free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Salat Rabo Wekasan Dilakukan Kapan? Ini Penjelasan Lengkapnya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

19 - Aug - 2025, 16:41

Loading Placeholder
Ilustrasi Rabu Wekasan. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Salat Rabo Wekasan atau Rebo Wekasan menjadi amalan yang masih dikerjakan sebagian masyarakat pada Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini disebut-sebut berasal dari para sufi dan diyakini sebagai ikhtiar untuk terhindar dari bala.

Anjuran pelaksanaan salat Rebo Wekasan tercatat dalam kitab Kanz Al-Najah Wa Al-Surur karya Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki. Dalam kitab itu, sebagaimana dikutip Jurnal THEOLOGIA Vol 3 No 2 (2019) karya Umma Farida, amalan ini dikaitkan dengan keyakinan adanya turunnya bencana besar pada Rabu terakhir bulan Safar.

Baca Juga : Sampai Kapan Bendera Merah Putih Dikibarkan Usai 17 Agustus 2025? Ini Aturan Resminya

Disebutkan bahwa pada hari itu Allah SWT menurunkan 320 ribu bencana, sehingga dianggap sebagai salah satu waktu tersulit sepanjang tahun. Karena itu, sebagian masyarakat dianjurkan memperbanyak doa dan melakukan amalan khusus, termasuk salat Rebo Wekasan.

Kapan Waktu Pelaksanaan Salat Rebo Wekasan?

Salat Rebo Wekasan umumnya dilaksanakan pada malam Rabu terakhir bulan Safar, tepatnya setelah Maghrib. Ada pula yang mengerjakannya pada pagi hari Rabu.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, Rabu terakhir bulan Safar 1447 H jatuh pada 20 Agustus 2025.

Tata Cara Salat Rebo Wekasan

Mengutip penjelasan Syekh Abdul Hamid dalam Kanz al-Najah wa al-Surur, tata cara salat Rebo Wekasan adalah sebagai berikut:
• Dilaksanakan sebanyak empat rakaat.
• Niat salat sunnah mutlak.
• Setiap rakaat membaca Al-Fatihah, lalu Surah Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq 1 kali, dan An-Nas 1 kali.
• Dikerjakan sebagaimana salat sunnah pada umumnya dengan dua kali salam.
• Setelahnya ditutup dengan doa.

Bagaimana Hukumnya?

Meski populer di sebagian masyarakat, amalan salat Rebo Wekasan juga menuai banyak kritik. Para ulama menilai tidak ada dalil shahih yang mendasari ritual ini.

Hadis yang menyebut turunnya 320 ribu bencana dinilai lemah dan sumber yang dirujuk Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya disebut tidak jelas atau mahjul. Bahkan, terdapat hadis sahih yang justru menolak anggapan kesialan pada bulan Safar.

Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga : Harga Tomat Rp 1.000/Kg, Petani di Situbondo Merugi

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم

Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Safar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Syekh Abdul Hamid sendiri menegaskan salat Rebo Wekasan boleh dilakukan dengan niat salat sunnah mutlak. Namun, pendapat ini ditolak oleh KH Hasyim Asy’ari yang menilai hukumnya haram.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---