JATIMTIMES – Di Balai Tuhu Miguna, Kelurahan Gedog, Selasa siang (5/8/2025), ruang berukuran sedang itu berubah menjadi laboratorium ide. Belasan pelaku UMKM duduk menyimak paparan dua narasumber muda. Di hadapan mereka, para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar tampil bukan sekadar pembelajar, melainkan penggerak.
Lewat program bertema “Pendampingan dan Edukasi Sertifikasi Halal Serta Branding Produk untuk Pemberdayaan UMKM Kelurahan Gedog”, Kelompok 09 KKN Unisba menunjukkan bagaimana perguruan tinggi bisa menjadi motor pembangunan akar rumput.
Baca Juga : Promo Merdeka Graha Bangunan: Belanja Rp3 Juta, Bawa Pulang Sembako Gratis
Kegiatan itu dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Kecamatan Sananwetan, Dewi Koornasari, S.E., mewakili Camat. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah terhadap UMKM, khususnya dalam proses sertifikasi halal dan penguatan branding produk.
“Kami di kecamatan siap memfasilitasi kebutuhan administratif para pelaku usaha. Dan kami sangat mengapresiasi keterlibatan aktif mahasiswa Unisba dalam upaya ini,” ujar Dewi.
Dukungan juga datang dari pemerintah kelurahan. Lurah Gedog, Suprabowo, S.IP., M.M., yang hadir penuh hingga akhir acara, menyebut kegiatan ini sejalan dengan semangat pembangunan lokal yang inklusif. Ia bahkan menyampaikan bahwa program taman kantin kelurahan yang tengah digagas akan memberi ruang tumbuh baru bagi UMKM setempat.
"Kami sedang menyiapkan taman kantin sebagai wadah usaha warga. Harapannya, UMKM bisa tampil lebih terorganisir dan punya tempat yang strategis untuk berkembang," ujar Suprabowo.
Sesi utama kegiatan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, edukasi digital branding oleh Yufi Priyo Sutanto, S.T., M.M., dosen sekaligus praktisi pemasaran digital. Ia menguraikan konsep personal dan product branding, serta memperkenalkan peserta pada teknologi mutakhir seperti AI Gemini VEO 3, yang memungkinkan pelaku usaha mendesain materi promosi secara otomatis dan praktis. Salah satu peserta mengaku terkesan dengan pendekatan digital yang ditawarkan.
"Baru kali ini saya tahu bahwa desain kemasan bisa dibuat semudah itu pakai AI. Ilmunya sangat aplikatif," katanya.
Dalam sesi ini, Yufi juga menyarankan agar UMKM fokus pada satu platform digital, memanfaatkan fitur gratis secara maksimal, serta memahami cara kerja algoritma untuk menjangkau pasar secara efektif. “Jangan buru-buru ingin eksis di semua platform. Lebih baik kuasai satu dulu secara mendalam,” ujarnya.
Ia menutup paparannya dengan panduan optimalisasi marketplace yang sederhana namun strategis, dan menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun kepercayaan.
Baca Juga : Viral Parkir Rp 20 Ribu di Masjid Ar-Rahman Blitar, Netizen: Nggak Umum
Sesi kedua dipandu oleh Agustina Widyasworo K. dari Halal Center Unisba Blitar. Ia mengupas tuntas tentang proses dan urgensi sertifikasi halal bagi pelaku usaha kecil. Dalam penjelasannya, Agustina menekankan bahwa kewajiban sertifikasi halal untuk produk konsumsi adalah amanat regulasi, namun UMK diberi kemudahan melalui mekanisme pernyataan pelaku usaha.
“Selama bahan dan proses produksinya sederhana serta bebas dari unsur haram, UMK bisa mendaftar secara mandiri dengan skema yang sangat mudah,” jelas Agustina. Ia juga menjelaskan program SEHATI, jalur sertifikasi halal yang disiapkan khusus bagi UMK dengan syarat tertentu, seperti memiliki NIB berisiko rendah dan proses produksi yang sederhana.

Antusiasme peserta meningkat setelah sesi ini. Beberapa di antara mereka bahkan langsung berkonsultasi dengan mahasiswa KKN untuk dibantu pengurusan dokumen awal. "Saya pikir ini akan rumit, tapi ternyata bisa didampingi langsung oleh adik-adik mahasiswa. Kami jadi lebih yakin untuk mengurus halal," ujar salah satu pelaku UMKM.
Sebagai penutup, mahasiswa KKN menyerahkan piagam penghargaan kepada Lurah Gedog sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan fasilitasi kegiatan. Dosen Pembimbing Lapangan, Salnan Irba Novaela Samur, S.Pt., M.Sc., menyampaikan bahwa program ini bukan titik akhir, melainkan awal dari sinergi kampus dengan masyarakat. Ia berharap mahasiswa membawa pulang pelajaran nyata dari lapangan, sementara warga mendapat manfaat berkelanjutan dari kehadiran akademisi.
Kegiatan ini menegaskan satu hal: pembangunan tidak selalu dimulai dari atas. Ketika kampus turun ke kelurahan, dan pemerintah setempat membuka diri, maka perubahan bisa dimulai dari meja kecil, dari diskusi yang sederhana, dan dari satu langkah konkret menuju pemberdayaan.