JATIMTIMES - Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pendidikan Pascasarjana memiliki peran vital dalam pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hal itu ia sampaikan saat hadir di Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan (ORDIK) Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB), Senin, (18/8/2025).
Menurut Hanif, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi mencetak lulusan, tetapi juga menjadi pusat literasi akademik yang berkontribusi langsung pada kebijakan negara. Pascasarjana, katanya, berada di garda terdepan dalam menghasilkan kajian ilmiah yang menjadi dasar pengambilan keputusan penting di bidang lingkungan.

“Banyak keputusan pemerintah, mulai dari persetujuan izin lingkungan hingga penindakan pelanggaran, bergantung pada hasil kajian akademisi. Menteri tidak bisa serta-merta menetapkan sanksi tanpa dasar ilmiah. Di sinilah Pascasarjana hadir, memberikan legitimasi akademik sekaligus solusi nyata bagi tantangan lingkungan,” ujar Hanif.
Baca Juga : Lomba Bayi Merangkak di SGE 2025, Pemkot Surabaya Kampanyekan Popok Kain
Hanif menambahkan, hampir seluruh kebijakan pemerintah di bidang lingkungan, baik yang diambil oleh menteri maupun yang dijalankan di daerah oleh gubernur, bupati, dan wali kota, selalu berlandaskan kajian ilmiah. Karena itu, lulusan Pascasarjana memiliki peran sangat penting dan nyata di lapangan.
“Mereka yang berada di Pascasarjana inilah yang membantu memastikan apakah suatu kegiatan atau proyek layak mendapatkan persetujuan lingkungan atau tidak. Bahkan, penelitian dari kampus kerap menjadi dasar ketika kementerian harus menangani dugaan pelanggaran lingkungan yang berimplikasi hukum, baik pidana maupun perdata. Tanpa dukungan otoritas ilmiah dari kalangan akademisi, seorang menteri tidak bisa begitu saja menetapkan sanksi,” tegas Hanif.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menjelaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di UB, termasuk melalui mahasiswa Pascasarjana, harus selalu berlandaskan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, dunia industri dan masyarakat modern membutuhkan keahlian yang tidak hanya canggih, tetapi juga ramah lingkungan.
“Seluruh pengembangan teknologi dan sumber daya manusia di UB harus berpijak pada kelestarian lingkungan. Semua pengetahuan dan teknologi harus kita arahkan ke arah hijau. Jika tidak dimulai sekarang, akan semakin sulit di masa depan. Karena itu, mahasiswa Pascasarjana memiliki peran penting untuk membawa energi, inovasi, dan konservasi berjalan seiring,” jelas Widodo.
Ia menambahkan, UB berkomitmen menjadikan Pascasarjana sebagai pusat pengembangan pengetahuan hijau yang mampu menjawab tantangan global sekaligus memperkuat komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan.
Baca Juga : Masuk Usia 30-an, Tubuh Cepat Lelah? Dokter Beberkan 3 Vitamin Wajib untuk Perempuan
Sementara itu, Wakil Rektor I UB, Prof. Dr. Imam Santoso, menuturkan bahwa kampus terus memperkuat program Pascasarjana dengan menghadirkan bidang-bidang baru yang relevan dengan isu lingkungan dan kebijakan publik. Mahasiswa Pascasarjana bahkan diwajibkan memahami aspek kelestarian lingkungan sejak awal perkuliahan melalui materi khusus yang telah disiapkan.
“Kami ingin setiap tesis dan disertasi mahasiswa tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan. Itulah sebabnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan harus ditanamkan sejak awal,” kata Imam.
Dengan dukungan tersebut, Pascasarjana UB diharapkan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan, sekaligus mempersiapkan Indonesia menuju era Emas 2045.