JATIMTIMES - Di tengah dinamika generasi digital yang makin kompleks, pendekatan baru dalam pendidikan karakter jadi kebutuhan mendesak. Hal inilah yang coba dijawab MTsN 2 Kota Malang saat menggelar kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) angkatan 48 hari kedua, belum lama ini di madrasah tersebut.
Dalam kegiatan yang bertajuk “Semai Sirama” (Sosialisasi Sembilan Nilai Moderasi Beragama), koridor depan koperasi sekolah yang biasanya sunyi, pagi itu berubah jadi ruang belajar kolaboratif, tanpa papan tulis, tanpa ceramah panjang, tapi penuh interaksi.
Baca Juga : UIN Maliki Malang Jadi Tuan Rumah PKDP 2025, Siap Gembleng Dosen Lebih Profesional
Alih-alih menjejali siswa baru dengan pidato-pidato formal, pihak sekolah memilih pendekatan yang tak biasa: lagu rakyat “Cublak-Cublak Suweng” yang liriknya diubah menjadi sembilan nilai moderasi beragama. Dibawakan oleh Dina Sabila dan Miftaqus Sholikah dengan gaya yang santai namun hidup, lagu ini sukses membuat ratusan siswa kelas VII ikut bersenandung. Beberapa bahkan terlihat menghafal gerakan tangan sederhana yang disisipkan dalam lagu.

"Anak-anak sekarang tidak bisa diajak duduk diam dua jam dan mendengarkan ceramah. Mereka perlu dilibatkan, dibuat bermain, dibuat berpikir," ujar Erna Dwi Kaeksi, guru IPA yang memandu sesi refleksi menggunakan alat sederhana: sebuah replika pohon besar dari kardus dan kertas warna-warni.
Pohon Refleksi menjadi medium yang menarik. Di sana, setiap siswa diajak memilih nilai yang paling dekat dengan kehidupannya: toleransi, kerja sama, cinta damai, dan lainnya. Bukan sekadar menempelkan stiker, mereka diminta menjelaskan pilihan itu kepada teman sekelompok. Beberapa kelompok bahkan menyusun presentasi mini dan menunjukkan versi digital pohon yang mereka kembangkan lewat ponsel.

“Ketika anak-anak memilih sendiri nilai yang mereka anggap penting, itu jauh lebih membekas daripada disuruh menghafal definisi,” kata Erna.
Tak ada hadiah, tak ada kompetisi. Tapi hampir semua siswa tetap antusias. Suara riuh sesekali terdengar saat satu kelompok maju dan memaparkan pilihan mereka. Di antara mereka, beberapa tampak gugup, namun tetap mencoba bicara. Di situlah pembelajaran karakter benar-benar terasa: bukan sekadar apa yang diajarkan, tapi bagaimana mereka melatih keberanian, empati, dan saling mendengarkan.
Hj. Raoudhoh Quds Shampton, Ketua DWP Kementerian Agama Kota Malang, hadir sebagai fasilitator. Meski ia menyampaikan sambutan, gaya penyampaiannya lebih menyerupai dialog terbuka ketimbang pidato resmi. Ia menyapa peserta dengan sebutan “Anak-anakku” dan bertanya balik soal pengalaman mereka menghadapi perbedaan di lingkungan sekitar.

"Islam itu luas dan tidak satu warna. Kita harus belajar hidup berdampingan tanpa merasa paling benar sendiri," ucapnya. Tidak ada kutipan ayat panjang. Justru yang muncul adalah ajakan sederhana untuk saling menghargai di ruang keluarga, lingkungan sekolah, hingga media sosial.
Baca Juga : Tak Sepakat Perolehan Medali Disebut Gagal, Ketua DPRD Kota Malang: Harus Diapresiasi
Ia menilai pendekatan semacam ini, berbasis permainan, lagu, dan interaksi lebih efektif untuk membentuk pemahaman yang tidak instan namun berakar. “Mereka bukan hanya tahu, tapi merasa dan mengalami. Itu yang kami harapkan,” ujarnya usai acara.
Matsama hari kedua ini mungkin hanya satu fragmen dalam awal tahun ajaran, tapi cara penyampaiannya memberi kesan berbeda. Tak ada jargon besar, tak ada seremoni berlebihan. Yang ada justru ruang untuk berdialog dan memahami bahwa hidup di tengah keberagaman itu bukan beban, melainkan bagian dari keseharian yang bisa dikelola asal tahu caranya.