berdiri dengan kredibilitas yang terjaga. “Perbaikan tata kelola pelayanan dan tata kelola keuangan ini juga penting agar RSUD bisa lebih transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa transformasi yang diinginkan tidak berhenti pada layanan teknis, melainkan juga menyentuh fondasi birokrasi rumah sakit. Dengan manajemen yang rapi, pelayanan publik bisa bergerak lebih efisien dan mampu menjawab tuntutan zaman.
Baca Juga : Unisma Percepat Doktoralisasi Dosen, Siapkan Lompatan Menuju World Class University
Di tengah dinamika layanan kesehatan yang semakin kompleks, langkah awal ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Pemkot Blitar tidak ingin tinggal diam. Menurut Mas Ibin, apa yang sedang dilakukan merupakan awal perubahan signifikan yang akan terus dievaluasi. “Kita berharap ada perbaikan dalam pelayanan pemerintah, khususnya di bidang kesehatan, sehingga berjalan dengan cepat dan tepat,” tuturnya.
Bagi publik, langkah ini bisa dimaknai sebagai investasi sosial. RSUD bukan sekadar institusi medis, melainkan juga cermin sejauh mana pemerintah kota mampu menjawab kebutuhan dasar warganya. Saat rumah sakit berbenah, harapan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang manusiawi pun kian nyata.
Gerakan yang dipimpin Wali Kota Blitar ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak melulu soal infrastruktur fisik. Transformasi RSUD Mardi Waluyo menegaskan arah pembangunan yang lebih humanis: menempatkan manusia sebagai pusat pelayanan.