JATIMTIMES - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kendalrejo, Kabupaten Trenggalek, hanya menerima satu siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026. Kondisi ini menjadi memicu keprihatinan anggota DPRD Jawa Timur (Jatim) Agus Cahyono.
Legislator asal Dapil Jatim IX yang meliputi Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Magetan, dan Ngawi itu mengungkapkan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Ia menyebut, terdapat sejumlah faktor yang membuat SDN 1 Kendalrejo sulit mendapatkan murid baru.
Baca Juga : Bersiap Jadi Pramuka Hebat, 557 Siswa Baru MAN 2 Kota Malang Ikuti OPENABA
Di Kendalrejo sendiri, terdapat tiga SDN dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berada jaraknya relatif berdekatan. Agus Cahyono menilai, ada fenomena berkurangnya minat orang tua menyekolahkan anaknya ke SDN.
Fenomena tersebut tidak lepas dari keberadaan MI yang lebih memiliki program unggulan. Tak ayal, MI menjadi daya tarik utama bagi orang tua untuk menyekolahkan buah hatinya, khususnya pada jenjang pendidikan dasar.
“Sekolah yang menawarkan program unggulan, seperti tahfidz Al-Qur’an, menjadi pilihan utama masyarakat. Ini terjadi di MI Kendalrejo yang memiliki program semacam itu,” ujar Waki Komisi A DPRD Jatim itu.
Selain itu, faktor lain yang menurutnya menyebabkan SDN 1 Kendalrejo sepi peminat adalah terkait jumlah usia anak SD di wilayah tersebut. Menurutnya, penurunan jumlah anak usia SD juga menjadi faktor pendukung rendahnya pendaftar di sekolah negeri.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kecenderungan masyarakat mulai meninggalkan SDN karena dinilai kurang menarik dibandingkan sekolah alternatif. Ia pun mendorong langkah konkrit berupa merger sekolah dan inovasi dalam pendidikan publik.
Agus Cah mendorong agar pemerintah daerah segera melakukan langkah strategis, salah satunya dengan menggabungkan SDN yang berdekatan secara geografis.
“Jarak antar sekolah hanya sekitar 200 meter. Merger sangat memungkinkan agar pengelolaan lebih efisien dan pembelajaran tetap berjalan optimal,” tegas politisi PKS itu.
Baca Juga : MATSAMA 2025: 1000 Karya Kreatif Sastra dan Grafis Siswa MAN 1 Kota Malang Dipamerkan
Namun, ia menegaskan bahwa solusi jangka panjang bukan hanya soal penggabungan. Ia mendesak adanya refleksi dan evaluasi atas penyelenggaraan pendidikan di sekolah negeri.
“Sekolah negeri perlu melakukan inovasi agar mampu bersaing dan menjawab ekspektasi masyarakat. Inovasi bisa dalam bentuk program unggulan, pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif, atau peningkatan kualitas guru,” tambahnya.
Fenomena kekurangan siswa ini, kata Agus, tidak hanya terjadi di Trenggalek. Di berbagai daerah lain di Jawa Timur, SDN menghadapi tantangan serupa akibat perubahan demografi serta meningkatnya minat terhadap sekolah berbasis keunggulan.
Agus berharap, melalui sinergi antara kebijakan merger dan dorongan inovasi, pendidikan dasar negeri tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
“Sekolah negeri harus bangkit dan menunjukkan kualitasnya. Pendidikan yang berkualitas dan terjangkau adalah hak semua anak Indonesia,” pungkasnya.