JATIMTIMES – Panggung itu tidak sekadar tempat untuk berakting. Di Alun-Alun Kanigoro malam itu, ia menjelma menjadi cermin peradaban.
Para pemimpin daerah turun dari singgasananya, menyarungkan jabatan, lalu berdiri sejajar dengan rakyat sebagai tokoh dalam lakon Dramasoka. Sebuah pertunjukan yang menggambarkan lebih dari sekadar cerita. Ia adalah manifesto pemerintahan yang membumi dan bertutur lewat seni.
Bupati Blitar Drs H Rijanto MM malam itu menjelma menjadi Resi Rijanto, sang guru bijak dalam kisah Pendekar Caping Gunung. Di seberangnya, para pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Blitar tampil sebagai pendekar, para murid yang berseteru di persimpangan nilai. Sebagian memilih meniti jalan kebenaran, sementara yang lain tersesat dalam godaan kekuasaan.
Pagelaran yang dikemas dalam format drama kolosal ini menjadi menu utama dalam resepsi peringatan Hari Jadi Ke-701 Blitar, yang sekaligus dirangkai dengan peringatan HUT Ke-80 Republik Indonesia. Mengusung konsep yang belum pernah dilakukan sebelumnya, kegiatan ini membungkus pesan sinergitas antarlembaga melalui medium budaya yang mampu menjangkau rasa dan logika masyarakat sekaligus.
“Kisah Dramasoka ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah tuntunan bagi siapa pun yang mengabdi,” ujar Bupati Rijanto dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa kisah Pendekar Caping Gunung menjadi alegori tentang pilihan hidup. Pendekar itu adalah muridnya, seorang ksatria yang memilih membela rakyat dan melawan para berandalan dari wilayah Mbrang Kidul. Ironisnya, para berandalan itu dulunya juga merupakan murid dari padepokan yang sama, namun mereka memilih jalan yang kelam.
“Hidup itu pilihan. Dan pilihan yang tepat adalah menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama,” lanjutnya.
Bagi para pejabat, tegas Bupati, jalan yang lurus adalah jalan amanah. Artinya, mengabdi dengan penuh tanggung jawab, bukan memperkaya diri.
Dalam atmosfer yang hangat dan menghibur, panggung Dramasoka juga menjadi ajang edukasi sosial. Masyarakat yang memadati Alun-Alun Kanigoro bukan hanya datang untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga menyerap nilai-nilai luhur dari pentas seni yang dikemas jenaka namun sarat makna.
Kehadiran pelawak kawakan Cak Percil sebagai narator sekaligus pemeran kunci memberi warna segar, menjembatani pesan pemerintahan dalam balutan seni rakyat.
Tak berlebihan bila malam itu disebut sebagai salah satu momentum terbaik dalam sejarah perayaan Hari Jadi Blitar. Bukan karena kemewahan acaranya, tapi karena keberanian para pemimpinnya untuk tampil apa adanya di depan rakyat dengan dialog yang menyentuh, lakon yang menyindir, dan semangat yang menyatukan.
Baca Juga : Tanggapi Isu Pasca Demo, Bupati Situbondo Tegaskan Komitmen Terhadap Keterbukaan dan Demokrasi
Menurut Rijanto, keberhasilan pertunjukan ini merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor. Semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI dan Polri, hingga para pelaku seni lokal, bersatu dalam visi yang sama. Tujuannya adalah menjadikan peringatan Hari Jadi Blitar sebagai wahana pembangunan karakter masyarakat. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua elemen yang telah bekerja keras menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
“Kita tidak sekadar memperingati usia. Tapi kita sedang menanam makna, membangun semangat gotong royong yang menjadi warisan luhur bangsa ini,” imbuhnya.
Acara malam itu ditutup dengan pagelaran wayang kulit “Narayana Madeg Ratu” oleh dalang muda berbakat Ki Anom Dwijo Kangko SSn. Lakon ini dipilih karena memuat pesan transformatif tentang kepemimpinan: bagaimana seorang raja ideal tidak lahir dari garis darah, tetapi dari kemampuan menegakkan nilai dan keadilan.
Rijanto berharap, nilai-nilai dalam lakon wayang ini dapat menjadi referensi moral dalam membangun Kabupaten Blitar ke depan. Sebuah wilayah yang tidak hanya digdaya secara fisik, tetapi juga luhur dalam perilaku. Ia menegaskan bahwa visi “Blitar Berdaya dan Berjaya” hanya akan menjadi jargon kosong apabila tidak dibarengi dengan keteladanan dari para pemimpinnya.
Kekuatan acara ini terletak pada kemampuannya menghapus sekat antara pemimpin dan rakyat. Dramasoka bukan sekadar hiburan, tapi bentuk komunikasi publik yang intim dan manusiawi. Dalam konteks pembangunan daerah, pendekatan berbasis budaya ini menjadi alternatif yang relevan dan kontekstual. Seni diposisikan sebagai medium untuk memperkuat kesadaran kolektif, menanamkan nilai, dan membangun narasi kebersamaan.
“Kabupaten Blitar tidak hanya dibangun dengan anggaran dan perencanaan, tetapi juga dengan semangat yang tumbuh dari hati masyarakatnya,” tutup Bupati Rijanto di tengah tepuk tangan yang membahana.
Dengan menghidupkan kembali tradisi lisan dan seni pertunjukan dalam format yang segar, Pemerintah Kabupaten Blitar berhasil menunjukkan bahwa membangun bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, membumi, dan menyentuh langsung akar budaya masyarakat.