JATIMTIMES - Program Kampus Mengajar kembali mencetak kisah inspiratif. Kali ini datang dari Syahrul Putra Firmansyah, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), yang bersama empat rekannya sukses membawa pembaruan metode belajar di UPT SD Negeri Tulusrejo 4 Kota Malang.
Program Kampus Mengajar yang diluncurkan pada 2021 menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memulihkan semangat belajar siswa pascapandemi covid-19. Memasuki angkatan ke-8 pada tahun ajaran 2024/2025, inisiatif ini tidak hanya fokus pada literasi dan numerasi, tetapi juga integrasi teknologi dalam pembelajaran.
Baca Juga : Kampung Wisata Topeng Siap Berbenah, DPUPRPKP Kota Malang Sebut Lippo Group Turun Tangan
Bagi Syahrul, penempatan ini memiliki arti ganda. Selain menjalankan tugas Kampus Mengajar, ia juga mengikuti KKN Free From Unikama yang menggabungkan pengabdian masyarakat dengan sistem fleksibel.
“Ini kesempatan emas untuk menerapkan ilmu langsung sekaligus memberi dampak nyata,” ujar Syahrul.
Selama bertugas, tim Syahrul menghadirkan konsep fun learning atau pembelajaran menyenangkan. Metodenya unik, yakni memadukan permainan tradisional, eksplorasi lingkungan, dan teknologi.
Beberapa di antaranya adalah pembelajaran luar kelas menggunakan Machito (transportasi wisata Kota Malang) untuk mengenalkan sejarah kota, permainan ular tangga numerasi untuk siswa kelas tinggi, dan lompat kotak matematika untuk kelas rendah.
Tak hanya itu, mereka juga menggelar Festival Literasi-Numerasi sebagai puncak kegiatan, di mana siswa berkompetisi sambil memperebutkan hadiah dan piagam penghargaan.
“Kami ingin siswa paham bahwa belajar bukan sekadar menghafal, tapi juga bisa menyenangkan,” tegas Syahrul.
Sementara itu, Kepala UPT SD Negeri Tulusrejo 4, Enggar Sri Mawar SPd mengapresiasi inovasi ini. Menurutnya, program tersebut tidak hanya memperkuat kompetensi akademik siswa, tetapi juga membangun karakter positif.
Baca Juga : Mahasiswa KKN Unisba Blitar Dorong UMKM Kauman Naik Kelas Lewat Sertifikasi Halal dan Pemasaran Digital
“Mahasiswa Kampus Mengajar membawa angin segar. Beberapa metode seperti Kamis Literasi bahkan akan kami lanjutkan setelah program selesai,” kata Enggar.
Dengan berakhirnya era Kampus Mengajar, jejak yang ditinggalkan Syahrul dan tim menjadi modal penting bagi transformasi pendidikan dasar di Malang. Pendekatan pembelajaran berbasis permainan terbukti mampu mengubah suasana kelas yang kaku menjadi ruang belajar dinamis, interaktif, dan penuh eksplorasi.
“Kami berharap praktik baik ini terus hidup, meski program resmi telah berakhir,” pungkas Enggar.
Program ini membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa mampu menjadi motor perubahan di sekolah, sekaligus menjadikan proses belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa.