JATIMTIMES - Momen budaya unik bertajuk Sandjiwa (Sayembara Pandji, Jiwa Warisan Nusantara) digelar meriah di Museum Panji, Tumpang, Kabupaten Malang. Acara ini menyedot perhatian publik karena menghadirkan lomba permainan tradisional yang mulai langka dimainkan anak-anak zaman sekarang.
Ratusan siswa dari 12 SD/MI se-Kabupaten Malang bersaing dalam delapan cabang permainan lawas seperti egrang, bentengan, nakiak, congklak, bekel, lompat tinggi, tarik tambang, hingga engklek. Suasana penuh semangat dan tawa anak-anak mewarnai kompetisi budaya tersebut.
Baca Juga : Wali Kota Eri Harap Koperasi Kelurahan Merah Putih Penuhi Kebutuhan Pokok Tiap RT
Acara dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Purwoto yang mewakili bupati. Ia juga menyerahkan piala kehormatan kepada para pemenang sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
“Inisiasi seperti ini sangat penting. Anak-anak kita sudah terlalu akrab dengan gadget. Padahal permainan tradisional menyimpan nilai-nilai luhur dan filosofi kehidupan,” ujar Purwoto.
Festival Sandjiwa ini tak sekadar hiburan. Lebih dari itu, menjadi ajang edukasi budaya sekaligus wadah pembentukan karakter bagi generasi muda.
Jamroji, salah satu koordinator kegiatan, menyebut permainan tradisional sebagai 'harta karun terpendam' yang harus dihidupkan kembali.
“Selain melatih ketangkasan, permainan ini juga membentuk karakter dan kebersamaan. Kami harap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan berdampak luas,” ucapnya.
Dwi Cahyono, pemilik Museum Panji, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari misinya menghidupkan kembali semangat budaya di tengah masyarakat modern.
“Anak-anak sekarang lebih mengenal layar daripada lompatan engklek. Padahal, permainan tradisional itu sarat makna dan mengajarkan interaksi sosial yang penting,” ucapnya.
Sementara, ketua pelaksana acara, Welly Dwi Fahryan, menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme peserta. Menurut dia, semangat anak-anak yang mengikuti lomba menunjukkan bahwa budaya lokal masih punya tempat di hati generasi muda.
“Acara ini bukan hanya perlombaan, tapi ruang interaksi budaya yang menyenangkan. Harapan kami, pemerintah bisa mengembangkan ini jadi program rutin tingkat daerah,” ujarnya.