JATIMTIMES – Bahasa Madura halus, atau yang disebut dengan “basa engghi-bunten”, kini mulai memudar di kalangan Milenial Akhir. Padahal, bahasa ini menjadi simbol atau nilai kesantunan, tata krama, dan hierarki sosial dalam budaya Madura.
Seperti yang dijelaskan Abd. Hannan pengurus Taruna Budaya Kabupaten Sumenep. Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari, golongan milinial akhir kerap terbawa dengan suasana bahasa asing yang elok didengar.
Baca Juga : Scoopy Velocreativity Sampang: Inspirasi Gaya, Modifikasi, dan Kebersamaan Pecinta Skutik Fashion
“Apalagi lingkungan sosial dan pendidikan yang didominasi bahasa asing,” tuturnya, Rabu (30/07/2025).
Penyeimbangan penggunaan bahasa menjadi strategi guna mempetahankan identitas bahasa daerah, lanjut Hannan, seperti pengenalan kosa-kata bahasa Madura mejadi mata pelajaran wajib di tingkat SD di Madura.
“Jadi upaya itu sudah ada. Namun yang perlu dipecahkan adalah kurangnya penggunaan di lingkungan sosial, apalagi mereka (Red.anak-anak) sering dibenturkan dengan gaya bahasa yang beragam dan asing,” tambahnya.
Tak hanya itu, Hannan menceritakan salah satu buku yang menjadi pembelajaran saat ia duduk di bangku SD/MI. “Ada buku yang saya gunakan saat saya SD, bagi saya itu simpel, tapi kengkap dengan peribahasa dalam bahasa Madura,” tuturnya.
Baca Juga : Hadiri Disertasi Pajak Ketua KONI, Wali Kota Malang Beri Apresiasi
Metode pembelajaran bahasa seharusnya tidak hanya fokus pada teori atau hafalan, tetapi juga dengan metode praktik langsung.
“Sederhananya, membiasakan mereka menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, saat anak-anak berkomunikasi dengan orang tuanya,” tandasnya.