JATIMTIMES - Dalam kehidupan sehari-hari, godaan setan tidak selalu hadir dalam bentuk nyata. Namun, tipu muslihatnya begitu halus dan sistematis, menyasar langsung ke dalam hati dan akal manusia.
Salah satu strategi paling sering digunakan setan adalah menanamkan rasa takut pada orang-orang beriman, agar mereka menjauh dari ibadah, meninggalkan dakwah, dan akhirnya melemah dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai kebaikan.
Baca Juga : Beras Diduga Oplosan Ditemukan di Ritel Modern Kota Batu, Tim Gabungan Minta Penjualan Dihentikan
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat Ali 'Imran ayat 175 yang berbunyi: "Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman."
Para mufasir klasik seperti Imam Qatadah menjelaskan bahwa setan menumbuhkan rasa takut yang berlebihan dalam hati orang-orang beriman dengan membesarkan bayangan kekuatan para pengikutnya. Namun, Allah secara tegas memerintahkan umat Islam untuk tidak tunduk pada ketakutan palsu itu.
“Semakin kuat iman seseorang, maka semakin hilang rasa takutnya terhadap setan. Sebaliknya, jika imannya lemah, maka ia akan mudah dikendalikan oleh tipu daya setan,” demikian penjelasan dalam kitab Ighatsatul Lahfan.
Setan bukan sekadar sosok gaib dalam narasi spiritual, melainkan musuh nyata yang kehadirannya dijelaskan langsung dalam Al-Qur'an. Dalam surat Al-A’raf ayat 27, Allah memperingatkan agar manusia tidak tertipu sebagaimana Adam dan Hawa dahulu diperdaya hingga dikeluarkan dari surga.
"Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."
Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun manusia tidak dapat melihat setan secara fisik, setan justru bisa memantau manusia dan memengaruhi mereka dari kejauhan. Pengaruhnya begitu luas, termasuk menjauhkan umat Islam dari syariat dan bahkan memalingkan hati mereka dari nilai iman dan ihsan.
Setan bekerja dengan dua senjata utama: syubhat (kerancuan berpikir) dan syahwat (dorongan hawa nafsu). Dengan menyusupkan keraguan pada akal dan menjerumuskan hati ke dalam hawa nafsu, ia menyeret manusia secara perlahan namun pasti menuju kehancuran spiritual.
Orang yang ingin selamat dari jerat ini tidak cukup hanya menghindar, ia harus melawan dengan dua senjata balik: ilmu yang bermanfaat dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Ilmu akan melahirkan keyakinan dan menolak syubhat. Sementara tazkiyah akan menumbuhkan ketakwaan dan kesabaran untuk melawan syahwat.
Baca Juga : Gegodog 1676: Hari Saat Pangeran Purbaya Gugur dan Mataram Terkapar
Setan juga lihai membungkus maksiat dengan kemasan yang menggiurkan. Ia menjanjikan kesenangan, bahkan kepada orang fasik, seolah semua baik-baik saja. Namun, Allah sudah memperingatkan dalam surat Fathir ayat 6:
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."
Perlawanan terhadap godaan setan bukan sekadar perkara spiritual individual, tetapi jihad besar yang harus dilakukan terus-menerus oleh setiap orang beriman. Tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi perlu dibarengi dengan pengetahuan, ketekunan, dan keberanian untuk terus berdiri di jalan kebenaran meski banyak rintangan.
Godaan akan terus datang, dalam bentuk rasa takut, rasa malas, kesenangan sesaat, hingga bisikan agar menjauh dari dakwah dan ibadah. Namun, siapa pun yang mampu menaklukkan godaan itu, dengan izin Allah, akan menjadi pribadi yang kokoh dalam iman dan tidak mudah goyah oleh tipu daya musuh yang tak kasat mata.
Orang-orang yang berakal, yang senantiasa mengingat Allah dan menjaga hati dari tipu muslihat setan, akan mampu melihat bahwa “kenikmatan” yang dijanjikan setan sebenarnya hanyalah fatamorgana yang membawa kepada kehancuran.
Wallahu A’lam.